Sinopsis (Mungkin) Bermanfaat

Lydia Natalie

MASIH tentang sinopsis, mumpung sedang ramai topik mengenai sinopsis di suningsih.net. Saya membacanya dan berpikir: “Wah begini toh kalau para editor menulis?” Berat! Tapi, setelah membaca tulisan Mbak Sekar dan Mbak Yuni, saya jadi kepikiran juga sinopsis. Awalnya, ketika membaca tulisan Mbak Sekar, saya ikut mantuk-mantuk. Benar juga, kadang ada kalimat di sinopsis yang tidak tepat. Barangkali inginnya bikin orang tertarik baca, eh, malah bikin sesudah baca rasanya jadi hambar. Seperti kalimat pembuka sinopsis di novel Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Berikut kutipan: “Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran merupakan novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain”. Ini novel misteri, yang mau bikin pembacanya penasaran. Tapi, baru kalimat pertama sinopsis sudah bilang sebagai novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain. 

Dan juga komentar di bawahnya: “Saya belum pernah membaca buku seperti novel Mark Haddon yang begitu lucu dan jujur, atau bertemu pencerita yang lebih hidup dan mengesankan. Saya anjurkan Anda membeli dua eksemplar sekaligus. Anda takkan rela buku Anda hilang dipinjam orang lain.” Jujur saja, ketika membaca kalimat pertama sinopsis dan komentarnya saya jadi kecewa terhadap bukunya. Kesannya, sinopsis dan komentarnya berlebihan! Novelnya jadi terasa tidak terlalu istimewa. Ini seperti rahasia yang sudah dibocorkan sedikit oleh orang lain. Aduh, tidak seru! Sudah bukan rahasia lagi jadinya!

Tapi, ketika membaca tulisan Mbak Yuni, saya juga mantuk-mantuk, mengerti bila pada masa sekarang tidak semua orang punya waktu yang banyak untuk menggauli buku. Alih-alih, membaca sinopsis atau ulasan terlebih dahulu untuk mengambil keputusan: mau membaca buku itu atau tidak. Entah, sejak kapan orang mulai menuliskan sinopsis di belakang novel, saya tidak tahu. Tidak terbayangkan sebuah novel yang di belakangnya polos atau hanya gambar tanpa tulisan apapun. Sebab saya bukan penikmat novel waktu kecil, saya ragu, apakah saya akan membaca sebuah novel yang polos seperti itu: hanya gambar dan judul novel. Apalagi jika tidak ada orang yang merekomendasikannya. 

Masalahnya tidak sesimpel ada sinopsis atau tidak pakai sinopsis. Cara menulis sinopsis yang benar pun mungkin banyak orang yang memang tidak paham. Menurutku, masalah yang lebih penting adalah menumbuhkan kesukaan membaca, terutama anak-anak. Kalau yang sudah tua, mau bagaimana lagi? Rasanya sulit untuk mengubah selera mereka kecuali ada dorongan yang kuat dari dalam diri masing-masing.

Budaya sudah menyeret kita, baik orang tua maupun anak-anak. Dari yang dulunya cara orang berbicara adalah bercerita, kini menjadi bicara pendek-pendek. Lantas, apa usaha yang dilakukan sehingga anak gemar membaca kalau di sekolah disuguhi bacaan fakta-fakta saja? Belum lagi, anak-anak dijejali setiap kata yang tertulis itu untuk dihapal, hampir setiap hari. Bukankah menjadi wajar jika anak-anak jadi anti sama buku tebal? Belum membaca pun mereka sudah seram duluan. 

Kalau mau dipikir positifnya, sinopsis ditulis untuk mengundang orang agar tertarik membaca dan mau membeli buku. Masih lebih baik daripada polos tanpa sinopsis. Siapa yang mau membaca? Yang mau membaca mungkin orang-orang yang sudah terbiasa melahap buku dan punya waktu untuk didedikasikan terhadap buku. Saya jadi tersadar pola pikir utilitarian pun ternyata masuk ke cara kita membaca buku. Kita biasanya suka menanyakan apa manfaatnya? Mungkin sinopsis juga lahir bersamaan dengan pola pikir ini. Makanya, sinopsis ada untuk memperlihatkan manfaat.


Lydia Natalie, ibu momong anak dan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s