Tidak Ditanggung Sinopsis

Marhamah

“KAMU biasanya baca bagian belakang buku?” tanyaku pada anak gadis berusia 10 tahun. Gandrung buku, suka senyum-senyum, dan tertawa becanda dengan buku. Gadisku menolak diganggu kalau sedang asyik menyalin lagu dan puisi yang ada di buku ke buku catatannya. Bersungut-sungut ketika aku minta dia segera mandi. Jawaban untuk pertanyaanku adalah ya. Dia selalu membaca ringkasan di belakang buku. 

Alasan yang dikemukakan oleh Salma, rasa penasaran pada buku-buku lebih berbobot menariknya mengintip cerita di belakang buku. Dia tahu, buku belum waktunya dibaca, sebelum membaca buku-buku yang sesuai dengan kemampuan nalar dan kematangan emosinya. Dia menjelaskan, dia senang saat isi buku lebih “wow” dari ringkasan ceritanya. Dan, dia kecewa saat sinopsis lebih bagus dari isi buku sebenarnya. 

Sinopsis membangun persepsi. Ketika kulanjutkan untuk beranalogi, Salma memilih analogi sinopsis  seperti kue strawberry yang ada krimnya. Kalau krimnya ternyata tidak ada, ya, tidak apa-apa. Kue strawberry tetap enak untuk dimakan. Kadang-kadang krim di kue strawberry membuat eneg juga.

Pertanyaan-pertanyaan serupa aku ajukan pada anak-anak laki-laki yang sedang menjelang usia 14 tahun. Setelah sholat subuh, dia melakukan tugasnya membuka tirai jendela. Pertanyaan, apakah dia selalu membaca sinopsis. Dijawab sambil membelakangiku. Jawabannya, tidak selalu. Dia menganggap sinopsis tidak terlalu penting. 

“Sinopsis itu berfungsi seperti foto,” katanya. 

“Ketika orang mau pacaran, lewat media online, kenalan dari medsos, orang melihat foto. Foto itu bukan yang sebenarnya. Foto menampakkan wajah. Tapi, foto tidak memberikan gambar perilaku orang itu sebenarnya. Jadi, kalau mau melanjutkan hubungan perlu untuk memperhatikan perilaku-perilakunya,” jelasnya lebih panjang. 

Sinopsis adalah wajah yang ditaruh belakang, tidak selalu dihiraukan oleh remajaku. Membaca isi buku memberikan gambaran utuh dari maksud penulis menuliskan buku.

Sinopsis penting dan tidak penting, bagiku. Membaca sinopsis bertujuan untuk memastikan konten buku mengarah ke mana. Membaca sinopsis aku butuhkan untuk mengira-ngira buku dapat dikonsumsi anak ataukah orang dewasa. Orientasi membeli buku kebanyakan agar dapat dilahap anak-anak. Aku membeli dan membaca Stardust karya Neil Gaiman dan tidak membeli Sang Pemintal karya NG juga. Sinopsis mempengaruhi pilihanku membeli buku. Sinopsis di Memoars of Geisha yang kubaca cepat di sebuah pameran buku di kampus menyihir keputusan membeli buku. Padahal, waktu itu harganya tinggi bagi mahasiswa pas-pasan. Untunglah, pas ada pameran buku, pas beasiswa cair. 

Ada kasus di mana aku tidak mempedulikan sinopsis. Pertimbangan untuk membaca buku datang dari siapa yang menulis buku tersebut. Penulis mengambil ruang di hati. 

Berbincang sinopsis tidak menjadi prahara di keluarga kami. Sinopsis boleh ada, boleh tidak. Aku satu suara dengan remaja laki-lakiku. Keutuhan buku ditulis perlu dibaca berada di atas keperluan sinopsis itu sendiri. Tidak hendak berhenti di sinopsis, kemuliaan buku tidak ditanggung olehnya.  


Marhamah, ibu suka buku dirundung lagu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s