Saru di Depan Pintu

Peni Citrani Puspaning

“OJO mangan ngarep lawang, Mandaaaa!” seru ibu.

“Gak papalah, Mami, sudah kadung,” timpal Amanda.

“Iya, tapi itu saru! Apalagi kamu makannya nang cowek ngono kuwi. Jiyah! Siapa sih yang ngajari kamu makan di cowek?” tanya ibu.

Amanda begitu menikmati makanannya sehingga pertanyaan ibunya tak digubrisnya.

“Manda!”

“Gak ada, Mamiiiii. Asyik aja gitu makan di cowek sambil ngeruki sambel. Sambel bikinan Mami tuh paling yahud. Eh, Mami, kenapa gak coba bikin sambel banyak lalu dijual? Enak loh, pasti banyak yang beli,” kata Amanda.

“Kamu kalau diajak ngomong tuh gak usah nylimur ke yang lain,” balas ibu.

“Enggak, Mami. Aku tuh cuma memberi resume saja soal persambalan ini,”  seloroh Amanda.

“Hahahahaha….. resume jare,” tawa ibu Amanda.

“Hla, memang apa?” tanya Amanda.

“Bahasamu kuwi loh. Keminggris!” seru ibu.

Amanda nyengir menahan tawa sementara sambel ibu telah merasuk ke dalam mulutnya denga rasa pedas yang keterlauan nikmatnya.

* * *

Percakapan itu agak sengit. Kita membayangkan ibu dan anak sedang beradu kemauan dengan rentetan argumentasi yang masuk nalar, bisa saja ngawur-ngawuran. Makan ternyata bukan peristiwa yang menghasilkan enak dan kenyang saja. Di sana, ibu-ibu yang mewarisi pesan-pesan dari para leluhurnya masih memegangi berbagai macam peraturan tak tertulis. 

“Arek wedok iku ga apik maem piringan cowek opo maneh lungguhe nang ngarep lawang,” kata ibu.

“Emang, kenapa, Mami?” tanya Manda.

“Yo saru, gak etislah. Mosok makan lemekan cowek. Cowek itu dudu ajang gawe maem. Fungsinya buat ngulek bumbu-bumbu atau sambel,”  jawab ibu.

“Selain itu, ya gak elok kalau makan seperti itu. Coweknya jadi alih fungsi. Fungsikan wadah buat makan dengan sepatutnya itu juga akan memberi kesan baik dalam tata krama makan kecuali dalam kondisi darurat,” jelas ibu.

“Kondisi darurat?” tanya Manda.

“Ya, misalnya, kalau memang tak ada atau tak memiliki perangkat makan bisa pakai yang lain,” kata ibu.

“Oh, gitu,” kata Manda.

Amanda selesai menyantap habis makanan sambelannya kemudian mencuci dan meletakkannya ke rak piring.

* * *

Kita perhatikan beberapa hal dalam percakapan mereka. Di masyarakat Jawa, makan termasuk menentukan kehormatan. Makan haruslah dengan tata krama, janganlah semaunya. Percakapan yang sebenarnya membukakan nilai-nilai kejawaan yang berkaitan makan, raga, benda, peristiwa, dan banyak hal lainnya.

“Lalu, kenapa perempuan gak boleh makan di depan pintu?” tanya Amanda.

“Tak hanya perempuan, semua juga kalau makannya di depan pintu sementara fungsi pintu untuk jalan keluar-masuk, apa kira-kira gak akan mbuntoni orang yang lalu lalang?” tanya balik ibu.

“Iya, sih. Kita makannya juga terganggu pastinya. Lalu, sarunya di mana dong, Mami?”

“Saru jika dipandang tuh gak pantas. Mosok ayu-ayu maeme nang ngarep lawang. Marai gak payu rabi, Manda,” ibu menimpali sembari tersenyum.

Amanda ketawa ngakak. 

“Loh, yo iku, jare wong Jawa ngono kuwi. Gak pareng sembarangan yen nglakoni opo wae. Musti dilakoni sing pener,” terang ibu.

“Apa itu pener?” tanya Manda.

“Benar dan pada tempat atau fungsinya,” jawab ibu.

“Oh, jadi makan pake alas cowek dan di depan pintu ga apik. Saru! Karena tak pada tempat dan fungsinya.”

“Yo, cah ayu!”

* * *

Amanda manggut-manggut mendengarkan penjelasan ibu. Dia belajar tentang table manner siang ini. Bekal yang akan dibawa dan digunakannya kelak.

Memang kadang tanpa kita sadari hal-hal yang membuat kita asyik dan nyaman belum tentu sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Namun sering kita merasa bahwa ini sudah sesuai takaran kita, yang penting tak mengganggu keberadaan liyan. Padahal, sebetulnya tak hanya persoalan nyaman, asyik atau wis kadung, tapi persoalan tata krama yang menjadi bagian keelokan dalam laku keseharian meski hal-hal seperti itu tampak sepele.

Sebetulnya banyak tradisi yang ada sejak dulu masih relevan dengan kondisi saat ini. Apalagi menyangkut tata kelola diri. Tatkala kita mampu mengelola diri maka kita akan mampu mengelola di luar diri kita. Mengelola sehingga terjaga keseimbangannya dan membatasi apa-apa yang memang bukan hak kita. 

Peni Citrani Puspaning

Pembaca buku dan penulis asal-salan saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s