Itu Ilmu …

Bandung Mawardi

ILMU makanan, ilmu belum selesai sampai masa sekarang. Buku-buku bertema makanan selalu saja terbit. Para pembaca terus dibuat lapar. Sekian buku mulai pamer foto dan ilustrasi menawan. Siasat agar buku laku. Siasat menjadikan pembaca memiliki pengalaman imajinatif. Pemanjaan selera. Buku-buku ditulis para ahli, juru masak, ibu rumah tangga, pelancong, novelis, dan lain-lain. Buku-buku bertema makanan mungkin tetap terbit setiap saat, berhenti nanti bila kiamat.

Di Indonesia, buku-buku bertema makanan edisi lawasan perlahan berharga mahal. Buku-buku berisi resep atau penjelasan-pengisahan dilengkapi gambar-foto pada masa kolonial pastilah mahal. Buku-buku incaran kalangan sejarawan dan kolektor lawasan. Buku-buku itu mungkin berjumlah sedikit. Buku-buku berbahasa Belanda, Melajoe, dan Jawa. 

Puluhan atau ratusan buku bertema makanan terbit di Indonesia sejak awal abad XX. Sekian buku dianggap klasik atau langka. Kini, kita menuju buku tak perlu dianggap langka dan dihargai 200 ribu. Buku berjudul Ilmu Makanan disusun oleh Nj S Sukamto diterbitkan Jajasan Pembangunan, Jakarta, 1952. Buku tipis tapi merekam situasi dan sebaran ilmu pada masa lalu.

Di keluarga Bandung M, urusan makan jarang dipengaruhi buku. Selama masih remaja dan menjadi bapak, Bandung M belum tergesa memikirkan makanan dari buku-buku. Godaan itu muncul sekian tahun lalu. Ia perlahan membaca buku-buku bertema makanan dan menikmati rubrik-rubrik di majalah Selera. Majalah-majalah lain turut disantap: Femina, Sarinah, Kartini, dan lain-lain. Majalah-majalah untuk wanita dan keluarga memiliki halaman-halaman tentang makanan. Ilmu itu dipelajari tapi Bandung M terlalu sulit memiliki pengalaman baru dalam makan. Ia makin sulit dan takut dalam mengunjungi warung-warung makan sering menjadi cerita orang-orang. Bandung M tak berdompet, berlindung dari godaan jajan tercipta oleh cangkem-cangkem pelancong kuliner. Di keluarga, ia jarang banget mengajak istri dan anak-anak ngiras di warung. Oh, kebangeten!

Kita mengurusi buku lama saja. Dulu, buku itu dipelajari di sekolah, bisa juga di rumah. Keterangan penulis: “Kami mentjoba untuk memuat dalam karangan kami segala soal-soal jang mengenai makanan kami sehari-hari. Penjelidikan tentang makanan jang berfaedah selalu berdjalan terus, pemandangan dan pendapatan selalu timbul.” Buku dengan kesadaran bakal “tertinggal” gara-gara ilmu makanan bergerak cepat, berubah dengan lekas.

Di halaman-halaman buku, kita membaca informasi-informasi penting mungkin berdasarkan pembuktian. Di halaman 23, ada keterangan mengenai makanan berasal dari tumbuhan. Kita membaca secara gamblang: “Beras. Lebih dari pada 50% djumlah penduduk dunia memandang beras sebagai makanan jang terpenting (pokok). Beras mengandung 60-80% hidrat arang, 6-10% zat telur, 3% zat lemak, vitamin B, C. vitamin B terdapat di selaput beras.” Kita mungkin jarang berpikiran “ini-itu” dalam beras. Bandung M pun memilih menjauhi mumet memikirkan kandungan beras. Buku itu membantu.

Sekian hari lalu, keluarga Bandung M mendapat kebahagiaan. Teman dari Sragen dolan. Ia datang tak cuma raga. Ada dua plastik berisi beras. Oh, Bandung M belum perlu ke selepan membeli beras. Tandon sudah ada. Beras itu sulit menjadi obrolan. Kita kelamaan “terbodohkan” saat beras terlalu diurusi politik masa Orde Baru. Juni masih hujan, Bandung M berpikiran wajar saja. Di dapur, beras menjadi santapan setiap hari. Beras telah datang dengan kebaikan, belum perlu mengeluarkan uang.

Pada masa 1950-an, buku-buku bertema makanan dianggap penting diajarkan ke murid-murid dan disampaikan dalam perkumpulan ibu. Indonesia ingin sehat dan kuat. Makanan itu terpokok. Sekian buku diterbitkan secara sederhana. Harga pun terjangkau. Makanan menjadi tema dalam kerja birokrasi, rapat, poster, pidato, dan lain-lain. Pada masa berbeda, buku-buku bertema makanan ditata di toko buku membikin “lapar”. Buku-buku cenderung ingin “indah” dan menggiurkan, selain mengajukan ilmu. Begitu. 

Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s