Ibu yang Memanggil, Telur yang Nikmat

Lydia Natalie

KETIKA saya dulu masih kecil, setiap pagi ibu selalu berusaha menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah. Sebelum pukul 6, ibu sudah sibuk di dapur. Suara piring, gelas, dan peralatan masak mulai berdentangan. Tetapi, enggan rasanya untuk membuka mata. Rasanya ingin melanjutkan tidur saja. 

Rumahku dulu kecil. Kebetulan kamarku terletak persis di samping dapur. Jadi, setiap pagi pasti terdengar suara ibu di dapur. “Lalaaaa…. Bangun!” Disusul suara: “Rio, Mia, bangun!” Tak hanya sekali ibu memanggil-manggil untuk membangunkan kami. 

“Ayo, cepat bangun! Nanti terlambat!” 

Ya, sebenarnya kami dengar suara itu, tapi tampaknya kasur lebih nikmat. Oh, tak kuasa kami melawan kantuk. Bantal, guling, dan selimut semakin erat mendekapku. Kami tahu, pukul 7 sekolah sudah dimulai. Kami tidak boleh terlambat! Tapi, selalu ada alasan untuk menunda lima menit lagi, dan lima menit lagi.

Terkadang terdengar nada kesal ketika ibu berusaha membangunkan kami. Aku juga sebal sekali ketika bahuku ditepuk-tepuk dengan kencang atau digoyang-goyang ke sana-sini. Ah! Kalau sudah begini berarti aku harus bangun, tak ada lagi alasan. 

Tetapi, ada saatnya aroma masakan ibu pagi itu begitu menggoda. Meski mata masih tertutup, aroma itu perlahan-lahan terhirup masuk ke dalam hidungku: memberikan sebuah gambaran kenikmatan. Kuhirup lagi aromanya, sungguh tak tertahankan. Dengan terhuyung, aku segera bergegas pergi ke meja makan. Tampak nasi hangat dengan telur rebus yang diberi minyak bawang kesukaan kami. Air liur langsung menetes-netes. Semangkuk nasi dengan telur itu segera lenyap dari pandangan.

Sarapan yang disiapkan ibu sederhana saja. Menu telur sering jadi pilihan. Nasi dengan telur rebus minyak bawang, nasi dengan telur ceplok, nasi dengan telur dadar, nasi dengan telur tim utuh, atau nasi dengan telur tim kocok. Oh, satu lagi yang tak kalah nikmat yaitu nasi dengan telur kecap dengan bawang merah goreng. Selain itu, mi instan menjadi salah satu pilihan sarapan ibu. Setelah sarapan, kami bergiliran mandi dan segera pergi ke sekolah. Ibu bilang, sarapan itu penting. Supaya di sekolah kita bertenaga, bisa belajar dengan baik.

Telur sepertinya menjadi pilihan makanan yang praktis bernutrisi dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Telur bisa ditemukan ketika sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam.  Masyarakat dihimbau tentang kecukupan gizi, dan perlunya asupan protein yang cukup untuk tumbuh kembang optimal. Mungkin juga karena harga telur relatif lebih murah daripada daging, telur menjadi pilihan bagi masyrakat. 

Teringat lagu yang disusun oleh Soehadji pada saat masih menjabat sebagai Dirjen Peternakan, masa 1990-an. Lirik lagunya: Lor, telor, telor/ Telor kampung atau ayam negeri/ Reng, goreng, goreng, goreng, didadar atau di mata sapi/ Nak, enak, enak, enak, untuk makan setiap hari/ Membuat badan sehat kuat, pikiran penuh energi/ Ayam ayam ayam/ Ayam kampung apa ayam negeri/ Reng, goreng, goreng, disayur juga enak sekali/ Nyam nyam nyam nyam, nyaman kalau setiap hari/ Nak, enak, enak, enak, daging ayam penuh gizi/ Kotek, kotek, kotek, kotek, anak ayam berkotek/ Kuku kuku ruyuk, suara ayam jantanku/ Petok, petok, petok, suara induk ayam jantanku/ Petok, petok, petok, suara induk ayam, tak mau ketinggalan/ Itulah semua kemurahan Tuhan, nikmat untuk manusia. Lagu itu ditulis Soehadji sebagai upaya untuk kampanye ayam dan telur sebagai sumber protein hewani yang berkualitas, berisi ajakan untuk mengkonsumsi daging ayam dan telur setiap hari, agar badan kita sehat, pikiran penuh energi. Harganya juga terjangkau dan mudah didapat. Telur dianggap makanan yang sederhana. Siapa pun dapat membelinya.  Telur juga menjadi pilihan bagi orang yang mau makan bergizi tapi tidak perlu mahal. Telur hampir selalu disertakan ketika kita membeli nasi bungkus di warteg. Nasi rames telur bisa menjadi pilihan.

Walaupun telur disebut makanan sederhana, tapi makanan ternyata belum spesial tanpa telur. Jika kita pergi ke restoran dan ingin membeli nasi goreng biasanya ada berbagai jenis nasi goreng. Nasi goreng ayam, nasi goreng ikan asin, nasi goreng spesial, dan lain-lain. Ketika ditanyakan kepada pelayan, apa bedanya nasi goreng biasa dan spesial, ternyata yang spesial itu pakai telur. Telur juga salah satu menu di restoran cepat saji McD, yang dulu sering saya pesan berjudul “Panas Spesial”, yang merupakan kepanjangan dari Paket Nasi Spesial: berisikan satu bungkus nasi hangat, satu potong ayam goreng krispi dengan scramble egg. Tampaknya, telur menjadi tamu spesial pada makanan. Bahkan ayam goreng krispi pun dinilai masih belum spesial tanpa “scramble egg” atau biasa kita sebut telur orak-arik.

Teringat novel berjudul Tan gubahan Hendri Teja. Diceritakan tokoh Ibrahim yang dalam sejarah Indonesia dikenali sebagai Tan Malaka. Dulunya, nasi dan telur tetap menjadi makanan sederhana yang spesial bagi orang-orang di Hindia Belanda. Yang terkutip dari novel: “Tidak! Permasalahan terpelik adalah urusan makan. Uang sakuku tidak cukup untuk membeli makanan layak. Menyantap daging, ikan, dan minum yogurt adalah kemewahan. Mulanya, aku mencoba mengenyang-ngenyangkan diri dengan beberapa kerat roti keju. Celakanya, perutku adalah perut lelaki Hindia. Tak menyantap nasi sama artinya dengan belum makan apapun…. Satu-satunya hiburanku adalah ajakan sarapan dari Hendrik. Menunya roti panggang, telur mata sapi, dan daging cincang.” 

Telur sudah diceritakan sejak seratusan tahun yang lalu. Ibu juga bercerita telur selama puluhan tahun. Sekarang, kita yang mewarisi dan memanjangkan cerita telur. Posisinya sebagai ibu, yang berharapan dapat membelikan, mengolah, dan menyajikan telur sebagai makanan nikmat dan sehat untuk anak. Peran yang berganti, setelah rutin menikmati telur dalam biografi dalam keluarga dengan tokoh utama adalah ibu. 


Lydia Natalie, ibu momong anak dan buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s