Penceritaan dan Tanggapan

Yulia Loekito

“DENGAN berselimut sarung, Gogor membelok ke pekarangan rumah yang sedang mengadakan perhelatan. Wayang kulit dari dalang yang terkenal hebat akan menjadi tontonan yang bisa dinikmati sampai pagi.” 

Waktu mendengar beberapa baris pertama cerita pendek berjudul “Setiaki” dalam kumpulan cerita Merpati Putih (1981) karangan Darto Singo ini, Randu (9 tahun) dan Eda (7 tahun) terlihat kebingungan. Aduh! Benar, ya. Perhelatan wayang kulit, dalang, dan pertunjukan sampai pagi sama sekali tak dikenal oleh Randu dan Eda. Walaupun, Randu Eda sudah berkenalan dengan tokoh wayang di sekolah dan melalui komik wayang purwa buatan R.A. Kosasih. 

Kami berhenti membaca, Mamah ganti bercerita dulu tentang wayang kulit yang dulu suka ditontonnya di tengah kampung kalau ada orang punya hajatan, antara tahun 1980-1990. Mamah masih SD, tinggal di desa di Jawa Tengah. Pertunjukan wayang biasanya digelar sampai subuh. Tapi, Randu dan Eda masih penasaran, seperti apa wujudnya pertunjukannya. Baiklah! Cara instan digunakan, cari-cari di kanal Youtube. Ada beberapa contoh pertunjukan wayang. Kami nonton sebentar, bagian yang lucu, waktu ada punakawan. 

Pertunjukan wayang kulit yang ditonton anak-anak ternyata sangat menarik buat Randu Eda. Apalagi si Gogor diceritakan oleh Darto Singo memiliki tokoh pewayangan favorit, yaitu Setiaki yang digambarkan gagah berani melawan raksasa. Pertarungannya juga seru. Barangkali sama serunya waktu anak-anak zaman sekarang nonton superhero mengalahkan penjahat atau monster. Pada masa 1980-an, anak-anak masih dekat dengan budaya, hiburan maupun buku bacaan banyak menghadirkan kearifan lokal. Listrik dan televisi belum banyak tersedia. Kalaupun ada acara televisi tidak begitu ragam pilihannya. Lebih mudah menumbuhkan jati diri anak-anak di masa itu walaupun pengetahuan tentang dunia luar tidak tersedia sebanyak hari ini. 

Beberapa hari kemudian Randu minta, “Mah, cariin wayang kulit, Aku pengen lihat lagi. Aku senenge ndengerin itu.” Sedangkan Eda bilang, “Mah, Setiaki itu jagoan, ya?” Oh! Ternyata senang to. 

* * *

“Dan siang ini, waktu istirahat pertama tiba, Rustam dan Sandi serta beberapa teman yang lain sedang berkumpul di bawah pohon cempaka di samping kelasnya.”

Lagu berjudul “Burung Kutilang” sudah jarang terdengar di TK-TK di seputaran Jogja. Lebih sering terdengar lagu “Kupu-Kupu yang Lucu” atau “Fly, Fly, Fly, The Butterfly.” Kenapa, ya? Apa karena waktu tema binatang burung kutilang hampir tak pernah disinggung? Apa tema tanaman, pohon cempaka juga tak pernah diobrolkan. Misal dinyanyikan pun guru-guru kesulitan menunjukkan burung kutilang atau pohon cempaka pada anak-anak, Oh! Ke mana burung kutilang dan pohon cempaka? Anak-anak harus diajak berkunjung ke kebun binatang atau ke PASTY (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Jogja) yang dulunya disebut Pasar Ngasem di Ngasem. Anak-anak lebih tahu love bird dan tanaman hias gelombang cinta atau rondho bolong. 

Apa anak zaman dulu tahu lebih banyak pepohonan dan hewan? Ya, kita tidak tahu pasti. Tapi kalau kita baca di kumpulan cerita karya Darto Singo ini, di cerita berjudul “Rustam”, kita akan menemukan seperti kutipan di atas. Anak-anak SD yang ngumpul dan ngobrol di bawah pohon cempaka. Diandaikan anak-anak itu juga tahu bahwa pohon yang menaungi mereka itu adalah pohon cempaka. 

Jadi, lingkungan tempat hidupnya, anak-anak juga sedikit banyak pasti niteni bagaimana bentuk batangnya, bentuk daunnya, tabiat si pohon: kapan meranggas daunnya, kapan bersemi. Wah! Ketika belajar biologi dan membaca buku teks tentu si anak akan lebih paham karena punya pengalaman. Bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di antara pohon-pohon beton dan satwa-satwa buatan yang bisa menyala dan jalan pakai listrik tiba-tiba membaca buku teks tentang macam-macam hewan dan tanaman. Apakah bermakna? 

* * *

“Dimas mengepak-ngepakkan sayap burung betinanya. Merpati putih menukik di udara, lalu hinggap di punggung betinanya yang digenggam tangan Dimas. Dimas tersenyum ceria. Teman-teman bersorak meneriakkan kemenangan itu. Bambang tidak mengerti kenapa merpati hitamnya belum juga muncul. Ia curiga kenapa merpati putih Dimas bisa lebih cepat daripada merpatinya sendiri.”

Beberapa burung dara suka sliwar-sliwer di depan rumah. Randu dan Eda sangat suka menonton mereka terbang. Walah! Bukan cuma Randu dan Eda, bapaknya juga sangat gembira menonton burung-burung dara itu. Kalau sudah begitu, bapak pasti bercerita tentang burung-burung dara miliknya waktu masih bocah. Lebih dari sekali, bapak bercerita kepada Randu dan Eda kalau burung dara setia pada pasangannya. Tapi, kesetiaan itu suka dipermainkan dan dipergunakan untuk kesenangan manusia: lomba dan taruhan. Burung betina biasanya dipakai jadi umpan untuk memanggil yang jantan pulang atau untuk umpan waktu mereka adu cepat. Walau tak banyak, tapi sampai hari ini masih ada anak yang main pacuan burung dara. Sekelompok anak di Condong Catur, Jogja,  di antaranya. Mereka suka bercerita pengalaman memelihara dan bermain adu cepat  burung dara waktu datang untuk membaca buku bersamaku. Kebanyakan anak laki-laki. 

Pada 1981, Darto Singo menuliskannya dalam kumpulan cerita anak: Merpati Putih. Sekelompok anak laki-laki bermain adu cepat merpati. Bambang menantang Dimas adu cepat merpati mereka masing-masing, kalau merpati Bambang menang ia akan berikan untuk Dimas. Dimas tak bernafsu menurunkan merpatinya untuk adu cepat, ia menolak judi. Merpati untuk dipeliharanya, bukan untuk taruhan. Namun, Bambang terus memaksa didorong ingin pamer. Dimas setuju meski terpaksa. Dalam cerita ada kecerdikan sehingga Dimas menang dan Bambang sedih. Anak-anak diajari tidak bertaruh, berbesar hati, cerdik, dan sayang binatang lewat cerita pendek penuh intrik ala bocah. Bapak bisa tersenyum malu membaca sikap Dimas, juga tertawa gembira mengingat kesukaan masa kecilnya. Randu dan Eda senang mendengar ceritanya dan sekali-kali memohon ingin memelihara burung dara atau merpati. 


Yulia Loekito, kolektor buku anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s