Sinopsis, Langgenglah

Bandung Mawardi

PEMBERITAHUAN disampaikan Amal Hamzah (1948). Di jagat kesusastraan Indonesia, ia adalah penggubah sastra dan penerjemah. Amal Hamzah juga berperan sebagai penggerak publik menggandrungi sastra. Kita simak: “Kitab ketjil Buku dan Penulis ini tiada lain maksudnja daripada memperkenalkan penulis-penulis Indonesia kepada umum. Sungguhpun kalau dibandingkan dengan tigapuluh tahun jang lampau, tetapi menurut perasaan kami, minat ini mesti lebih dibesar-besarkan lagi, kalau kita ingin tjabang kebudajaan jang dinamakan kesusasteraan itu, tidak kerdil tumbuhnja.” Ia mempersembahkan buku, bermisi membesarkan sastra dan mengelak dari kerdil.

Pada masa lalu, Buku dan Penulis menjadi penuntun bagi kalangan terpelajar atau publik perlahan mengenali daftar penulis dan sekian gubahan sastra sudah diterbitkan, sejak masa 1920-an. Amal Hamzah menjadi pembaca dan pembuat ringkasan bacaan. Penafsiran dan penjelasan terbaca sebagai sikap pembaca. 

Amal Hamzah mengenal pengarang bernama Merari Siregar, tak lupa memberi ringkasan atau sinopsis. Merari Siregar tenar dengan roman berjudul Azab dan Sengsara (1920). Novel terus “dikenang” sampai masa sekarang, belum tentu terbaca. “Dikenang” berarti tertulis di buku sejarah sastra dan masuk dalam buku pelajaran sastra untuk teringat dalam mengerjakan soal-soal ujian. “Sekarang marilah kita ikuti dia bersama dengan tjeritanja,” kalimat mengajak dari Amal Hamzah agar pembaca memasuki ringkasan roman. Buku garapan Amal Hamzah mengesankan ringkasan atau sinopsis “mutlak” diperlukan bagi pembaca bila ingin mengenali penulis dan buku.

Pada masa lalu, kemauan menulis kritik sastra mula-mula dari memberi sikap pembaca setelah menunaikan “kewajiban” membuat sinopsis. Sikap cuma 2 atau 3 paragraf dan sinopsis bisa mencapai 10 paragraf. Pola itu berulang dalam tulisan-tulisan Amal Hamzah mengenalkan buku dan penulis di Indonesia, sejak masa 1920-an sampai 1940-an. Kita diminta bermufakat mengagumi: “Salah satu buku jang terindah dalam bahasa Indonesia ialah Salah Asuhan karangan Abdul Muis. Mesti kita akui bahwa Abdul Muis dalam roman ini menundjukkan keahliannja dalam memakai bahasa Indonesia. Insjaflah kita bahwa bahasa Indonesia dapat indah dan lembut, asal sadja jang memakainja itu bukan orang sembarangan.” Penilaian itu tak berkepanjangan gara-gara Amal Hamzah segera mengurusi sinopsis dimulai dengan kalimat: “Apakah jang mendjadi soal dalam kitab ini?”

Tahun demi tahun, Buku dan Penulis menjadi bacaan menuntun, selain orang-orang ingin serius menikmati sastra dengan mengikuti tulisan-tulisan HB Jassin dan A Teeuw. Buku mengenalkan kebiasaan membuat sinopsis. Para pembaca masa lalu makin mengerti keampuhan sinopsis setelah dibenarkan dalam pelajaran di sekolah dan universitas. Sastra pun bergerak dengan sinopsis-sinopsis. Sekian dalih diajukan kaum sinopsis: sulit mencari buku, memudahkan pemahaman dalam pelajaran, dan mempercepat pengenalan sastra Indonesia. 

Pada 1965, JS Badudu melanjutkan pementingan sinopsis dalam pengajaran sastra. Ia tampil dengan Buku dan Pengarang. Judul buku mirip persembahan Amal Hamzah. Buku buatan Badudu laris, terbukti sering cetak ulang. Pada 1986, buku itu cetak ulang ketujuh. Misi buku gamblang: “Buku ini harus dianggap sebagai penuntun bagi para pelajar, bagaimana mengambil intisari sebuah cerita sesudah kita membacanya, terutama belajar memahami persoalan-persoalan yang dikemukakan pengarang dalam bukunya itu.” Badudu menggunakan istilah “intisari”. Kita menuduh itu sama dengan sinopsis atau ringkasan. Buku tipis tak mungkin memuat ulasan-ulasan panjang atas 15 buku terpilih dalam mengenalkan gubahan sastra Indonesia, dari masa ke masa.

Pesan minta diamalkan dari Badudu: “Pembicaraan dalam buku ini dibuat secara populer agar mudah ditangkap isi dan maksudnya. Pengetahuan pelajar barulah lengkap bila mereka membaca sendiri buku-buku yang sudah dibicarakan, jangan hanya bersandar pada ringkasan cerita yang sudah ada di sini.” Peringatan agar murid-murid tak terjerumus menjadi kamus ringkasan. Mereka diminta terhindar dari pemujaan ringkasan atau sinopsis berpamrih memuliakan sastra Indonesia. Pesan sulit dibuktikan. Selama puluhan tahun, jutaan murid dan mahasiswa justru melanggengkan sinopsis atau ringkasan. Mereka sulit menjadi pembaca buku berjanji khatam. Badudu ingin menjadi pengajar “baik” tapi telanjur memanjakan orang-orang melulu ingin “ringkasan cerita”, belum ketulusan dan gairah menikmati buku-buku sastra di Indonesia.

Kita masih “dikutuk” sinopsis dan ringkasan oleh para dosen, guru, atau pengamat sastra menggarap buku-buku seperti Amal Hamzah dan Badudu. Pada 1992, terbit buku berjudul Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern disusun oleh Maman S Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian. Mereka melakukan pembacaan 100 buku, disuguhkan ke pembaca melalui ringkasan. Ulasan memang tercantum tapi sedikit atau cuilan saja. Daftar novel dimulai Azab dan Sengsara (Merari Siregar, 1920) berakhir Ladang Perminus (Ramadhan KH, 1990).

Misi tiga penulis: “Memberi gambaran ringkas tentang isi cerita sejumlah novel tertentu, baik yang hingga kini masih dicetak ulang, maupun yang sudah tidak diterbitkan lagi.” Kita makin paham bahwa ringkasan itu mutlak. Kutukan ringkasan atau filsafat untuk murid dan mahasiswa selalu digoda menikmati sastra dan mengenali para pengarang. Kita tak perlu geleng kepala. Kutukan terasa wajar. Masa demi masa, sastra = sinopsis. Kutukan untuk ratusan novel. Peringatan pun diberikan tapi terduga tak pernah digubris: “Sunggupuh demikian, perlu diperhatikan bahwa ringkasan novel ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai pengganti novel aslinya.” Buku garapan tiga orang itu laris. Kita mengerti nasib kaum sinopis belum tamat. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s