Demi Desa

Nurul Hikmah

SEPERTI sudah dari sono-nya, kalau apa saja wajib diadu dalam bentuk lomba. Barangkali memang negeri ini suka sekali beradu dan mengadu? Lihat saja, setiap tahun tak sepi dari perlombaan! Orang tak kehabisan ide mencipta lomba. 

Lomba tak asing dan masih lestari, memperebutkan desa terbaik. Salah satu lomba yang tetap lestari mengingat banyaknya desa di seantero Indonesia.

Kita mungkin terbiasa tertawa ketika membaca rubrik “Indonesiana” rutin disajikan dalam majalah Tempo. Mari bersama menelusuri salah satu “Indonesiana” di Tempo, 3 Mei 1986. 

Kita dilarang tertawa sebelum menghayati seluruh cerita. Diceritakan seorang tokoh bernama Mbok Paikem yang menangis tersedu-sedu setelah desanya Girimulya, di kaki Gunung Lawu, dinobatkan sebagai desa terbaik. Mbok Paikem terharu? Boro-boro menangis terharu bahagia. Mbok Paikem benar-benar sedih. Gubuk Mbok Paikem dirobohkan penduduk desa atas seruan kepala desa. Mengapa? Alasannya sungguh mengagungkan seni keindahan. Gubuk miring Mbok Paikem disebut merusak pemandangan. Inilah potret dari pemenang desa terbaik masa Orde Baru!

Mbok Paikem benar-benar sedih. Gubuk Mbok Paikem dirobohkan penduduk desa atas seruan kepala desa. Mengapa? Alasannya sungguh mengagungkan seni keindahan. Gubuk miring Mbok Paikem disebut merusak pemandangan. Inilah potret dari pemenangan desa terbaik masa Orde Baru!

Lha, nasib si Mbok Paikem, bagaimana? Terpaksa Mbok Paikem menumpang di rumah tetangga. Oh, ternyata, desa terbaik ini masih memiliki rasa peduli sesama. Ya, bagian ini bisa dijadikan teladan dari desa terbaik. Tentu bukan seorang tokoh kalau tidak bertubi-tubi mengalami kemalangan. Di satu sisi bersorak merayakan kemenangan. Tapi, di sisi lain, menangis sedu sedan. Desa terbaik harus mewakili lomba sampai tingkat provinsi. Ealah, Mbok Paikem dan tetangga harus lebih lama menunjukkan sisi peduli sesama dari desa terbaik ini. Artinya, ia lebih lama menginap di rumah tetangga hingga lomba selesai. Tak lupa, ada iming-iming dari pemenang desa terbaik ini, rumah si Mbok akan dibangun kembali.

Tak dijelaskan hadiah apa yang diterima desa terbaik. Tak dijelaskan juga, apa sebenarnya tujuan perlombaan desa terbaik. Apa sesungguhnya tujuan sebenar-benarnya? Namun, perlombaan desa terbaik ini berhasil menancapkan pola pikir harus menang pada penduduknya. Terbukti, cara apapun ditempuh demi mempertahankan takhta sebagai desa terbaik. 

Beda rasanya bila kita membaca puisi masa Orde Baru. Ada sebuah puisi berjudul “Desaku Membangun” dalam buku Surat dan Puisi Anak-anak untuk Pak Harto. Puisi ditulis oleh Zamroji, seorang siswa kelas tiga SMP. Ia menulis:

Warga desaku aman dan tentram

Bagai hidup di kota kecil

Mereka tak mau merantau ke kota

Mereka giat membangun desanya

Puisi mengingatkan kembali nasib Mbok Paikem. Ia tak punya pilihan ke kota. Tetap berada di desa meskipun sementara harus menginap di rumaah tetangga. Semua demi desa.

Berbicara tentang tujuan lomba desa terbaik, kita bisa mengambil inspirasi dari kutipan puisi tersebut: “Warga desaku aman dan tentram.” Apakah terlalu muluk-muluk untuk menambahkan indikator desa terbaik dengan membuat warganya merasa aman dan tentram?

Kembali ke masa kini, lomba-lomba sejenis masih meriah dan menggema seperti menghias gapura ketika perayaan 17-an, setiap tahun. Oh, menghayati semangat gotong-royong tentunya. Lalu, pemenang akan berfoto ria dan membagikannya di media sosial. 

Desaku menang, desaku terbaik. Lalu, selesai sudah. Bolehlah pamer di media sosial karena kita juga patut berbangga menjadi orang desa! 

Seorang teman membagikan video di media sosialnya. Video menunjukkan sejumlah warga di salah satu desa di Sleman tengah sibuk membantu proses renovasi rumah seorang warga. Mereka membersihkan rumah dan menyiapkan bahan material untuk proses renovasi. Sambatan. Pemilik rumah mengajak rembugan warga untuk membantu membongkar rumah sebelum renovasi. Selanjutnya, renovasi akan dibantu para ahli, tukang bangunan. Warga sukarela membongkar rumah dengan imbalan makan gorengan dan menyeruput teh panas. Nikmatnya gotong-royong. Sungguh pamer yang bikin iri! Mbok Paikem sudah pasti iri kalau mengetahuinya. 

Desa terbaik mungkin saja masih eksis di sana-sini. Barangkali kelak sebutannya berganti-ganti. Kalaupun tetap ada dan terjadi, bolehlah panitia lomba menyediakan piagam dan trofi khusus bagi yang berkorban dan terpaksa dikorbankan, seperti Mbok Paikem. Rasanya, Mbok Paikem layak mendapatkannya kala itu. Tapi, sekali lagi, alangkah baiknya tidak ada Mbok Paikem Mbok Paikem lainnya. 


Nurul Hikmah, Penulis kadang ragu dan sering malu

One thought on “Demi Desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s