Semrawut dan Kota yang Terjanjikan

Agita Yuri

SEORANG ibu marah-marah hampir setiap hari karena rumahnya tampak semrawut dan selalu berantakan, khususnya di ruang mainan milik anaknya. Anak yang diharapkan berpikiran dewasa dan penurut malah ganti mengamuk, mengatakan sudah lelah bermain hingga untuk membereskannya tiada lagi waktu dan tenaga. Kondisi tidak berubah. Yang marah atau dimarahi sama-sama belum menyadari poin utama permasalahan. 

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, semrawut diartikan kacau balau, acak-acakan, tidak teratur. Dalam kasus mainan semrawut di atas, kondisi semrawut menjadi penyebab ibu marah. Ibu yang marah menjadi penyebab anak ikut marah. Anak marah bukan karena mainannya semrawut. Jadi, bukankah semrawut itu subjektif karena hanya ibu yang merasakannya: dari mata turun ke hati. Semrawut yang tampak mata membuat ibu pada hari yang sibuk menambah kepenatan pikir: terasa sumpek dan ingin meluapkan rasa hatinya tersebut.

Mengapa anak tidak merasakan kesemrawutan sebagai sesuatu yang mengganggu? 

Masalah ini perlu didalami. Ibu kemudian membaca, merenung, dan mengamati. Kondisi mainan anak yang berantakan sehingga menjadi “neraka dunia” ternyata memiliki sebab-sebab: (1) tidak ada lemari khusus penyimpanan mainan; (2) tidak ada peraturan atau kesepakatan bagaimana menata mainan; (3) tidak ada pendidikan dalam keluarga untuk anak lebih peka pada sesuatu yang tidak pada tempatnya dan segera perlu dibereskan sehingga tidak mengganggu kenyamanan. 

Setelah menalaah penyebab semrawut satu per satu, ibu mengajak anaknya melihat dari kejauhan kondisi semrawut itu. Lalu bertanya, apakah anak nyaman melihatnya? Apakah anak mudah menemukan mainannya? Apakah kondisi tersebut membuatnya gembira? Terjadi diskusi panjang dan niat bersama untuk membereskan kekacauan. Singkat cerita, kini mainan telah dibereskan dan ditata. Mainan rusak dan tidak dapat digunakan lagi maka dibuang. Mainan masih bagus atau berfungsi bahkan bisa dialihfungsikan, tetap dipertahankan, dikategorikan, dan disimpan dalam wadah-wadah yang ada. Setiap wadah diberi label mainan sehingga untuk membereskannya akan lebih mudah. 

Anak pun diajak berdiskusi lagi, apakah ia lebih gembira. Anak berbinar-binar maka pembicaraan dilanjutkan bagaimana mempertahankan kondisi antisemrawut itu. Sampailah pada kesepakatan setiap hari mainan harus dibereskan. Jika tidak, maka mainan yang tidak beres akan disimpan sementara, diberikan ke anak lagi jika ia sudah melakukan kewajibannya. Hal itu untuk membiasakan saja hingga terbentuk kesadaran baru, sekaligus kepekaan pada sesuatu yang semrawut dan perlu segera dibenahi, demi kepentingan bersama. 

Saya kira cerita ibu, anak dan mainan di atas dapat menghantar saya menuju pemahaman yang lain. Pemahaman yang bersumber dari kutipan: “Anak-anak, merupakan generasi masa depan yang akan menjadi penghuni kota kini, maupun kota masa depan ketika sebagian besar desa di Indonesia akan menjadi kota. Kota, dengan kompleksitas permasalahannya, membutuhkan warga kota yang memahami serta berinteraksi secara baik dengan kota dan komunitasnya. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menyiapkan generasi baru yang memiliki kesadaran budaya berkota” (M. Syaom Barliana dan Dian Cahyani, Arsitektur, Urbanitas, dan Pendidikan Budaya Berkota, 2014).

Jika boleh dianalogikan, rumah dapat dianggap sebuah kota, orang tua dan anak sebagai subjek yang tinggal di kota baik pemerintah, swasta, komunitas, maupun perorangan. Mainan sebagai masalah sumber kesemrawutan sebuah kota. Di atas semuanya itu, pertama-tama yang diperlukan adalah kepekaan atas kesemrawutan, yang melahirkan kepedulian. Kemudian, mewujud pada tindakan nyata berbenah kota: bersama-sama. Inilah kesadaran budaya berkota.

Di dalam buku yang ditulis berdasarkan penelitian di 3 kota tersebut, dimuat cara-cara atau strategi untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak, bahkan sejak dini, melalui permainan atau aktivitas-aktivitas yang dapat dipandu orang dewasa. Saya kira ini sungguh pemikiran cemerlang jangka panjang ketimbang hanya berfokus pada masalah perkotaan saat ini, seperti yang diungkapkan majalah Tempo, 8 Maret 1986: “Tak satu pun kota di dunia sekarang yang lolos dari kesemrawutan. Di negara maju atau di negeri berkembang, tanpa terkecuali, kota telah berantakan akibat urbanisasi. Berduyunnya orang ke kota secara tiba-tiba, terutama sejak era industrialisasi, merupakan penyebab utama yang membuat kota tak siap menghadapi kenyataan.”

Hingga saat ini kesemrawutan masih menjadi wajah berbagai kota, tak terkecuali Yogyakarta. Ingin saja hati ini mengingat yang manis dan indah dari kota kelahiran saya ini, seperti terbungkus dalam lagu dan puisi. Terdengarlah suara KLA Project: “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…” Terbacalah penggalan puisi gubahah Joko Pinurbo: “Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.”

Tapi bagi selfie-zen (warga masyarakat yang hobi selfie dan menjunjung tinggi asas keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam foto) mungkin puisi dan lagu itu kurang pas. Sebab mungkin baginya, Yogya kini terbuat dari foto selfie dengan pemandangan Tugu Jogja, yang tampak gagah tanpa kabel-kabel semrawut. Dan mungkin baginya, pulang ke kotamu, ada setangkup daftar tempat baru yang memiliki spot-spot instagrammable yang patut diburu. 

Jujur saja kesemrawutan kabel di sekitar Tugu Jogja, yang dinilai orang-orang yang lebih paham itu tak sampai di pemikiran saya. Saya mungkin yang kurang peka. Saya baru sadar kalau itu semrawut dan sudah dibenahi, saat membaca berita tahun lalu dari berbagai sumber. Revitalisasi dilakukan dengan alasan membersihkan kawasan yang penuh dengan kabel-kabel melayang. Oh, ternyata memang ada pertimbangan khusus mengapa kabel-kabel itu kemudian ditanam di dalam tanah, yang akhirnya tidak mengganggu pandangan masyarakat serta menambah keindahan dalam foto sebagai kenangan. 

Saya bukan yang paling paham tapi mengalami sendiri bagaimana wajah kesemrawutan di kota ini. Saya tinggal di sebuah kampung, yang saat liburan khususnya, kemacetan hampir selalu terjadi di pusat bakpia, area tempat tinggal saya. Rumah saya berada di dalam gang kecil. Sering saya kesulitan untuk pergi atau pulang ke rumah karena jalanan sudah dijejali bus pariwisata, yang membawa pundi-pundi emas bagi produsen bakpia. Belum lagi pembangunan swalayan 24 jam yang sangat cepat pertumbuhannya itu. Di dekat rumah saya, ada 2 pasar tradisional, di seberang salah satu pasar ada swalayan. Sekitar 200 meter sebelah utara dari swalayan itu ada swalayan yang sama. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh pula bertumbuhan swalayan lainnya. 

Saya memang tidak tahu persisnya tentang pembuatan dan pemberlakuan peraturan pembangunan swalayan tersebut. Yang pasti hal tersebut sedikit banyak berimbas negatif terhadap usaha warung kecil milik ibu saya. Saya juga merasa sedih saat ada pembangunan hotel di sebelah timur rumah. Meskipun pembangunan itu banyak ditentang warga, namun hingga kini hotel itu tetap mentereng, tidak hancur salah satu temboknya akibat digempur warga yang kesal. Hotel itu telah menutup akses pancaran cahaya matahari yang berlimpah ke arah rumah, yang biasanya saya nikmati lewat jendela. Apa daya, hotel itu tinggi sekali tingkatnya dengan jendela-jendela kamarnya yang seolah terus menatap saya dan mengawasi gerak-gerik warga kampung di sekitarnya. Namun apa daya pula, sebagian warga merasakan syukur karena punya pekerjaan yang lumayan seperti menjadi tenaga keamanan atau bagian pelayanan tamu di situ. Bagaimana mau protes? 

Saya membayangkan kota ini mampu berdialog dan menjalin kemitraan berbagai pihak, yang maksudnya menjadikan kebahagiaan, bukannya membesarkan curiga dan menanggungkan kerugian-kerugian dalam banyak hal. Saya pun ingin memahami yang disampaikan oleh Nirwono Joga dalam buku berjudul Mewariskan Kota Layak Huni (2017): “Kota perlu menyediakan lebih banyak ruang publik yang merupakan milik bersama dan penggunaannya ditentukan secara bersama. Ruang publik menjadi sarana untuk menyemai tenggang rasa, toleransi, sarana interaksi antarwarga dalam bergotong-royong dan bermitra serta menghidupkan sisi keberadaban manusia. Pengembangan kota/ metropolitan perlu dikendalikan agar tumbuh sebagai tempat hidup yang sehat dan berkualitas. Semua pemangku kepentingan dari berbagai lapisan masyarakat dilibatkan dalam penentuan tata kota. Kota harus dikembalikan pada fungsi dasar sebagai permukiman yang memenuhi kualitas. Kemitraan pemerintah dengan warga mutlak diperlukan untuk membangun metropolitan di masa depan.”

Banyak kesemrawutan namun banyak pula pembenahan, banyak yang punya kepentingan. Namun saya hendak memandang dari sisi keluarga saja, sebagai unit terkecil dari masyarakat di rumah besar bernama kota: menindaklanjuti ide penanaman pendidikan budaya berkota. Disebutkan dalam buku bahwa sejak usia 3 tahun, anak-anak bisa diajak latihan untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat membangun kebersamaan, membangun masyarakat yang aman, sehat, berlanjut, dan bertanggung jawab secara sosial dan ekonomi. Sebenarnya, latihan paling sederhana bisa dilakukan dengan mengajak anak-anak kita mengenal lingkungan tempat tinggal. Misal, dengan berjalan kaki dan mengeksplorasi tentu anak-anak akan haus bertanya. Itu menjadi pintu masuk orang tua mengenalkan kota, secara fisik maupun sosialnya. 

Sebenarnya, latihan paling sederhana bisa dilakukan dengan mengajak anak-anak kita mengenal lingkungan tempat tinggal. Misal, dengan berjalan kaki dan mengeksplorasi tentu anak-anak akan haus bertanya. Itu menjadi pintu masuk orang tua mengenalkan kota, secara fisik maupun sosial.

Sebab menyadari betapa pentingnya penanaman pengetahuan tentang kota ini kepada anak-anak, sehingga terbitlah buku cerita bergambar yang ditulis oleh DK. Wardhani dan Watiek Ideo yang berjudul Kisah Kota Kita (2014). Buku berisi 10 cerita yang akan mengajak anak-anak mengenal dalamnya kota dan usaha menjaga keindahannya, kemauan untuk merawatnya. Tokoh-tokoh di dalam cerita tak hanya manusia, bahkan tiang listrik dan pohon juga dikisahkan bisa marah akibat perilaku manusia. 

Ada satu cerita yang mengingatkan saya atas kenangan masa kecil pada masa 1990-an. Cerita berjudul “Taman Cahaya”. Dulu di Jogja juga ada taman kota, terletak di seberang bangunan bioskop dan shopping centre yang kini menjadi area Taman Pintar. Taman kota itu sudah berganti menjadi taman parkir yang sibuk. Taman kota dulu menjadi tujuan piknik paling mudah, murah, dan dekat rumah, yang dipilih ibu untuk membawa ketiga anaknya sekadar mengusir lelah, meskipun kadang bau pipis atau sampah. Berkebalikan dalam buku, taman kota dalam cerita itu adalah taman yang “bersedih” karena anak-anak yang semakin besar tak lagi mengunjunginya. Pohon dan burung pipit merasa sepi karena anak-anak lebih sering bermain di rumah. Kemudian terjadi kegelapan di kota karena listrik yang padam. Burung pipit pun memanggil kawan-kawannya yaitu rombongan kunang-kunang sehingga membuat taman kota bercahaya. Anak-anak terkesima, keluar dari rumah membawa lilin, senter dan lampion bahkan kembang api. Taman kota menjadi ramai, bercahaya, dan membuat semua bergembira.

Jogja masih indah dalam kenangan saya, namun Jogja juga tak akan selamat dari segala bentuk kesemrawutan kota. Apakah Jogja akan tetap berhati nyaman dan dirindukan? Sambil merenungkannya, baiklah jika kita putar lagu berjudul “Kota” yang dinyanyikan Dere, yang populer sejak Oktober tahun lalu. Lagu sangat nyaman didengar dan menenangkan, berkisah tentang kenangan masa lalu dan membangkitkan kerinduan bagi siapa saja yang mendengarnya. Meskipun dalam liriknya tersirat kisah cinta dua sejoli namun melodi dan iramanya bisa membius siapa saja untuk turut memanggil kenangan yang lain hadir saat ini, terutama melodi di bagian lirik berikut ini: Udara mana kini yang kau hirup/ Hujan di mana kini yang kau peluk/ Di mana pun kau kini, hmm/ Rindu tentangmu tak pernah pergi.

Di kota ada kesemrawutan, ada masalah, ada tekanan dan ada keraguan, namun selama manusia hidup dan masyarakat masih bertahan, akan selalu ada harapan, sebab ada anak-anak kita yang menanti di masa depan. Sebaiknya, kita membaca yang terkandung dalam buku Aristektur yang Lain (2017), yang ditulis Avianti Armand: “Tak satu pun kota dapat bertahan terhadap kapitalisme. Setiap jengkal tanah di kota rawan dikuasai modal. Komodifikasi dari hampir segala hal membuat tata ruang menjadi tata uang–ruang sekadar menjadi instrumen untuk mengelola modal. Karena itu kita tak lagi heran ketika mal bertambah banyak, sementara taman kota berkurang drastis. Jaringan pasar swalayan meluas, sementara pasar tradisional menyusut terus jumlahnya. Permukiman menjelma menjadi toko-toko. Bangunan tua, yang memiliki nilai sejarah sekalipun, diruntuhkan dan diganti gedung-gedung baru bercorak modern untuk kantor sewa. Kekuatan modal merambah seperti virus. Sedikit demi sedikit, cepat atau lambat, kota-kota terinfeksi. Wajah mereka berubah, makin mirip satu sama lain. Seragam.”

Pada akhirnya, saya menyadari kesemrawutan tak kalah penting daripada kesemrawutan itu sendiri, entah itu kesemrawutan kecil di rumah atau di kota. Dengan menyadarinya, membuat kita ingin membenahi lingkungan kita yang buruk demi kebahagiaan bersama. Sebab, kita tetap ingin menjadi manusia yang tak kehilangan sisi kemanusiaan. 


Agita Yuri, Ibu momong anak dan mengurusi kliping

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s