Teriak dan Kutukan

Bandung Mawardi

DI atas amben, ibu dan anak sinau. Menit demi menit berlalu, suara keras mulai terdengar. Oh, ibu mbengokmbengok mengabarkan jengkel. Duh, bocah itu pun berteriak! Ia mungkin marah dan malu. Pagi itu teriak-teriak terdengar sebagai angka-angka. Ibu berulang meminta si bocah menghapalkan. Ibu mengajarkan beragam cara rumus: penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Bocah omong tak jelas mengesankan malas atau terpaksa sinau. Semua gara-gara matematika. Pagi itu berantakan. Kuping tak mendengar kata-kata lembut. Puisi sebagai kata-kata tentu minggat ke planet-planet.

Kejadian itu biasa berulang. Si bocah tetap saja sulit meningkat kemampuan dalam urusan angka-angka dan rumus-rumus. Ia memilih bermain: pasaran, boneka, bersepeda, atau menonton televisi. Terkutuklah matematika! Hari-hari menjadi buruk bila ada angka-angka di buku pelajaran dan tugas kiriman dari guru. Si bocah menderita. Ia ingin bahagia tapi dihancurkan oleh pelajaran sering angka. Pikat matematika belum termiliki. Si bocah kelas 3 ingin senang-senang saja. Lupakanlah matematika! Buanglah matematika!

Bapak memejamkan mata setiap mendengar ibu-anak berteriak akibat matematika. Ibu mengaku pintar matematika saat SMA. Sekian ingatan atas rumus dan jurus masih mujarab. Ibu mungkin ingin si bocah lekas paham tanpa plonga-plongo. Bocah tetap saja belum menggandrungi matematika. Ia mengerti sering menderita tapi diharuskan mengerjakan tugas-tugas. Bapak ingin berdoa tapi bingung memilih kata-kata agar Tuhan memberkati si bocah dengan rumus dan angka. Doa khusus belum terpelajari di buku-buku atau pengajian. Bapak ingin doa matematika. 

Dulu, bapak sempat pintar matematika, masa SD saja. Pada saat menjadi murid SMP dan SMA, ia masuk daftar “bodoh” matematika. Ia ingin mengajari si bocah tapi tahu diri telah “bodoh” sejak lama. Kini, bapak cuma mengerti bahwa matematika itu teriak, marah, jengkel, kecewa, benci, malu, menangis, sedih, dan ruwet. Bapak saja sering berlindung dari godaan matematika terkutuk. 

Di kamar, bapak mendengar lagu-lagu Naif dan Nidji. Ia bersenandung: “Dosakah aku…” Pada menit berbeda, ia mendengar lagu-lagu Naif sambil cengar-cengir. Di hadapan, buku lawas terbeli di Gladag, Solo. Buku dengan gambar sederhana di kulit muka. Dua bocah berjalan. Lihatlah, mereka berseragam, bersepatu, membawa tas, dan menaruh peci di kepala. Dua murid ingin budiman. Judul buku: Langkah Pertama Bagi Berhitung Angka-Angka. Buku dipelajari di Sekolah Rakjat. Buku disusun oleh Reksosiswojo dan Chatar. Buku terbit masa 1950-an.

Keterangan: “Sungguhpun pada tiga tahun permulaan di SR tidak diadjarkan peladjaran berhitung angka-angka dalam arti jang sebenar-benarnja, penjusun buku ini maklum bahwa untuk kelas I, II dan II tersebut seharusnja disusun buku berhitung angka-angka jang disesuaikan dengan sifat berhitung angka-angka jang telah ada untuk kelas IV, V dan VI.” Oh, berhitung penting dalam menjadikan murid-murid pintar. Di Indonesia, murid bodoh berhitung bisa dituduh merusak revolusi. Indonesia ingin terhormat. Kaum bodoh matematika mengakibatkan Indonesia bisa ditipu negara-negara asing. Wah, berhitung demi kemuliaan tanah air! 

Para penulis tak lupa berpesan: “Di daerah jang belum mendapat peladjaran bahasa Indonesia di kelas I dan II, kata-kata jang terdapat dalam buku ini, jang hanja sedikit djumlahnja itu, hendaknja diterdjemahkan dahulu kepada bahasa daerah oleh guru.” Sejak halaman 3 sampai 75, angka dan angka dan angka. Waduh! Mampuslah bocah-bocah tak suka matematika! Buku bukan bacaan menjelang tidur. Bocah mustahil bermimpi indah bila nekat membaca selusin halaman buku berjudul Langkah Pertama Bagi Berhitung Angka-Angka.

Pada masa lalu, buku telah mengutuk. Bapak berganti mendengar lagu-lagu Dewa 19. Ia bersenandung: “Haruskah kuulangi lagi…” Lagu pernah terasakan sedih. Kini, lagu tambah sedih bila mengetahui matematika lestari memberi derita. Begitu.    


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s