Ibu Bersaksi: Pintu dan Jendela

Anggrahenny Putri

BRAK!

Suara pintu dibanting. Kakak beradik sedang berkelahi. Salah satunya membanting pintu untuk menumpahkan kekesalannya. Entah, sudah beberapa kali pintu dibanting tiap mereka berdebat yang berujung perkelahian. Salah satunya saking kesalnya, masuk ke kamar sambil membanting pintu: menenangkan diri atau malah menangis. Akibatnya, pintu yang seharusnya pendiam kini telah mampu bersuara setiap ditutup atau dibuka. Jalannya pun tersendat-sendat perlu dorongan agar bisa berfungsi sebagai pintu. Engselnya longgar, perlu diperbaiki.

Rumah ini telah kami tempati belasan tahun lamanya. Semua pintu kamar tidur, kamar mandi, pintu pagar, dan pintu rumah pandai bersuara. Mereka semua memiliki suara khasnya masing-masing. Mulai dari pintu pagar bersuara besi yang berguncang. Tetangga depan rumah kami, pintu pagarnya juga berbunyi namun kami tak pernah salah menebak pintu pagar siapa yang kedatangan tamu. Masuk pada pintu rumah, suaranya paling sopan. Berbunyi pada umumnya tapi daun pintunya mulai menua. Percobaan menutup dan membuka tak bisa dilakukan sekali. 

Kamar tidur anak-anak dan kamar utama pasti berbunyi: “krak”. Sebab, sebagian bahan baku pintunya terbuat dari triplek yang kini sedikit mengelupas akibat kucing kami yang sering sekali mencakar-cakarkan kukunya pada pintu. Selain itu, engselnya juga longgar akibat dibanting. Lagi-lagi, anak-anakku selalu tahu tiap ayah atau ibunya keluar kamar, bergegas berpura-pura tidur hanya dari suara pintu dibuka. Walau terbuat dari bahan yang sama tapi menghasilkan suara berbeda-beda. 

Beralih ke pintu paling belakang: pintu yang paling menyebalkan. Bahan kayunya dari jati, lebih berat dan tebal. Perlu kekuatan untuk menutupnya. Apalagi saat memasuki musim penghujan, kayunya memuai menyebabkan makin macetlah pintu dan suaranya paling keras: “gubrak”. Pintu kamar mandi kami satu-satunya pintu yang tidak terbuat dari kayu. Pintunya dari plastik, tak perlu lama sampai daun pintunya rusak dan tak bisa dikunci. Kami penghuninya tak perlu khawatir karena asal pintu tertutup sudah menjadi tanda bahwa kamar mandi tengah digunakan. Penghuni ini tak pernah salah menilai pintu, sudah menjadi kebiasaan. Telinga terbiasa mendengar pintu bersuara. Suara yang membuat perasaan asing, tak kerasan dan merindu jika berada jauh di tempat lain. Suara pintu-pintu itulah yang membuat penghuninya menyebut bangunannya adalah rumah. Tempat mereka pulang.

* * *

Lanjut, teringatlah dengan cerita dari Jepang. Totto-chan sudah dikeluarkan dari sekolahnya saat baru kelas satu SD. Ibunya dipanggil ke sekolah karena Totto-chan dianggap keterlaluan. Gurunya sudah tak memiliki kesabaran lagi. Perbuatan yang paling membuat guru Totto-chan kesal adalah Totto-chan selalu berdiri dan melihat keluar jendela. Menyapa burung walet, bertanya apa yang sedang dilakukan burung-burung walet. Totto-chan juga memanggil pemusik jalanan dari jendela kelasnya. 

Cerita tentang Totto-chan  karangan Tetsuko Kuroyanagi telah mengusik banyak pembacanya tentang sekolah impian. Jendela menjadi jalan keluar Totto-chan mencari kebahagiaannya belajar. Begitu pula, jendela rumah kami. Terdiri dari sepasang kaca, yang bila dibuka cukup dilompati seorang anak. Dan, yang sering melakukannya adalah anak lelakiku. Bungsuku ini tak hendak kabur. Karena jika ingin bermain ia cukup meminta izin padaku. Ia hanya lebih suka lewat jendela dari pada pintu jika ingin keluar rumah. Ya, hanya karena suka! Menurutnya lebih menantang karena adegan memanjat dan melompat. Seru menurutnya! Jatuh berkali-kali tak membuatnya jera. Usahaku menyudahi kebiasaannya lompat jendela bukan karena kesal seperti guru Totto-chan yang kesal. Aku khawatir bila ia jatuh atau terjepit jendela saat penahan jendela tak sengaja lepas. 

Totto-chan dan anak lelakiku ini punya persamaan, yaitu kebahagian saat melihat jendela. Totto-chan bahagia saat pandangannya melewati jendela melihat burung walet dan pemusik, sedangkan bungsuku bahagia karena tubuhnya berhasil bergerak melewati jendela dari dalam ke luar rumah melalui jendela, bukan pintu. Jendela yang sederhana itu tak hanya berfungsi sebagai sirkulasi udara tapi juga telah mampu berfungsi sebagai pencipta kebahagiaan. Walau begitu kebahagiannya anak melompati jendela harus dihentikan karena tak ada gunanya bahagia bila mendatangkan musibah pula.

* * *

Jendela dibuka tiap pagi agar sirkulasi udara berjalan lancar. Pintu, belum tentu. Pintu dibiarkan tertutup sampai penghuni ingin keluar rumah. Biarlah udara saja yang seenaknya keluar masuk tanpa permisi. Manusia tak boleh seenaknya keluar masuk apalagi bukan pemilik rumah. Orang mesti mengetuk pintu, berucap salam saat bertamu. Kebiasaan yang pelan-pelan tak dikenali. Bukan pemilik rumah, ia patutlah disebut tamu. Tamu ini bermacam-macam. Kenalan dekat cenderung masuk sebelum dipersilahkan setelah mengetuk. Tamu lain yang tak mengenal tradisi mengetuk pintu, tak memerlukan ketukan pintu agar dapat masuk, cukup menghubungi pemilik rumah melalui pesan singkat dari telepon genggamnya. Mengetuk pintu terlalu merepotkan, tak praktis. Pesan singkat bisa menjadi alat pembuka pintu. 

Ada satu lagi tamu yang ditunggu-tunggu namun tak punya sopan santun sama sekali. Ia tak memiliki budaya mengetuk pintu apalagi berucap salam. Akan tetapi, ia memiliki kata-kata sakti yang dengan  mengucapkannya saja pemilik rumah akan segera terburu-buru keluar rumah untuk menemuinya. “Paket!” Suara kurir penjual jasa pengantaran barang mengeluarkan kata saktinya. Pada saat ini orang-orang mendapatkan kemudahan dan kecepatan seperti saat berbelanja. Semua dapat diantar sampai ke depan pintu rumah masing-masing meski ada budaya yang terkikis keberadaannya. Orang jadi lupa budaya mengetuk pintu, mengucapkan salam tak asal berteriak atau merangsek masuk sebelum dipersilakan.

Selain pintu, jendela memang selalu ada dalam sebuah rumah. Membuka jendela menjadi kegiatan pagi hari. Menutup jendela dilakukan menjelang petang. Sepasang kegiatan itu dilakukan oleh penghuninya sehari-hari. Peran jendela sama pentingnya dengan pintu namun nasibnya kadang terlupakan. Jendela kadang dibiarkan saja berdebu. Padahal saat jendela terbuka, cahaya bergerak masuk, hingga lampu sebagai penerang tak diperlukan lagi. 

Pada saat berada dalam rumah, jendela juga berguna sebagai penanda waktu. Disebut kesiangan bila terbangun dan melihat jendela: di luar telah tampak cahaya matahari sudah tak malu-malu lagi. Seiring itu pula kita memandang pemadangan di luar jendela sambil termenung. Jendela menjadi tempat yang nikmat untuk melamun: mengharapkan secercah inspirasi menjalani hidup. 

Dahulu, orang memiliki jendela-jendela besar. Jendela bisa digunakan untuk duduk sambil berbincang. Membaca buku juga sambil bersandar di jendela juga menyenangkan. Jendela pada masa kini tak sepenuhnya menjalankan tugasnya seperti tujuan awal orang-orang membuat jendela. Terkadang, ia hanya memihak pada cahaya saja. Asal cahaya sudah masuk, bisa dibilang cukup. Jendela tak bisa dibuka, hanya terdiri dari kaca yang menempel hingga peran jendela tak lagi maksimal dituntaskan. 

Anggrahenny Putri, penikmat buku dan bau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s