Tapi, Tapi, Tapi, Begini …

Setyaningsih

ALUR, ketepatan latar, penampilan tokoh, atau muatan moral (sering diharuskan ada) selalu masih jadi elemen diutamakan dalam bacaan anak. Seorang penulis (Indonesia) bisa saja diingat dari berapa banyak menerbitkan buku, jumlah kemenangan dalam lomba atau sayembara, penerbit makro yang berhasil menyokong popularitas, atau acara (sastra) bersifat lokal dan nasional. Tapi, sepertinya tidak banyak “ingin” diingat dari cara bercerita. 

Bahasa penentu ruh cerita dan penulis! 

Dalam buku cerita bergambar terutama, ilustrasi justru lebih otonom berbicara. Padahal, cara bercerita biasa saja. Bahasa gamblang, lugas, mudah dimengerti, dan tanpa metafora yang meski sederhana tapi mengena. Karena menganggap sasaran pembaca anak-anak, cara mengemas masalah-masalah realis keseharian—kematian, berbagi, kekecewaan, berteman, menginginkan sesuatu—justru belum memungkinkan dijangkau dengan bahasa yang imajinatif. Bisa juga upaya berbahasa secara metaforis diajukan, tapi terlampau kuat menutup kesan kekanakan yang lekat dengan (adegan) raga bergerak dan pikiran selalu mau tahu. 

Lalu, aku menghadapi buku tipis garapan Kembangmanggis berjudul Burung-burung Kecil (Gramedia, 2002). Tidak ada label buku anak atau bacaan anak. Di sampul belakang, ada keterangan buku memenangkan Sayembara Mengarang Novelet majalah Femina tahun 1990 yang diurusi oleh Umar Kayam dan Soekanto S.A. (penerbit menulis “Soekamto S.A.”). Usai merampungkan buku ini, aku menyepakati komentar Umar Kayam: “Burung-Burung Kecil adalah karya yang ‘utuh’ dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai karya sastra, karena merupakan interpretasi penulis terhadap realita sosial; tidak menggurui, tidak menjawab, tapi memaksa pembaca untuk ‘merenung’ lebih jauh.”

Aku menganggap Burung-burung Kecil sebagai novelet anak yang pantas dipikirkan. Realitas sosial—melalui tokoh anak gelandangan bernama Eges di kota Jakarta—tersampaikan dari cara berbahasa metaforis yang bukan sekadar menempatkan pembaca di wilayah terlalu absurd dan tidak membumi: “Sebab, dia punya dua ibu. Yang pertama adalah ibunya yang mangkal di Bundaran Kota. Ibunya yang selalu sibuk. Ibu yang biasa mengecup pipinya sekilas bila dia datang berkunjung, meninggalkan gincu tebal berwarna merah yang sukar dihilangkan dan membuat Eges malu. Sebelas tahun sudah terlalu besar untuk mendapat kecupan seperti itu. Tapi itulah ibunya. Ibu yang hanya bisa memberi sebuah kecupan dan lalu kembali sibuk dengan tamu laki-lakinya. Yang kedua adalah ibunya yang mangkal di Pangkalan. Ibunya yang selalu sibuk. Lho. Dua-duanya sibuk? Betul. Orang dewasa memang selalu sibuk. Itu diketahuinya . Dan ibunya yang ini pun akan mengecup pipinya. Tapi kecupan Ibu tidak menimbulkan kerepotan, sebab Eges tidak perlu payah-payah menggosok kedua pipinya. Mau menggosok apa? Karena yang tersisa dari kecupan itu bukan gincu. Tapi kehangatan. Ya. Aneh bahwa kecupan di pipi bisa menimbulkan rasa rasa hangat di dada.” Kembangmanggis memainkan yang tampak sekaligus tidak tampak: anak, gincu, kecupan, pipi, hangat, malu, ibu, bekas warna merah, kota Jakarta, negara (berjenis laki-laki), pembangunan, perempuan pekerja seks, ibu panti. Paragraf indah untuk sebongkah ironi yang ada di sana.

Metafora burung untuk menggambarkan manusia bukan hal baru atau mengagetkanBurung sering menyampaikan kebebasan, penemuan diri, atau pencerahan. Kembangmanggis menggunakan perumpamaan burung terutama bukan untuk sosok yang tampak agung dan megah, tapi seorang anak yang bisa rapuh sekaligus kuat, dicintai dan dirindukan, dibiarkan pergi sekaligus dinanti pulang, bergerak bebas. 

Untuk Eges yang gelandangan, ia burung kecil terbang tanpa tujuan dan uang, diusir kondektur bus, lapar, mengemis, ataupun kehilangan tangan karena digilas kereta api. “Karena seperti burung-burung kecil yang terbang bebas di udara, mereka tidak bisa diikat pada aturan… Terbang dan kembali lagi. Kembali untuk terbang lagi. Terus begitu. Tidak ada yang dapat dituntut dari mereka, selain menerima mereka apa adanya dan mencoba meyakinkan mereka bahwa mereka selalu masih punya tempat untuk pulang, saat sayap-sayap kecil itu telah letih terbang.”      

Meski Burung-burung Kecil terbit beberapa tahun lampau dan memenangkan sayembara lebih lampau, tetap terbaca hari ini karena cara penulis membahasakan idenya. Coba bandingkan paragraf dari pemenang Kompetisi Menulis Indiva 2019 berjudul Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko (2020) garapan Yosep Rustandi yang juga mengambil tokoh anak miskin di kota. Judul bermuatan sains. Tapi, tapi, tapi begini: “Di masa dewasa, Alin dan Jiko adalah penguasaha apel yang bercita-cita menjadikan semua anak menjadi pintar dan bertakwa, dan peduli terhadap sesama. Semua anak yang ada di Indonesia. Semua anak yang ada di dunia. Sebagian keuntungan dari usaha mereka dipakai membangun panti yatim piatu dan sekolah-sekolah gratis untuk anak miskin. Setiap anak berhak mendapat kasih sayang dan pelajaran yang baik.”

Tidak salah memang. Cuma mohon maaf lahir dan batin, bukankah paragraf ini terlalu gamblang menunjukkan ambisi (moral) orang dewasa dalam wajah anak! Bacaan anak bukan panggung moral yang menjinakkan (bahasa), menganggap anak-anak bukan bagian dari masyarakat bahasa yang selalu dikunyahkan dan disuapi kesimpulan-kesimpulan selalu “baik.” Bahagia dan tobat jadi tujuan, bukan cara. Kok bisa seorang penulis bacaan anak (Indonesia) hari ini masih bisa menulis kepada anak: “Semoga berprestasi lebih baik lagi” atau “Ia berjanji tidak akan nakal lagi.” Terbaca juga kalimat-kalimat di seri bacaan anak kolaborasi dua penulis yang konon terkenal dan dicintai para orangtua (anak) Indonesia begitu mudah dicetak oleh penerbit Gramedia: “Rupanya para pembeli senang karena Beka sangat ramah”, “Walaupun Dodo kuat, ia tetap rendah hati”, “Tapi, Sasa senang karena bisa berbagi dan membantu teman-temannya.” Moralitas selalu menjadi tujuan dan bahasa gagal jadi cara. Aduh!

Tugas orang dewasa menasihati dan memberi kesimpulan-arahan, tapi penulis cerita anak tidak! Aku ingin marah-marah, tapi apa daya aku hanyalah pemulung-pembaca banyak cerita anak Indonesia dan luar (asli atau terjemahan)—dari standar Inpres sampai Newbery Medal. Jadi, kupinjam saja rasa prihatin remaja cewek Paris penyuka teh dan pembudaya Jepang (Muriel Barbery, 2017): “Malanglah para jiwa melarat yang tak mengenal pencerahan atas keindahan bahasa.”


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s