Pintu Masuk

Widyanuari Eko Putra

Saya selalu menuliskan kesan-kesan saya sehabis membaca, mumpung ingatan dan kesan masih segar. (Jakob Sumardjo)

ORANG-ORANG yang malas membaca novel perlu berterima kasih kepada para penulis sinopsis. Ada sederet alasan yang bisa dibuat-buat guna membenarkan kemalasan mereka itu, sebut saja sibuk dengan pekerjaan; tak kuat membaca cerita panjang; mata yang mulai rabun; sampai menganggap novel adalah bacaan sia-sia. Dan agar mereka tertolong dari kutukan manusia modern kurang beradab lantaran gagal membaca novel, mereka memilih membaca sinopsis.

Kamus biasa mengartikan sinopsis adalah ihtisar, ringkasan, dari sebuah karangan atau buku. Cukup lima sampai sepuluh menit membaca sinopsis, mereka merasa sudah mengkhatamkan novel yang mungkin tebalnya mencapai ratusan halaman. Tiga hari yang sedianya digunakan untuk mengkhatamkan sebuah novel, disingkat menjadi sepuluh menit saja. Di dunia ini, jumlah orang yang malas membaca saya kira cenderung lebih banyak dibanding jumlah orang yang mau mengorbankan waktunya untuk membaca. Sinopsis pada kenyataannya punya umat pembaca. 

Di dunia ini, jumlah orang yang malas membaca saya kira cenderung lebih banyak dibanding jumlah orang yang mau mengorbankan waktunya untuk membaca. Sinopsis pada kenyataannya punya umat pembaca.

Tetapi dengan jumlah pembaca yang melimpah itu, sinopsis bukan tak memiliki pembenci. Kalimat pembuka dari sebuah pengantar atas buku kumpulan sinopsis berikut ini menegaskan itu: ”Buku semacam ini pernah disingkiri oleh para guru sastra. Bahkan sementara pengarang tidak menyukai pula penyajian bentuk ringkasan novel”. Para guru sastra dan pengarang enggan dijuluki kaum pemalas. Mereka ingin jadi pembaca sungguhan, melahap novel dengan keteguhan seorang terpelajar. 

Kalimat pengantar itu termuat di buku berjudul Sinopsis Roman Indonesia karangan Jakob Sumardjo. Kalimat yang Jakob tulis itu jelas mengungkapkan satu keadaan yang dilematis. Jakob dianggap memberi santapan lezat bagi para pemalas. Itu lantaran di kalangan publik sekolah dan kampus, sinopsis dianggap tengah mendukung pelajar dan mahasiswa malas membaca karya sastra.  

Berbagai tuduhan itu dengan yakin Jakob tampik mentah-mentah. Seperti sudah menyiapkan serangan balik matang-matang, Jakob menganggap mereka yang memandang sepele sinopsis agaknya kurang menengok tradisi perbukuan di negara-negara maju. Ia mencontohkan Amerika yang sudah terbiasa membuat dan menerbitkan buku kumpulan sinopsis. Diperlukan sinopsis untuk memberi gambaran pada pembaca awam agar mau membaca Moby Dick besutan Herman Melville yang ketebalannya lumayan bikin minder itu. 

Untuk itulah, menempatkan buku sinopsis sebagai buku yang “anti-buku” adalah tuduhan berlebihan. Sebaliknya, lewat buku sinopsis yang merangkum novel terbitan tahun 1875 hingga 1981 itu, Jakob hendak menyajikan satu petunjuk, satu panorama, seputar novel sastra Indonesia. Anggaplah sinopsis itu sebuah peta. Untuk beberapa buku klasik yang telah hilang dari peredaran dan belum dicetak ulang, misalnya, sinopsis bikinannya bisa dianggap berjasa untuk para guru dan pembaca sastra.  

Anggaplah sinopsis sebuah peta. Untuk beberapa buku klasik yang telah hilang dan belum dicetak ulang, misalnya, sinopsis bikinannya bisa dianggap berjasa untuk para guru dan pembaca sastra.

Jakob memberi istilah untuk buku bikinannya itu ialah buku “pandu wisata” novel. Layaknya sebuah brosur wisata, buku sinopsis tersebut adalah panduan menuju novel-novel penting yang pernah terbit di Indonesia. Membaca panduan wisata tanpa pernah benar-benar berkunjung ke wisata termaksud tentu omong kosong belaka. “Maka dari itu,” terang Jakob, “buku ini tak akan banyak gunanya kalau orang tak tergerak untuk mencari novel asli dengan kata-kata pengarangnya sendiri.” 

Tetapi agaknya penjelasan Jakob itu tetap tak disambut hangat oleh kalangan dosen dan guru—tentu para guru dan dosen yang bukan pemalas. Dengan dalih yang sama, keduanya kukuh menyebut buku Jakob itu hanya bikin siswa dan mahasiswa malas membaca novel aslinya. Tak tinggal diam, pada pengantar cetak ulang ketiga bukunya tersebut Jakob kembali membalas tudingan itu dengan menyebut penyalahgunaan buku sinopsis justru “sebagian kesalahan guru atau dosen sendiri.” 

Para pengajar itu dianggap sering memberi tugas kepada anak didiknya membuat ringkasan novel: “Pemberian tugas membaca novel tidak cukup hanya diminta untuk melaporkan ringkasan isi buku, tetapi dapat ditambahkan dengan pembuatan analisa beberapa segi novel.” Jakob sesentipun tak mundur dari argumennya. Bahkan di sisi lain, buku itu disambut hangat oleh publik. Pada tahun 1995 ia sudah mencapai cetak ulang kelima. Sebuah kapak bisa dipakai untuk membelah kayu bakar sekaligus untuk merusak pintu kayu rumah. Kapak, dengan begitu, tak pernah bisa disalahkan atas perbuatan manusia yang memanfaatkannya. Dengan perkataan lain, sinopsis tak pernah salah atas keberadaannya. 

* * *

Kutipan di awal tulisan ini agaknya bisa menjadi petunjuk muasal eksistensi Jakob Sumardjo di ranah persinopsisan. Namanya memang sering kita jumpai di buku-buku apresiasi dan kajian sastra dan seni. Sejak mula ambil bagian di kancah kesusastraan dan seni, ia tampil sebagai esais dan akademisi. Ia pengajar sekaligus esais rajin menulis untuk Horison, Basis, Kompas, dan sebagainya. Ia pun tergolong penulis kawakan Indonesia. Tahun ini ia berumur 82 tahun, dua tahun lebih tua dari Goenawan Mohamad dan empat tahun lebih muda dari Taufiq Ismail. Belakangan, ia berhasil meraih gelar Guru Besar di Institut Seni Budaya, Bandung—sebuah capaian prestisius di ranah akademik. 

Salah satu bukunya yang  kondang dan sangat saya ingat ialah Filsafat Seni. Buku itu mudah kita jumpai di lapak buku bekas. Saya sendiri membelinya seharga 20 ribu di lapak buku bekas Pasar Johar bertahun-tahun silam. Buku itu jadi bacaan tak terlalu rumit untuk mengenali berbagai urusan teori dan makna seni ditinjau dari tinjauan filosofis. Itu termasuk buku yang saya rekomendasikan kepada teman-teman yang ingin benar-benar belajar seni secara mendalam, bukan sekadar angin-anginan atau berlagak nyentrik ala-ala seniman belagu.

Menengok sepak terjang Jakob di sastra, ia tercatat beberapa kali menerbitkan buku kajian yang bersinggungan dengan novel. Ia tentu pelahap novel yang rakus dan telaten. Sematan status akademisi yang menempel padanya tak ingin ia lalui dengan sekadar berurusan dengan jabatan dan uang tunjangan. Gelar guru besar yang ia raih pun sekarang tak lepas dari ketekunannya membaca. Ratusan novel telah ia baca sebagai bukti ia akademisi waras. Ia tak mau berstatus akademisi dan tokoh sastra tapi gagal membaca novel beralasan ini itu. Malas bukan watak seorang akademisi apalagi guru besar. Kemalasan dipastikan bakal menggeretnya ke neraka. 

Ratusan novel telah ia baca sebagai bukti ia akademisi waras. Ia tak mau berstatus akademisi dan tokoh sastra tapi gagal membaca novel beralasan ini itu. Malas bukan watak seorang akademisi apalgi guru besar. Kemalasan dipastikan bakal menyeretnya ke neraka.

Ratusan novel tuntas Jakob baca dan setelahnya ia lalu mencatatkan kesan dari membaca. Ia menulis catatan, baik berupa komentar, kritik, maupun analisa. “Saya selalu menuliskan kesan-kesan saya sehabis membaca, mumpung ingatan dan kesan masih segar,” akunya. Pernyataan itu lalu ia buktikan dengan merilis buku Sinopsis Roman Indonesia. Buku dengan jenis tulisan semacam itu memang dekat dengan kerja para akademisi sastra dan seni. Jika tugas pengarang adalah menelurkan karya, akademisi adalah pencatat, pengarsip, peneliti, pembedah, dan pengkritik karya.

Agaknya Jakob memang sudah tersengat kenikmatan membaca novel dan menulis sinopsis. Ia seperti mengesampingkan duit yang mesti ia rogoh guna membeli novel baru, serta jam-jam yang terbuang untuk membacanya. Menjadi pembaca novel memang punya risiko besar. Kesulitan menyempatkan waktu khusus membaca, keuangan yang bobol, hingga pinggang yang nyeri lantaran terlalu lama duduk, kapan saja bisa ia alami. Semua rayuan setan itu justru ia lempar jauh-jauh. 

Pada tahun 1983, ia nekat menerbitkan buku Pengantar Novel Indonesia, berisi kumpulan sinopsis dari berbagai novel yang menurutnya penting untuk dicatat, baik itu disebabkan temanya yang menarik maupun atas dasar ketenaran novel tersebut. Lewat buku itu ia ingin memberi peta kepada pembaca novel di Indonesia. Novel-novel penting karya Romo Mangun, Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, hingga Mochtar Lubis, tak lepas dari pangamatannya.

Kesanggupan mencatat sinopsis novel di samping itu juga membuka pintu kesempatan bagi Jakob terlibat dalam kerja kesusastraan yang didanai negara. Pada 1976, Jakob ditawari oleh Sapardi Djoko Damono terlibat dalam sebuah proyek mengumpulkan dan mendata novel-novel Indonesia, sejak era kolonial hingga 1970-an. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Jakarta yang membiayai proyek itu. Ada sekitaran 180-an novel yang ia dan tim baca dan data. 

Tetapi agaknya proyek itu memang hanya bertujuan pendataan saja, tidak ada upaya untuk merilisnya ke bentuk buku agar terbaca secara luas oleh publik. Naskah yang sudah susah payah Jakob dan tim itu susun mengendon saja. 18 tahun lamanya naskah itu tak tersentuh, terbengkalai dan berdebu. Dari situlah kemudian hati Jakob tergerak untuk mengolahnya kembali. Dengan menambal kekurangan data yang ada serta menambahi beberapa referensi novel mutakhir yang ia baca, Jakob lalu menerbitkannya pada 1999 dengan judul Konteks Sosial Novel Indonesia 1920–1977

Barangkali menulis sinopsis adalah laku kepenulisan yang tak pernah mendapat mimbar di panggung kesusastraan Indonesia. Itu murni dianggap tugas para peneliti, pembaca tangguh dan para akademisi. Dan Jakob rupanya dengan sadar memilih masuk di gelanggang yang sepi dari tepuk tangan itu. Keringat yang menetes dari ketekunan Jakob telah mengukuhkan namanya sebagai akademisi sekaligus pembaca dan pencatat sastra yang ampuh. 

Jakob bukan akademisi kaleng-kaleng, itu jelas. Sinopsis yang ia tulis mungkin akan tetap bertemu tanggapan negatif. Sampai kemudian para pengkritiknya itu berani menantang diri mereka sendiri untuk menulis sinopsis dari puluhan hingga ratusan novel mutakhir. Dan dari situlah kemudian bakal menyembul sebuah fakta: Bahwa tak ada pemalas yang sanggup menjadi penulis sinopsis, bahwa diperlukan seorang pembaca yang rakus demi terwujud sebuah buku kumpulan sinopsis.


Widyanuari Eko Putra

Penulis buku Yang Tinggal Hanyalah Kata: Pujian dan Kutukan untuk Puisi Koran (Penerbit Beruang, 2020), tinggal di Demak.

Bacaan:

Jakob Sumardjo (1991) Pengantar Novel Indonesia, Citra Aditya Bakti: Bandung

Jakob Sumardjo (1999) Konteks Sosial Novel Indonesia 1920 – 1977, Alumni: Bandung

Jakob Sumardjo (1995) Sinopsis Roman Indonesia, Citra Aditya Bakti: Bakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s