Pelajaran, Pesan, dan Perdesaan

Kusuma

MASIH menyoal tentang desa. Kubawa dua buku dari Bilik Literasi sebagai bekal pusing selama seminggu. Buku ini merupakan kitab pelajaran bahasa Indonesia untuk sekolah rendah kelas dua terbit tahun 1950 dan kelas tiga terbit 1967. Darinya, aku mencari penanda-penanda tentang desa. Buku tipis itu menampilkan sedikit bacaan namun penulis dapat mengurai berbagai soal.

Buku menyuguhi banyak gambar. Anak-anak lelaki tergambar memakai peci. Mereka tidak bersarung, membawa Al Qur’an, dan tasbih melainkan bermain kesawah. Peci tidak dekat dengan masjid-masjid dan baju takwa seperti masa sekarang. Aku mengira dahulu peci lebih seperti pakaian sehari-hari, yang berbau nasionalis sejak dini.

Peci tidak dekat dengan masjid-masjid dan baju takwa seperti masa sekarang. Aku mengira dahulu peci lebih seperti pakaian sehari-hari, yang berbau nasionalis sejak dini.

Dalam gambar, aku menemukan kerbau mandi di sungai. Pada masa sekarang, kerbau belum berteman dengan si burung jalak. Apakah itu merupakan “induk kerbau” dalam produksi buku-buku pelajaran bahasa Indonesia? Kerbau mengingatkan Desa Pentingsari yang berada di Yogyakarta. Desa itu berhasil bersolek menjadi desa wisata. Pada 2011, Pentingsari mendapatkan penghargaan tingkat dunia dalam mengelola desa wisata.

Paket desa menyuguhkan kearifan lokal. Memandikan kerbau dan membajak sawah menjadi daya tarik tersendiri dari luar daerah, terutama kota. Orang kota tak terlalu mengerti membajak sawah. Mereka hanya tahu cara membeli sawah. Orang kota yang singgah beberapa hari di desa akan berjingkat saat menemui proses mandinya si kerbau. Mereka bisa ikut menggosok kulit kerbau di sungai dan menungganginya secara langsung. Tawa mereka lepas seperti sampul buku pelajaran bahasa Indonesia. Mungkin orang kota mendapati imajinasi kerbau yang ditunggangi hanya dalam buku-buku. Desa cuma menjadi objek materi pengarang maupun ilustrator.

Di sini, orang-orang kota bisa meraba bulu-bulu tipis si kerbau secara nyata. Kepala desa bertaktik jeli. Kebiasaan orang desa memandikan kerbau saban hari yang terkadang menemui titik jemu berhasil dikemas menjadi penghibur kepenatan orang-orang kota. Dan, kebiasaan itu sekarang menghasilkan uang dan perjumpaan.

Dalam kitab peladjaran bahasa Indonesia untuk kelas dua, anak-anak diajarkan mandiri. Mereka di ladang membantu orang tua. Mereka berlatih berkebun sendiri yang berarti mengeruk tanah, memupuk, menyirami tanaman hingga membuat pagar kayu sendiri.

Sebab alam dan kemandirian, mereka tak berbudaya jajan. Pada buku kelas dua ini tidak kutemui seorang pun yang mengenakan sepatu maupun sandal. Mereka tetap sehat dan tak takut kaki ngidak telek. Patokan kesehatan mereka belum berkiblat pada industri-kersehatan.

Pada pelajaran kedelapan, anak-anak desa mengadakan pesta. Tuan rumah menyembelih ayam empat ekor tanpa harus membeli di pasar. Di desa masih menyediakan lahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan berupa buah, sayuran, maupun daging. Adegan pesta belum menampilkan air mineral dalam kemasan. Mereka minum masih menggunakan gelas. Proses menghadirkan minum menuai kerja di dapur bersama api. Dahulu, orang desa tidak “bekerja sama” dengan perusahan minum dalam menyuguhi tamu. Mereka mungkin malu menyuguhi minuman yang tak melalui proses perebusan sampai matang namun mendapat hak steril dan higienis.

Dahulu, orang desa tidak “bekerja sama dengan perusahaan minum dalam menyuguhi tamu. Mereka mungkin malu menyuguhi minuman yang tak melalui proses perebusan sampai matang namun mendapat hak steril dan higienis.

Pembukaan dalam buku kelas tiga sekolah dasar adalah bapak guru memeriksa kuku para murid. Apesnya, si Maksum kena marah bapak guru. Gambar menceritakan semua murid belum serempak memakai seragam yang sama. Para murid sudah banyak memakai sepatu. Murid tanpa sepatu tetap boleh mengikuti pelajaran di sekolah. 

Dalam buku ini, gambar sudah mengarah pada industri. Desa masih asri tapi industri dan iklan-iklan sudah tersebar sampai desa. Anak-anak mengenal profesi pada dokter gigi. Kesehatan orang desa diperhatikan, tidak digantungkan lagi pada tetua-tetua yang memiliki ilmu kesehatan secara tradisional dan ajaib.

Mereka pergi ke klinik beramai-ramai. Para ibu berkebaya, seorang bapak memakai peci. Semuanya kompak sudah memakai sepatu. Mereka sudah berdandan mirip orang-orang kota. Mereka sepertinya sudah menemukan cita rasa  perkotaan dan modernitas. Desa berbeda dengan kota tapi perlahan perindustrian masuk dan merasuk. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s