Rumah Indonesia: Bambu dan Batu

Irfan Sholeh Fauzi

Bambu adalah salah satu benda paling sial dalam sejarah Republik Indonesia. Sepanjang kemerdekaan masih menggantung di ambang, tiap-tiap bumiputra yang ingin merdeka menggenggam bambu, entah itu beneran di tangan atau paling tidak ada dalam pikiran mereka. Selepas Indonesia merdeka, bambu-bambu itu tanggal. Pada masa awal kemerdekaan, negara berseru agar rakyat beramai-ramai meninggalkan bambu. Babak baru! 

Misbach Yusa Biran lahir pada 1933. Hindia Belanda, kata orang, sedang mengalami masa susah. Zaman malaise. Ayah Misbach sudah terlalu sungkan nunut mertuanya di Rangkas, Banten. Pada saat Misbach berusia tiga bulan, keluarga kecil itu memutuskan pergi ke Batavia.

Tuturan Misbach (2008), mengingat rumah masa kecil: “Kami tinggal di Tanah Tinggi, gang IX, di rumah petak berdinding bambu atap rumbia. Hanya terdiri dari satu ruang dalam untuk tidur. Di belakang ruang masak dan di depan ada teras tidak tertutup. Lantainya tanah dan halamannya becek kalau hujan. Itulah jenis rumah sewa paling murah saat itu di Batavia.” Kondisi rumah macam begitu membikin sakit jadi hal paling awet yang berada di tubuh Misbach. Kita bisa bayangkan, ada ratusan dan mungkin ribuan orang bernasib serupa: bergumul-bertaruh dengan hidup, mencari rezeki dengan berumah di kesengsaraan.

Ketika Indonesia merdeka, bambu langsung usang. Bambu seakan heroisme dan benda kuno, kalau bukan pembawa mala, yang mesti lekas ditinggalkan. Tubuh dan pikiran manusia Indonesia haruslah berjarak dengan bambu.

“Tiang-tiang rumah tidak boleh dibikin dari bambu, berhubung dengan banjak kemungkinan ditempati sarang-sarang tikus dan seharusnja dari kaju djati atau lain-lain kaju jang murah dan tjukup kuat keadaanja,” tulis di buku Perumahan Rakjat. Buku digagas Kementerian Penerangan Republik Indonesia, terbit 1951. Perumahan Rakjat jadi semacam buku panduan bagi rakyat, yayasan partikelir, buruh, dan pegawai negeri, untuk mendirikan, membeli, menyewa, atau meminjam duit buat membikin rumah.

Indonesia di masa awal 1950-an sedang memikirkan rumah. Pada sebuah adegan di film Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954), kita lihat, membangun perumahan bagi rakyat adalah hal urgen. Iskandar, tentara terakhir dari gerombolannya yang kembali dari gunung, kaget tatkala tahu betapa ruwetnya kehidupan. Gunawan, komandannya, ternyata picik. Kala revolusi, Gunawan memerintahkan Iskandar buat membunuh satu keluarga yang dianggap sebagai mata-mata NICA. Itu sekadar bualan Gunawan. Gunawan tahu, keluarga itu membawa banyak perhiasan. Setelah keluarga itu—terdiri dari suami, istri, dan dua anak balita—tewas ditembak Iskandar, perhiasan mereka ditilap Gunawan buat dijadikan modal perusahaan ketika ia kembali dari pertempuran.

Jerit penghabisan keluarga itu tak pernah tidak berbunyi di kepala Iskandar. Pada Gafar, mantan rekan pasukan, Iskandar mengungkapkan kefrustrasiannya: “Apakah tidak ada undang-undang yang dapat menghukum orang begini (Gunawan)?” Gafar waktu itu sudah mapan sebagai kontraktor. Latar adegan ini adalah proyek pembangunan gedung sekolah yang ditangani Gafar: “Apa gunanya kau pusingkan Gunawan? Lebih baik kau pikirkan masa datang. Bantu aku di sini. Kau lihat! Lihat! Itu baru beberapa gedung sekolah. Beratus-ratus lagi yang harus dibangun. Sekolah-sekolah, perumahan rakyat. Untuk masa datang!”

Tak ada bambu. Hanya batu dan batako di bangunan bikinan Gafar. “Dinding rumah sebaiknja djika dapat dibuat dari batu. Djika tidak dapat, hanja sebagian bawah setinggi 1 meter dari batu merah dan lainnja dari bilik,” tulis Kementerian Penerangan di Perumahan Rakjat. Pada Lewat Djam Malam, kemakmuran seseorang dapat terlihat dari tembok. Rumah Norma, pacar Iskandar, berdinding batu dan tembok. Rumah Puja, rekan lain Iskandar, berdinding separuh batu dan separuh bilik. Di bilik, gambar sepatu, panci, mobil, perhiasan, dan benda-benda lain yang tergunting dari majalah tertempel. Anyaman bambu serupa tembok ratapan bagi kaum miskin.

Kita kembali ke Perumahan Rakjat. Di pengantar, tertulis: “Dizaman negara kita merdeka ini perumahan rakjat seharusnja disesuaikan dengan suasana rakjat jang merdeka. Direntjanakan, bahwa rumah-rumah jang akan dibuat itu semua adalah pasangan batu …” Rumah Indonesia kemerdekannya didaulat bambu, dirayakan batu-batu.


Irfan Sholeh Fauzi, Esais dan suka mengliping

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s