Keluarga dan Bahasa

Bandung Mawardi

PADA awal abad XX, hasrat menjadi modern berlangsung dengan bahasa. Bumiputra ingin berubah. Nasib perlahan dipengaruhi bahasa Belanda, selain bahasa Melayu. Keluarga-keluarga mengantar anak-anak masuk sekolah, berharapan mendapatkan ilmu dan kehormatan. Di sekolah, pembentukan identitas dengan bahasa dan pergaulan. Situasi itu berpengaruh saat kembali ke rumah. Ingatlah kita dengan keluarga-keluarga mencipta sejarah memihak bahasa Belanda berbarengan dengan “kemadjoean”. Hatta, Sjahrir, Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan sekian tokoh mengalami hidup di rumah dengan kefasihan berbahasa Belanda, setelah kesanggupan berbahasa ibu atau Melayu. Keluarga mereka terhormat, mengerti “terang zaman”, dan mengolah identitas dalam adonan-adonan ingin selaras tapi tetap saja terdapat konflik.

Kemunculan tokoh-tokoh penggerak ide dan imajinasi kemodernan mahir berbahasa Belanda, bertambah terhormat bila fasih berbahasa Prancis, Jerman, atau Inggris. Kemampuan berbahasa Arab dimiliki tokoh-tokoh turut dalam misi politik dan pendidikan, menggenapi peran bahasa Arab dalam sejarah Moehammadijah, Persis, NU, dan lain-lain. Keluarga-keluarga di Indonesia menjadi “keluarga bahasa” dalam capaian menjadi modern, beriman, mulia, makmur, berkuasa, atau nasionalis.

Sisa-sisa kemeriahan bahasa Belanda ditemukan masa 1950-an. Di Indonesia, keluarga-keluarga masih mungkin berbicara dalam bahasa Belanda. Di rumah, bahasa Belanda digunakan bapak-ibu-anak sebagai konsekuensi pendidikan modern masa kolonial berbahasa Belanda. Peralihan dengan pemihakan berbahasa Indonesia terjadi. Sekian keluarga mampu berubah tapi kepemilikan masa lalu atas bahasa Belanda dalam keilmuan, politik, dan pergaulan kadang terawetkan. Nasib tak tentu bahasa Belanda di hadapan bahasa Indonesia diimbuhi kemajuan-kemunduran sekian bahasa ibu di Indonesia. Di situ, bahasa Jawa ingin bergerak tapi terang tak selalu terjanjikan.

Dulu, keluarga-keluarga membiasakan berbahasa Belanda saat di rumah memiliki pertimbangan-pertimbangan intelektual, ideologi, dan identitas. Pengalaman berbahasa Belanda mengacu sekolah, penggunaan kamus, pekerjaan, atau keterlibatan dalam perkumpulan. Kita ingin mengenang keluarga masa lalu bersama kamus-kamus. Kita menduga sekian jenis kamus menjadi bacaan dan koleksi di keluarga-keluarga mau modern atau “madjoe”. Kamus bahasa Belanda tentu keutamaan pada masa kolonial.

Kita mengandaikan leksikograf bernama WJS Poerwadarminta membentuk lakon keluarga bahasa sejak masa 1920-an. Ia sudah rajin membuat kamus-kamus. Kita berpikiran sekian bahasa bertumbuh di keluarga. Selama di rumah, keluarga bisa saja bergantian dalam penggunaan bahasa untuk bercakap, belajar, atau menerima tamu. Bahasa Jawa, Melayu, Belanda, dan lain-lain menghuni rumah. Di situ, buku-buku beragam dan ketersediaan kamus-kamus memberi pengesahan.

Kita mengingat nasib bahasa Belanda dan Jawa melalui Woordenboek Nederlandsch-Javaansch, (Kamoes) Belanda-Djawa susunan P Darminta. Dulu, penulisan leksikograf itu memang P Darminta, belum WJS Poerwadarminta. Kamus diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Kotagede Java, 1932. Kamus terbit setelah kaum muda memikirkan, memuliakan, dan menjunjung bahasa Indonesia (1928). Pada masa 1930-an, bahasa Belanda masih subur di keluarga-keluarga bumiputra. Kamus memuat ribuan kata. Sekian kata pasti sering terucapkan di rumah. Sekian kata cenderung menjadi bahasa keilmuan di sekolah. Sekian kata menjadi lazim dalam peristiwa dan berita politik. 

Dampak sekolah-sekolah modern dan bacaan-bacaan masa lalu adalah pengajaran dan penguasaan bahasa Belanda. Kamus-kamus diperlukan tapi tak mutlak. Di keluarga-keluarga, sekian hal perlahan terbahasakan Belanda. Pada pengasuhan dan olahan kepribadian, bahasa Belanda berpengaruh tapi mengalami guncang selama masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Gairah revolusi mengembalikan bahasa Indonesia sebagai bahasa terhormat. Keluarga-keluarga terbimbangkan dan terpastikan dalam pilihan bahasa. Sekian tahun, bahasa Belanda “terdiamkan” atau “terpinggirkan. Peristiwa 1945 memunculkan lagi gairah keluarga-keluarga berbahasa Belanda meski mengetahui bahasa Indonesia itu meresmikan revolusi. Pada masa 1950-an, bahasa Belanda masih menghuni rumah-rumah berbarengan kepudaran pesona bahasa Belanda di sekolah atau perguruan tinggi. Kita mengingat saja bahasa Belanda tak kekal membentuk dan menggerakkan keluarga-keluarga Indonesia. Masa 1950-an mungkin masa keberakhiran. Begitu. 

Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s