Ibu Terlena India

Kartika Wijayanti

SAYA suka sekali film Kuch Kuch Hota Hai (KKHH). Saya ingat sekali, saya menonton film itu pertama kali di televisi swasta, 2001. Saya langsung jatuh cinta pada film tersebut. Entah, berapa puluh kali saya menontonnya sampai sekarang, sejak berpredikat gadis sampai menjadi mbok (ibu). Setiap kali KKHH diputar di televisi swasta, saya pasti akan duduk manis menontonnya. Senyum-senyum sendiri dan larut di dalam film sepanjang lebih dari dua jam. Dan, saya yakin generasi saya, generasi yang besar masa 1990-an pasti mengenal KKHH. Mereka  pasti akan mengatakan bahwa filmnya benar-benar mengaduk emosi. 

Setiap kali KKHH diputar di televisi swasta, saya pasti akan duduk manis menontonnya. Senyum-senyum sendiri dan larut di dalam film sepanjang lebih dari dua jam.

Apa sih menariknya KKHH? Sebenarnya formulanya biasa saja. Cinta segitiga, mencari cinta sejati, lanskap yang menarik, aktor dan aktris yang menarik, musik yang sangat lekat di telinga merupakan adonan yang sangat memikat penonton, khususnya para perempuan. 

Sebab, perempuan diasumsikan lebih dekat dengan perasaan sentimental dan cenderung emosional: dipengaruhi oleh rasa sentimen atau bersifat menyentuh perasaan. Kita juga bisa mengartikan mudah sekali terpengaruh perasaan. Sangat perasa! 

Saya termehek-mehek dengan jalinan kisah yang disajikan karena dekat dengan keseharian. Cinta segitiga! Akhirnya, si tokoh utama menemukan cinta sejatinya. Duh, ingin sekali saya seperti itu! Pada 2001, saya juga seperti Anjali Sharma, yang jatuh cinta pada teman saya sendiri. Cuma bedanya, kalau Anjali Sharma (Kajol) berhasil bersatu dengan cinta pertamanya, Rahul Khanna (Shah Ruk Khan), lha saya? Jelas tidaklah. Bertahun-tahun kemudian baru saya menemukan cinta yang sebenarnya, tentu saja dengan jalan yang berkelok dan berliku. 

Film India memiliki penggemar yang tidak bisa dibilang sedikit di Indonesia, terbentang dari masyarakat urban-perkotaan hingga rural-perdesaan. Film-film India yang masuk ke Indonesia melalui televisi swasta nasional medio 2000-an memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat. 

Setelah gelombang film layar lebar India mulai surut, datang kembali gelombang India dalam bentuk film televisi dan sinetron India. Mahabharata, Mahadewa, Jodha Akbar, dan sederet sinetron India yang saya tidak hapal judulnya. Formulanya masih tetap sama dengan film-film pendahulunya. Menurut keterangan di majalah Tempo edisi 10–16 Juni 2013, formula yang dipakai oleh Bollywood adalah tokoh-tokoh khayalan dengan perbuatan kepahlawanan yang hebat, konflik hitam putih, cinta yang mengharu biru dan mengaduk emosi, harta, tahta,  dan jangan lupa aktor dan aktris yang menarik. 

Dari Mahabharata, siapa sih yang tidak kenal dengan Shaheer Sheikh, pemeran Arjuna yang gantengnya bisa membuat mbak-mbak dan mbok-mbok lupa utang, lupa masak. Favorit saya sih pemeran Khrisna (Saurabh Raaj Jain). Kalau dia sudah muncul, wis berhenti dulu semuanya. Tak nyawang sik, mumpung iso! 

Perempuan, celakanya–kalau boleh dibilang begitu—adalah penikmat utama dari film-film India. Perasaan perempuan yang halus membuatnya sangat melekat dengan drama India. Seperti ketika menonton KKHH, saya merasakan bagaimana perasaan Anjali Sharma yang mengetahui bahwa sahabatnya jatuh cinta pada orang lain dan berniat untuk menikahinya: mengatakan semuanya itu kepada dirinya. Emosi saya teraduk-aduk. 

Begitu pula ketika menonton serial Jodha Akbar. Semua bercampur menjadi satu. Kedekatan emosi itu pula yang mendekatkan perempuan yang kebetulan ibu-ibu ini dengan drama India. Ditambah lagi, semua drama India itu hadir sangat dekat melalui televisi. Seperti yang kita tahu, televisi adalah barang yang sudah menjadi anggota keluarga dan hadir di setiap rumah di Indonesia. 

Bisa dibayangkan bukan, bagaimana televisi menjadi sahabat bagi perempuan di rumah. Duduk menonton drama India sambil mengasuh anak menjadi hal yang jamak dilihat. Dalam pandangan saya, dan saya mengalami sendiri bagaimana drama India tersebut menawarkan pelepasan kepenatan dari kehidupan sehari-hari. Menjadi tempat istirahat sementara sebelum kembali kepada realita kehidupan. 

Cerita cinta dan ide menemukan cinta sejati yang ditawarkan juga magnet yang luar biasa untuk perempuan untuk tetap duduk menonton. Mendapatkan cinta sejati, diselamatkan oleh laki-laki semacam Arjuna atau Khrisna mungkin merupakan impian yang halu dari perempuan-perempuan penonton drama India. Siapa yang tidak ingin mendapatkan cinta sejati dan mengalami kisah cinta yang menggetarkan seperti yang ada di dalam drama itu? Ide yang membuat para perempuan menjadi sentimental dan emosional. Seperti yang kita tahu hampir tidak ada hal seperti itu di dunia nyata. Tidak sehitam putih seperti yang ada di dalam drama.  

Lebih jauh lagi, ketika cinta sejati dan romantisme tidak didapatkan di dunia nyata, paling tidak itu bisa didapatkan di dalam drama India dengan mengidentifikasi dan memproyeksikan diri ke dalam tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Di KKHH, saya bisa merasakan bagaimana menjadi Anjali yang mencintai Rahul. Kemudian ikut masuk ke dalam emosi dan perasaan yang terbangun dalam diri karakter Anjali. Jadi saya ikut menangis, tertawa sepanjang hampir tiga jam. Dalam Mahabharata, saya mengidentifikasi diri sebagai Drupadi yang menjadi istri Pandawa (yang terutama kalau saya sih Shaheer Sheikh) dan masih memenangkan cinta platonik dari Khrisna. Saya ikut melangkah di kakinya, merasa dipermalukan ketika Duryudana melucuti Drupadi akibat Pandawa kalah dalam perjudian. 

Untuk perempuan kontemporer kota macam saya, memenangkan cinta sejati adalah hal yang penting, meski tidak sehitam putih di dalam drama India. Cinta sejati harus diperjuangkan. Pikiran saya dicekoki dengan novel, lagu-lagu cinta, puisi cinta yang membuat saya mengidealkan cinta sejati itu macam yang ada di dalam film. 

Tetapi, bagaimana dengan perempuan-perempuan sederhana yang ada di desa? Apakah romantisme dan ide mengenai cinta sejati juga diperjuangkan? Mungkin diperjuangkan akan tetapi karena mungkin pemikiran yang sederhana dan berprinsip trima ing pandhum maka ide mengenai cinta sejati itu jauh di luar angan. Yang penting sekarang adalah ngurusi anak, bojo, tidak usah memikirkan macam-macam seperti cinta sejati. Panganan opo kuwi? Meski sebenarnya mereka tidak puas dengan kehidupan perkawinannya. 

Meski berbeda, perempuan kota dan desa sama-sama menikmati drama India di depan televisi. Menonton berseri-seri semua serial drama India, kemudian merasa gemas dengan kisah yang ada, menangis dan tertawa karena kisah cintanya, mengomel dan mencaci para pemeran antagonisnya. 

Pada akhirnya, film dan drama India menjadi semacam kanal dan katarsis bagi kepenatan menjalani keseharian menjalankan peran baik sebagai ibu, istri, pekerja yang dialami oleh perempuan. Film India ini merupakan sarana menjaga kewarasan para ibu meski menghadirkan hal-hal yang mungkin terlihat halu dan receh, tapi terbukti manjur. 

Itulah yang terjadi pada saya. Masa muda sudah berlalu. Kini, saya adalah ibu yang masih saja terlena India. Tak apalah! 


Kartika Wijayanti, ibu tiga anak, penggemar Kuch Kuch Hota Hai 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s