Cerita yang Pancasila

Muhammad Safroni

ANAK-ANAK patut mendapat perhatian khusus berkaitan dengan konten yang ditayangkan saat mereka menonton televisi. Pada saat ini, hampir setiap rumah memiliki televisi. Banyaknya tayangan di televisi swasta yang sekadar hiburan. Berbeda halnya pada masa 1980-an. Maka, perlu kiranya bacaan-bacaan. sebagai penyeimbang. Bacaan yang baik bisa membentuk karakter anak menjadi baik. 

Pada masa Orde Baru, pemerintah menggelontorkan dana besar, yang bertujuan menyuguhkan buku anak. Buku itu dilabeli Inpres, tidak diperdagangkan. Buku disalurkan ke seluruh pelosok negeri. 

Saya telah merampungkan buku berjudul Pembangunan di Negeri Kita. Dalam buku, dicontohkan menonton televisi menjadi salah satu media sebagai bentuk dari nasionalisme. Pada masa 1980-an yang mempunyai televisi hanya beberapa orang di setiap desa. Televisi masih menjadi barang mewah. Mereka menonton televisi seara bersama-sama. 

Dulu, masyarakat memberi dukungan secara langsung di gedung olahraga Istora sebanyak 17.000 orang. Gedung olahraga hanya bisa menampung 12.000. Selebihnya, mereka menonton televisi di luar. Penyelenggara sudah menyiapkannya. Selain itu, hampir seluruh masyarakat Indonesia memberi dukungan dengan menonton televisi di rumah masing-masing. Peristiwa penting terjadi pada hari Jumat, 3 Mei 1985. Elyas Pical menjadi juara dunia kelas super terbang versi IBF. 

Buku cerita berjudul Pembangunan di Negara Kita gubahan Gazali Dunia terbit 1985. Buku ini banyak diminati, hingga dicetak beberapa kali. Buku ini dirasa penting dalam membentuk karakter anak. Pemerintah getol mencetak ulang. Buku yang saya baca cetakan ketiga tahun 1990. 

Dilihat secara fisik, buku cerita ini masih tergolong bagus, tidak ditemukan lipatan-lipatan. Coretan pun belum tampak dalam isi buku. Warna kertas sedikit berubah dan terdapat bercak jamur di beberapa halaman, mungkin karena lembap. Tentunya ini dipengaruhi faktor usia. Sebelumnya, buku ini menjadi koleksi Perpustakaan SD Islam Diponegoro Kotamadya Surakarata. Saat ini menjadi koleksi Bilik Literasi. Sepertinya buku ini dia dapatkan di Gladak, tempat jual-beli buku bekas di Solo. 

Saya menduga, buku ini sangat jarang dibaca saat masih berada di Perpustakaan SD Islam Diponegoro. Yang pasti, buku ini belum pernah dipinjam untuk dibawa pulang. Kita bisa telusur dari lembar kertas yang ditempel di sampul belakang. Belum terdapat riwayat peminjaman buku. Sayang sekali. Pemerintah mencetak banyak buku, namun hanya menjadi buku koleksi sekolah, bukan untuk dibaca.

Paragraf pembuka penulis ingin mempertegas tentang keberagaman dan toleransi. Pada kalimat kedua: “Ceramah diberikan oleh seorang mubaligh Majelis Dakwah, Abu Hasan Toha. Selain umum diundang juga anggota Karang Taruna, ibu-ibu PKW, tokoh-tokoh agama: Islam, Kristen Khatolik, Kristen Protestan, Buddha dan Hindu, serta tokoh-tokoh masyarakat: Golkar, PDI dan PPP.” Keberagaman, menghargai sesama, toleransi juga ditandai dengan pemilihan nama tokoh: Salim, Kristianti, I Made, A Chau, Giok Joei Nio, Peter, Trisnowati, dan lain-lain. Dari pemilihan nama ini kita bisa melihat penulis ingin menyentuh berbagai kalangan, agama, etnis, dan wilayah dari berbagai pulau.

Di akhir bab pertama, penulis menyampaikan pesan: bagaimana cara menyelamatkan bangsa dan negara kita? Pesan yang biasa disampaikan dalam banyak acara. Kita membacanya: “Tiap kita menjaga keamanan, saling hormat menghormati, hidup bergotong-royong, menjadi manusia yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik, memiliki keterampilan yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara, cinta tanah air, dan lain-lain.”

Tujuan yang sangat mulia. Tapi, apakah sudah waktunya, pembaca anak dibebani pesan-pesan moral yang begitu agung seperti ini?

Buku Pembangunan di Negara Kita terdiri dari 12 bab, 80 halaman. Ilustrasi sampul dan isi digarap Dino AS. Dino AS membuat 11 ilustrasi isi buku dan sampul. Di halaman 63, terdapat dua foto hitam putih. Entah, siapa fotografernya. Pada caption tertulis Bapak Soeharto, Presiden, Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Satu foto lainnya ber-caption Bapak Sudharmono S.H., Wakil Presiden Republik Indonesia. Buku ini ingin mengingatkan pada semua pembaca kepada Bapak Pembangunan Republik Indonesia. Gelar Presiden Soeharto waktu itu.

Buku ini menjadi salah satu buku bertujuan untuk membentuk karakter bangsa melalui bacaan anak. Nilai-nilai Pancasila dibabarkan panjang lebar. Kita bisa melihat dari daftar bacaan Gazali Dunia dalam menulis buku ini, terdapat di halaman terakhir: Kurikulum Sekolah Dasar 1975 (Depdikbud), Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik (Nugroho Notosusanto), Pendidikan Moral Pancasila untuk SD, SMTP, SMTA (Depdikbud), dan beberapa buku lainnya. Dari daftar bacaan ini, kita sudah bisa menebak isi cerita. 

Secara berturut-turut 12 bab dalam buku: (1) Taqwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) Pancasila, (3) Elyas Pical Menjadi Juara Dunia, (4) Musyawarah untuk Mufakat, (5) Besuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, (6) Menjaga Kebersihan I, (7) Menjaga Kebersihan II, (8) Gerak Badan, (9) Pemerintah Negara Kita, (10) Taman Mini Indonesia Indah I, (11) Taman Mini Indonsia II, dan (12) Pembangunan di Negara Kita. 

Yudi Latif menulis esai di Kompas, 3 Juni 2021, dengan judul “Pancasila dalam Perbuatan”. Tulisan diawali dengan paragraf demikian: “Memperingati momen kelahiran Pancasila seperti mengenakan baju kebesaran secara terbalik. Bangsa Indonesia boleh bangga memiliki konsepsi ideologi Pancasila dengan visi dan relevansi yang senantiasa aktual dengan perkembangan zaman. Namun, operasionalisasi konsepsi Pancasila itu dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan berbangsa kian jauh panggang dari api.”

Dari ungkapan di atas, sepertinya negara kita masih memilki PR besar dalam penyampaian nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai landasan negara masih belum bisa masuk ke dalam sumsum seluruh individu masyarakat Indonesia.

Kita kembali ke buku Pembangunan di Negara Kita. Paparan nilai-nilai Pancasila dan turunannya dijelaskan di semua bab. Khusus pada bab 6 dan 7, Gazali Dunia secara detail menjelaskan pola hidup bersih: “Tempat tidur haruslah luas. Kasurnya jangan terlampau lunak. Tinggi bantal sedang saja. Pakaian tidur hendaknya longgar. Alas tempat tidur tiap hari dijemur, dua kali seminggu dicuci. Kasur dan bantal sekurang-kurangnya sekali seminggu dijemur. Kelambu yang dipakai hendaknya menutupi tempat tidur dengan baik, supaya nyamuk tidak dapat masuk. Pada tempat tidur yang bertiang, pasanglah kelambu di sebelah dalam tiang. Pinggir kelambu jepitkan ke bawah kasur kalau kita tidur. Sebaiknya tiap orang tidur di tempat tidur sendiri-sendiri. Dengan demikian kita selalu mendapat udara segar.” 

Pada masa Orde Baru, secara terstruktur pemerintah membuat kurikulum pembelajaran nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di SD-SMA, para siswa mendapat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Pada saat masuk perguruan tinggi mendapat orentasi mahasiswa baru dan wajib mengikuti seminar-penataran P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila). Sehingga penerbitan buku berjudul Pembangunan di Negara Kita rasanya sesuai dengan misi-misi pemerintah masa lalu.

Muhammad Safroni, peminat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s