Kerupuk: Pedagang dan Pembeli

Happy Budi

KERUPUK bisa dimakan kapan saja sebagai camilan atau menjadi pendamping makanan utama. Bahkan, kerupuk malah jadi lauk utama, saat sedang kere tak punya uang. 

Kerupuk pun punya penggemar garis keras. Tidak bisa makan kalau tiada kerupuk. Anggaplah makan tanpa kerupuk bagaikan bujangan tanpa kekasih. Meski begitu, tetap ada hater (pembenci) di antara pemuja, yang menuduh kerupuk  tak punya nilai gizi dan bikin batuk. Ironisnya, anak-anak yang didakwa kurang gizi, sangat nge-fans makan nasi berlauk kerupuk.  

Soal hater, Iko Uwais bisa jadi contoh. Kerupuk kriuk, renyah, dan ringan tak berdaya ini ternyata bisa membuat pria berotot sepertinya ketakutan. Audy, istrinya, bisa langsung mandi jika ada remahan kerupuk mengenai tubuhnya. Namun Audy tetap makan kerupuk di saat suaminya sedang tidak ada di rumah. Sebuah negosisasi apik yang mengakomodasi kepentingan para pihak tanpa perlu menghadirkan peperangan. Audy juga tak perlu menembang: “Tahukah kamu, semalam tadi, aku menangis…” Audy tak pernah menangisi kerupuk.

Di tengah-tengah, ada penikmat kerupuk seperti judul film Dono-Kasino-Indro: Kanan Kiri Oke. Ada kerupuk dimakan, tidak ada kerupuk tidak merana. Sayangnya, belum pernah ada data untuk kaum abu-abu “geleman” seperti ini.

Beralih ke pemerataan kerupuk hingga sampai di tangan kaum pemuja atau “geleman”, ternyata akses mendapatkan kerupuk bisa jadi beragam. Bisa jadi lebih cepat atau sebaliknya. Semuanya ditentukan oleh moda operasional penjualnya.

Yang jamak kita lihat di Kota Malang adalah bapak-bapak penjual kerupuk mengendarai sepeda motor dan di joknya terdapat satu atau dua keranjang bambu berdiameter kurang lebih 1 meter. Di dalamnya, terdapat plastik bening jumbo sebagai bungkus kerupuk bulat putih bolong-bolong. Kerupuk ini biasanya disebut kerupuk putih.

Namanya Ibrahim (38 tahun). Setidaknya membawa kerupuk putih sebanyak 15 kg. Jika konsumennya beruntung, kerupuk-kerupuk itu akan dikemas dalam plastik 3 kiloan seharga Rp 5.000 tertaburi irisan daun bawang dan seledri yang menambah rasa. Pada masa pandemi, bapak beranak 3 itu, menjualnya dan biasanya baru habis dalam 3 hari. Padahal, sebelum pandemi, pria kelahiran Ciamis itu biasa membawa sebanyak 60 kg, yang habis dalam sehari berjualan! Berat segitu tingginya sekitar 3 meter menjulang di balik punggungnya.

Dalam rantai industri, dia berperan sebagai distributor. Namun, dia tidak keberatan turut serta menjadi bagian produksi dalam hal menggoreng kerupuk yang harus dicelupkan pada 2 kali minyak agar merekah dan tidak mudah melempem. Tidak hanya itu, dia harus memiliki skill tingkat dewa saat harus memasukkan kerupuk dalam plastik secara presisi jumlahnya sehingga pembeli tidak saling iri. Juga harus pandai mengikat tali rafia agar kerupuk terjaga dalam plastiknya secara aman dan gampang dicantolkan di stang motor pembeli.

Layanan paripurna adalah menyediakan kerupuk mentah dari pabrik lain seperti dari Banyuwangi atau Sidoarjo. Lalu, dia bersama sejawat pekerja pabrik di daerah Karang Ploso, Kabupaten Malang, menggoreng dan mengemas dalam plastik seharga Rp 5.000. Aneka kerupuk bikinan pabrik lain itu bersanding dengan kerupuk bikinan pabriknya. Katanya, biar orang tidak jenuh dan bisa memilih aneka macam kerupuk dan pembeli tidak hanya punya pilihan kerupuk buatan pabriknya saja. Kalau pembeli senang, pasti akan datang lagi. Dia tak merasa rugi meski menjual produk pabrik lain.

Katanya, biar orang tidak jenuh dan bisa memilih aneka macam kerupuk dan pembeli tidak hanya punya pilihan kerupuk buatan pabriknya saja.

Setiap hari, kecuali Minggu, pria yang suka membaca buku tentang fikih saat menunggu pembeli datang, memiliki tempat mangkal. Pagi mulai pukul 06.00-09.00 WIB, di pertigaan jalan bersama penjual sayuran, buah, dan tempe keliling. Setelahnya hingga siang, pindah lokasi di area perumahan.

Rata-rata yang datang membeli adalah para ibu/perempuan sembari berdaster atau baju seadanya tanpa polesan make up. Tapi, dari 4 orang perempuan, setidaknya ada juga bapak-bapak yang beli kerupuk. Mungkin dimintai tolong istrinya atau sedang jalan-jalan lalu mampir.

Pria yang sudah berjualan 18 tahun di Malang ini, punya kiat agar kerupuknya tetap renyah kurang lebih seminggu. Caranya, di dalam plastik besar, alasnya diberi keprekan bawang putih, setelah kerupuk selesai ditiriskan.

Sama-sama mengedarkan dengan sepeda motor, Ari (29 tahun) warga Kabupaten Malang, punya jalan lain untuk turut mengantar kerupuk kepada konsumennya. Sejak pandemi, dia memutuskan memulai usaha kerupuk sendiri, setelah keluar dari pabrik kerupuk, tempatnya bekerja. Yang dia lakukan adalah menggoreng, membungkus, dan mendistribusikan sendiri. Setiap hari, dia keliling ke 30 toko/warung langganannya. Setiap minggunya akan kembali me-retur atau menambah kerupuknya. Setidaknya, dia menghabiskan 350-an bungkus kerupuk setiap minggunya. 

Tidak semua distribusi kerupuk secepat yang dilakukan Ibrahim dan Ari. Pedagang senior yang setia memanggul pikulan membawa dua kaleng berdiameter 1 meter itu namanya Kindi (73 tahun). Hampir 32 tahun, dia menjajakan kerupuk yang diambil dari sebuah pabrik di Polowijen, Kota Malang. Hanya satu jenis, kerupuk putih/bawang. Yang menarik, pelanggan bisa memilih sendiri jenis kerupuk yang agak kecoklatan gosong atau putih bersih. Bonusnya, pembeli yang masih didominasi emak-emak, boleh meminta taburan bawang goreng di atas kerupuk yang dibeli.

Kakek yang berpenampilan necis lengkap dengan topi, kaca mata hitamnya, dan bersepatu merasakan betul dampak pandemi. Sebelumnya, dia bisa berjualan keliling berjalan kaki setiap hari. Namun, sejak pandemi, seminggu hanya 2-3 hari. Itu pun, 2.500 biji kerupuk belum tentu habis. 

Kakek yang berpenampilan necis lengkap dengan topi, kacamata hitam, dan bersepatu merasakan betul dampak pandemi.

Ada satu cara lagi mengakses kerupuk di Malang, yaitu mendatangi rumah yang  halaman rumahnya dijadikan tempat berjualan kerupuk. Bu Yono, pemilik rumah, mengaku hanya dititipi aneka jenis kerupuk yang tercantol mengelilingi dua buah keranjang bambu besar nan dalam. Dia turut menjualkan kerupuk tersebut selama tiga tahun terakhir. 

Setiap hari pengedrop menitipkan sekitar 140 bungkus dan tersisa 10-20 setiap harinya. Tidak jarang, bisa habis. Kebetulan, rumah Bu Yono bersebelahan dengan warung yang menjual aneka sayuran yang cukup lengkap dan mulai buka jelang sore hari. Orang yang belanja di warung sebelahnya lebih mudah jika ingin membawa pulang kerupuk. Bisa jadi, kerupuk memang ditakdirkan selalu berdekatan dengan sumber bahan makanan manusia. 


Happy Budi, pendongeng dan pengganyang kerupuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s