Sekali Kerupuk, Tetap Kerupuk

Lyly Freshty

KERUPUK tak seistimewa rempah yang sejak dulu mengundang kaum asing berebutan menguasai Indonesia. Sebab, orang ingin mendapatkannya mungkin tak harus susah-susah. Di Indonesia, kerupuk itu melimpah, mendatangi jutaan lidah. Ia memberi kriuk. Oh, suara itu sungguh-sungguh menggoda!

Sebetulnya, tak hanya sebagai cemilan atau jajanan, kerupuk juga menjadi pelengkap menu makanan utama. Makan apa saja bisa lebih komplet dengan kerupuk. Bahkan, ada orang-orang yang merasa belum lengkap makannya kalau belum ada kerupuk. Posisinya bisa setara lauk. Maka, lazim melihat orang makan nasi dengan kerupuk saja atau kerupuk bersanding sayuran dan macam-macam sup. Di meja makan orang Indonesia, kerupuk adalah dambaan. 

Makanan selera Nusantara pun biasa ada kerupuknya. Sebut saja macam-macam soto, sayur pecel, urap-urap, gado-gado, lotek, karedok, dan sejenisnya. Jangan lupa pada makanan lontong, rawon, semanggi suroboyo, bakso, nasi goreng, bubur ayam, daftarnya bisa panjang jika dirinci satu per satu. Semua melengkapinya dengan kerupuk. Memakannya menjadi lebih seru dengan kriuk-kriuk.

Kerupuk memberi godaan dan kenikmatan. Kerupuk yang menggoda dengan kriuk lama-kelamaan tak harus kriuk. Makanan bercerita lain setelah tak abadi dengan kriuk. Kerupuk pun cepat melempem. Jadi, makan kerupuk harus buru-buru dan seru-seru supaya tidak keburu melempem. Kerupuk telanjur kena angin dan masuk angin akan merana. Melempem! 

Kita jangan menangis seharian atau meratapi nasib bila mendapati kerupuk melempem. Ada orang memberi jurus penyelamatan. Konon, kalau tak ingin cepat melempem, segera masukkan saja kerupuk itu ke dalam freezer, mesin pendingin kulkas. Pendingin itu akan membuatnya dehidrasi. Kadar air yang tinggi pada kerupuk melempem akan diserap oleh pendingin. Tunggu saja, nanti kerupuknya renyah kembali!

Orang makan kerupuk menuntut kriuk artinya orang “kolot”. Ada juga ternyata yang tak terlalu peduli sensasi kriuk-kriuk. Orang itu mudah saja makan kerupuk dengan diremuk, diaduk, dicelup, dicocol bahkan dimasak sampai lembek dulu, baru dinikmati dengan sensasi yang berbeda. Tak ada kriuk, tapi tetap saja itu kerupuk. 

Orang mau yang kriuk atau yang lembek-melempem, suka-suka saja. Orang-orang Indonesia tetap saja merayakan kenikmatan dengan kerupuk. Dari desa ke kota, pelosok hingga ibukota, semua jajan dan makan dengan kerupuk. Kerupuk tak pandang usia, dari anak-anak hingga nenek-nenek boleh menikmati kerupuk. Kerupuk tidak mengandung bias gender, laki-laki maupun perempuan bebas menyantap kerupuk. Tak ada efek-efek khusus juga pada lelaki maupun perempuan seperti kalau mengonsumsi jamu-jamuan tertentu. Jadi, kerupuk tidak dapat ditumpangi isu bias gender. Ia tidak cocok dijadikan simbol memperjuangkan kesetaraan gender, justru sebagai perlambang kesetaraan itu sendiri. Kerupuk juga tak kenal strata sosial. Mau yang miskin, golongan menengah, sampai kaum elite, sama-sama menyukai kerupuk, sama-sama berhak memakan kerupuk, sama-sama mempunyai indera pengecap untuk merasakan nikmatnya kerupuk. 

Dari masa ke masa, kerupuk menguasai hajat hidup orang banyak. Indonesia menjadi negara kerupuk. Kehadirannya telah memikat jutaan lidah. 

Lyly Freshty, pemikir kerupuk tidak sepanjang masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s