Alamat

Margarita Riana

PADA tahun 1995, anak-anak SD kelas 3 sedang senang-senangnya menikmati kemampuan menulis. Dia sudah tidak perlu lagi menulis dengan mengeja huruf per hurufnya. Bahkan, tulisannya mulai bisa dibentuk sesuka hatinya. 

Pada masa itu, anak-anak tinggal tidak jauh dari sekolah. Sekolah di dekat titik 0 Jogja tentu saja mempunyai murid di sekitar itu. Paling pol 2-3 km jauhnya dari sekolah. 

Buku diari. Buku khusus berisi data diri dari teman-teman sekolah. Saling bertukar nama lengkap, makanan kesukaan, kegiatan favorit, nomor telepon, dan alamat. Alamat-alamat dituliskan dengan sangat rinci. Di Yogyakarta, anak-anak menuliskan alamat dengan sangat singkat tanpa menambahkan nomor RT dan RW. Cukup menuliskan nama kampung, kode kecamatan, nomor rumah, dan kode pos. Misalnya, Sayidan, GM II/186, Yogyakarta 55121. Alamat singkat ini memuat arti yang sudah lengkap. Nama kampung Sayidan. GM II berarti nama kecamatan Gondomanan dan nomor rumah 186. Kode pos 55121 mempertegas area rumah di Kota Yogyakarta, Kecamatan Gondomanan, Kelurahan Prawirodirjan. Pak pos tidak pernah salah mencari alamat ini. Cukup mudah dan pasti ditemukan.

Dalam buku diari, dituliskan MJ I. Artinya, berada di daerah Kecamatan Mantrijeron. TR I artinya ada di daerah Kecamatan Tegalrejo. JT II artinya ada di daerah Kecamatan Jetis. DN III artinya berada di Kecamatan Danurejan. Saat sanak saudara dari daerah lain ingin mengirimkan barang ke alamat ini, mereka pasti akan bertanya: memastikan alamat singkat ini. Apakah perlu mencantumkan nomor RT dan RW agar paket cepat sampai tujuan? Jika paket dikirimkan dengan mencantumkan alamat singkat ini, pak pos akan mengirim tepat ke alamat yang dituju. Kode-kode daerah di Jogja memang cukup menjelaskan daerah mengacu alamat itu bisa ditemukan. 

Namun, saat tahun-tahun berganti, nomor telepon enam digit mulai menjadi hal istimewa, alamat-alamat dengan kode-kode unik ini mulai berkurang. Cara menuliskan alamat, anak-anak mulai menambahkan nama jalan di depan kode-kode itu. Ada keistimewaan tersendiri saat alamat rumah memiliki nama jalan. Pada masa 1990-an, alamat dengan nama jalan berarti rumah berada di pinggir jalan (besar atau utama). Kebanggaan yang tak terkira, berarti rumah sangat mudah dijangkau. Kemungkinan besar rumah itu merangkap sebagai toko. Aneka macam jalan mulai bermunculan. Gang-gang sempit pun mulai mendapatkan nama. Gang yang hanya selebar stang motor juga mendapatkan nama. Banyak nama jalan dan gang yang sama. Nah, mulailah peran nomor RT, RW, nama kelurahan, kecamatan, kabupaten/kotamadya, dan provinsi menjadi sangat penting. Jika hanya berbekal alamat singkat dengan menuliskan nama jalan dan nomor saja, dipastikan akan sangat sulit dan menghabiskan tenaga untuk menemukannya.

Buku berjudul Imperium Tanda yang ditulis oleh Roland Barthes mempertanyakan alamat. icontohkannya suatu daerah di Tokyo yang tidak memiliki nama jalan. Hanya tukang pos yang dapat menemukan alamat yang dituju. Ketergantungan akan kode-kode alamat ini terjadi karena adanya sifat individualitas. Bersikap seolah-olah dapat melakukan segala sesuatu sendiri. 

Hal ini akan berbeda pada anak-anak yang tinggal di desa. Mereka hanya membutuhkan nama desa dan nama orang tua agar teman-teman dapat datang berkunjung. Bekal luar biasa berat diberikan yaitu tanda-tanda alam di sepanjang jalan menuju alamat rumah. Banyaknya belokan, adanya bangunan-bangunan milik orang-orang terkemuka, pohon-pohon, sungai, dan tempat-tempat umum (pasar atau lapangan). Anak-anak berjalan seperti mencari jejak kadang bertanya pada penduduk sekitar tentang  benar-tidaknya menuju arah yang tepat.

Ditarik mundur ke masa 1980-an, orang-orang sudah mulai mencatat alamat-alamat rumah. Bukan dalam sebuah buku diari besar dan berwarna-warni, melainkan dalam sebuah buku alamat. Myra Sidharta (1992) dalam majalah Matra mengungjapkan, menuliskan sebuah buku alamat kadang memang mirip sebuah buku agenda pribadi. Ternyata, catat-mencatat alamat ini sudah menjadi keasyikan tersendiri. Membaca catatan teman dalam sebuah buku diari membuat kenangan bersama teman muncul dengan canda tawanya atau dengan kejengkelan-kejengkelan khasnya. Hal ini sangat memungkinkan karena dalam membagikan data diri, si penulis akan menghias halaman buku itu diari itu. Terkadang si penulis mencantumkan foto diri dengan tanda tangan di atasnya. Sungguh kenangan-kenangan itu dapat keluar dari halaman buku tanpa perlu dipaksa dan dipancing-pancing.

Sama halnya yang terjadi dalam buku alamat. Mereka bahkan tidak perlu meminta orang lain untuk mengisi buku alamat itu. Si pemilik bukulah yang menulis dan mencantumkan nama dan alamatnya. Tidak terbayang bagi generasi 1990-an yang sedang duduk di sekolah dasar tentang keajaiban buku alamat. Buku yang hanya berisi nama, alamat, dan nomor telepon. Deskripsi keajaiban buku alamat ini dijelaskan dengan sangat rinci oleh Myra Sidharta (1992) dalam esainya yang berjudul “Buku Alamat”. Ia menuliskan keajaiban mengisi buku alamat. Ia menceritakan pengalamannya saat mengisi buku alamat baru yang membawanya kembali ke macam-macam kenangan mengenai orang-orang yang pernah mempunyai hubungan yang baik maupun buruk dengannya.

Manusia kota dan desa sungguh berbeda adatnya. Manusia kota yang asyik dengan kode-kode alamat dan kenangan-kenangannya. Manusia desa yang handal dengan kode-kode alam dan kesenangannya berkomunikasi. 


Margarita Riana, ibu mengikuti Kaum Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s