Angus …

Eny Fatimah

KOMPOR dan masa depan. Piye? Kompor mungkin terpinggirkan dengan aneka rupa kecanggihan teknologi. Teman bercerita bila di Jepang yang nasi saja ada yang tinggal dihangatkan microwave. Eh, langsung dimakan saja. Konon, daya tahannya bisa lama, tak seperti nasi di Indonesia. Cepet mambu! Jadi pakan pitik! 

Majunya zaman memang marai mbokmbokan gagrak lawas ini gumun tenan. Nantinya, orang-orang manja-manjaan dengan teknologi agar makan enak. Njuk ngono, sekarang sudah tidak zamannya kuku menghitam gara-gara isah-isah bokong wajan, manci, kethel sing rupane ireng jlitheng. Tangan dan kuku menghitam terkena angus dari api di dapur yang mubal-mubal. Elok pokoke!

Isah-isah (mencuci) perabot dapur sekarang jadi lebih mudah tur ngirit waktu. Seumpama tinggal mlayu karo dandan gincunan selesai. Sebab, wajan, panci sekarang bokongnya mulus. Istilah berlebihannya adalah glowing seperti mukane artis.

Kompor gas masa kini memang lebih bersahabat dengan lingkungan, tak ada asap. Nyala api biru seperti langit yang sedang syahdu mendayu. Tinggal ceklik, masakan mateng dhewe. Tinggal dikasih bumbu instan mulai dari merica, tumbar, santan kara yang memanjakan tangan wanita karena tidak perlu marut kelapa. 

Kompor zaman sekarang beda dengan zaman dulu. Ngerti bila mbokmbokan abad XXI juga perlu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Istilahnya me time. Mereka ada yang baca buku, ke salon, dan berselancar di dunia maya. Biar pinter tho?

Makanya, munculnya kompor yang bikin alat masak tetap glowing dan atap rumah juga tetap bersih itu namanya warbiasyah. Isah-isah juga jadi mudah. 

Tetiba, ingat kenangan masa lalu harus ndamu geni di pawon agar tetap terjaga nyalanya. Soalnya, kalau api padam asap mendominasi dapur menyebabkan masakan sangit. Sak baju-baju ikut sangit.

Ciloko tenan kalau di pertengahan adegan, teman sekelas yang naksir tiba-tiba mampir. Menemui teman yang lagi ngesir dengan muka belepotan jelaga, badan bau sangit, kuku berkitek arang itu rasanya sesuatu. Banget! Banget! Banget! Tapi justru itu bisa menjadi semacam fit and proper test

Menemui teman yang lagi ngesir dengan muka belepotan jelaga, badan bau sangit, kuku berkitek arang itu rasanya sesuatu.

Kalau tanggapannya positif, berarti dia termasuk yang tidak suka men-judge by the cover. Tetapi justru bangga telah menaksir wanita yang penuh jelaga karena perjuangan menghidupkan tungku di pawon. Berarti cocok dijadikan teman hidup karena siap diajak berjuang mengarungi kehidupan. 

Lha, piye? 


Eny Fatimah, perindu masa lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s