Tak Terbaca

Bandung Mawardi

DULU, Soekarno saat remaja ingin belajar sampai Belanda. Ibu memberi nasihat. Soekarno patuh saja. Situasi berbeda dialami Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Dua intelektual itu sampai ke Barat. Di sana, mereka belajar dan menggerakkan ide-imajinasi Indonesia. Konon, Eropa itu Barat. Pada masa lalu, Barat itu modern, “madjoe”, dan kolonial. Barat tak cuma arah. Masa demi masa, Barat bergelimang makna. 

Kaum muda di Sumatra dan Jawa mengangankan bergerak ke Barat. Dalih terpenting adalah pendidikan. Kita mengingat sederat nama: Sosrokartono, Willem Iskander, Raden Saleh, Noto Soeroto, dan lain-lain. Mereka menuju Belanda dan negara-negara Eropa dengan bekal pengetahuan, adat, bahasa, agama, dan impian. Sekian tokoh menemukan ketakjuban. Sekian tokoh merana dan merindu Indonesia. Mereka mengerti perbedaan Timur dan Barat. Pengalaman dan pengetahuan membuka pelbagai perkara: iman, keluarga, asmara, pekerjaan, dan identitas. 

Pada akhir abad XX dan abad XXI, ribuan orang Indonesia berkelana jauh. Mereka menuju Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, Kanada, Amerika Serikat, dan sekian negara. Mereka pun menunju Mesir dan Arab Saudi. Beragam pilihan bagi orang-orang melanjutkan studi, pulang membawa gelar. Mereka tak selalu berasal dari keluarga bangsawan, mapan, dan berduit. Perjalanan ke pelbagai negara mulai mudah dalam urusan duit. 

Orang-orang tak pernah bergerak jauh memilih mengetahui Barat dari bacaan, lagu, foto, dan film. Pada masa lalu gagasan dan imajinasi Barat bersinggungan dengan pengajaran. Bocah-bocah mendapatkan buku untuk mengerti dan menilai beragam hal. Buku bukan “panduan” agar bocah-bocah sah menuju Barat. Pesona buku adalah judul dan gambar-gambar, selain materi pengajaran. Buku lawas mengingatkan itu berjudul Djalan ke Barat disusun HP Van Der Laak, Mohammaed Sjafei, dan GJ Nieuwenhuis. Kita beruntung masih mendapatkan buku masa lalu meski tanpa sampul. Buku diterbitkan JB Wolters, 1949. Kita menandai itu tahun pengakuan kedaulatan. Ingatan penting atas nasib bahasa Belanda dalam pendidikan-pengajaran dan pergaulan di Indonesia sudah diproklamasikan pada 1945. Isi buku sering berbahasa Belanda.

Orang tak bisa berbahasa Belanda asal menduga saja setiap menemukan gambar-gambar apik. Ia tak bisa membaca. Imajinasi kengawuran diperlukan berlagak ingin mengerti manusia, tempat, peristiwa berkaitan Indonesia. Di halaman 44, ada gambar rumah, halaman, dan kerbau. Kita berimajinasi bocah-bocah di Indonesia memiliki kebiasaan memelihara kerbau. Ia menjadi gembala.

Di halaman 66, kita melihat gambar elok. Kebun atau taman itu sejuk. Kita bisa turut mengalami bermain bersama bocah-bocah di naungan pohon rimbun. Di situ, ada sungai dengan bebek berenang. Bunga-bunga tampak tebar pesona. Sekian hewan bersama bocah-bocah. Selaras. Tiga bocah bermain tangkap bola. Ada gadis kecil duduk di kursi. Ia menikmati hari atau melamun. Kita pun melihat lelaki membawa kambing. Di sana, adegan ibu menimba di sumur. Pemandangan indah. Kita tak bisa membaca cerita atau keterangan dalam bahasa Belanda. Berpatokan gambar saja menuruti imajinai ngalor-ngidul.  

Kegembiraan tampak di halaman 97. Orang-orang sedang jalan-jalan. Mereka berdandan sebagai turis atau pelancong. Seorang bocah jajan. Ia menikmati minuman. Segar. Orang-orang berjualan di tempat-tempat biasa dilintasi para pelancong atau tempat untuk istirahat. Mereka itu bergembira. Kita menduga itu alun-alun. Bangunan beratap tinggi itu mungkin tempat ibadah. Pohon-pohon teduh. Imajinasi tentang keindahan di kota.

Halaman demi halaman, kita berimajinasi tanpa petunjuk dan kepastian. Buku berjudul Djalan ke Barat memberi ingatan-ingatan dan dugaan-dugaan berkaitan Indonesia, kuasa bahasa Belanda, pengetahuan, kolonialisme, dan lain-lain. Buku-buku dari masa lalu kadang dipandangi saja tanpa terbaca. Begitu. 

Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s