Bercerailah Ibu dan Kulkas!

Rachmawati

DI kulkaslah, hidup kita disimpan dengan segala yang baik dan buruk! Kebiasaan yang terakui modern adalah menumpuk bahan makanan dengan alasan persediaan atau stok. Kulkas terbukti alat elektronik primadona di masyarakat, khususnya para ibu. Bagi ibu rumah tangga, kulkas terkadang wajib dimiliki. Katanya yang diakui banyak orang, kulkas memudahkan para ibu menyimpan bahan makanan dalam jangka waktu yang lama. 

Akhirnya, metamorfosa jenis kulkas yang ada di pasaran semakin meningkat, baik dari segi harga maupun dari ukuran. Sekarang tak jarang kita menemukan kulkas dengan harga yang mahal, mencapai puluhan juta. Kulkas ukuran besar juga semakin banyak di pasaran. Hal ini menandakan daya konsumtif berbelanja bahan makan di kalangan masyarakat tentunya meningkat.

Kulkas ukuran besar juga semakin banyak di pasaran. Hal ini menandakan daya konsumtif berbelanja bahan makanan di kalangan masyarakat tentunya meningkat.

Kulkas  menjelma menjadi benda yang mendukung hasrat konsumtif masyarakat moderen. Buktinya, kebiasaan menumpuk makanan sesuai keinginan, bukan sesuai kebutuhan. Dalilnya yakni stok! Sebab, kulkas itu untuk tempat penyimpanan yang awet, tidak akan merusak makanan yang disimpan. Padahal, kadang-kadang, makanan yang kita beli dengan jumlah banyak, yang awalnya dimasukkan ke dalam kulkas akan berakhir di tempat sampah. Makanan yang banyak menumpuk di kulkas sering terlupakan oleh penyimpan. Beberapa hari berlalu, makanan itu akhirnya tidak layak lagi dikonsumsi. Duh, pemborosan! Makanan menjadi mubazir. Orangnya berlaku menyia-nyiakan. 

Dilihat dari segi kesehatan, kulkas banyak menggunakan freon untuk alat pendinginnya. Freon itu salah satu bahan kimia yang tidak ramah lingkungan. Terpengaruilah kualitas makanan yang kita taruh dalam kulkas! Kebiasan memanaskan  masakan terutama masakan yang mengandung santan juga sangat tidak baik untuk kesehatan. Namun dengan adanya kulkas seakan menjadi solusi untuk meringankan beban para ibu. Beberapa ibu memasak dalam jumlah banyak. Apabila ada sisa, dimasukkanlah dalam kulkas. Lalu, tinggal dipanaskan ketika akan kembali dikonsumsi. Hal ini memang sangat praktis, tapi dari segi kesehatan sangat tidak bagus untuk tubuh. 

Sebagai ibu rumah tangga, saya juga sempat menggunakan kulkas. Dulunya, saya merasa terbantu dengan adanya kulkas. Tapi itu hanya berlaku beberapa tahun. Semuanya berakhir setelah tangan mungil anakku mencungkil hal sensitif pada dinding friser kulkas kami. Akibatnya kebocoran sehingga kulkas rusak dan tidak bisa di gunakan lagi. Kerusakan ini ternyata menyadarkan saya bahwa kulkas bukan hal yang wajib bagi saya pribadi.

Tukang servis yang kami panggil untuk memperbaiki kulkas yang rusak membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk memperbaiki kulkas itu. Dari sini, awal mulanya saya merasa nyaman hidup tanpa kulkas. Satu minggu saya menghabiskan waktu hidup tanpa kulkas membuat kami semakin berjarak dengan kulkas. Tanpa kulkas di rumah, saya semakin kreatif dalam berbelanja bahan makanan. Perubahannya, bahan makanan yang saya sajikan untuk keluarga saya adalah bahan yang segar. Saya semakin kreatif dalam mengolah makanan, yang saya sajikan diperkirakan cukup untuk satu hari tanpa sisa. Tentu saja ini menunjang pola hidup sehat keluarga kami. Setelah satu minggu berlalu, tukang servis mengabari ada beberapa bagian yang harus diganti dengan biaya yang cukup mahal. Saya memutuskan tidak memperbaikinya, lalu menjualnya dalam keadaan rusak.

Saya semakin kreatif dalam mengolah makanan yang saya sajikan diperkirakan cukup untuk satu hari tanpa sisa. Tentu saja ini menunjang pola hidup sehat keluarga kami.

Sudah hampir tiga tahun lamanya saya tidak menggunakan kulkas. Keputusan ini sangat membantu saya hidup hemat. Saya sangat jarang membuang makanan dibanding dulu pada saat masih menggunakan kulkas. Saya menghemat beberapa watt listrik tanpa kulkas di rumah. Keluarga kecil saya inginnya berperan menyelamatkan bumi dengan tidak mengunakan kulkas. Buktinya, kebiasaan menumpuk makanan pada saat belanja bulanan kini sudah bukan lagi bagian dari rutinitas kami. Semenjak tidak menggunakan kulkas, kami hanya membeli hal yang kami butuhkan, bukan hal yang kami inginkan.


Rachmawati, ibu belajar apa saja  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s