Semua Bernama

Ria Santati

KISAH dimulai dengan kalimat menarik: “Ini adalah rangkaian kisah yang terjadi tidak terlalu jauh dari tempatmu!” 

Angin dari Tebing 1 bercerita tentang perasaan-perasaan dan kejadian yang menimpa 13 nama. Buku cerita anak tentang kesahajaan hidup. Mengapa 13 dan bukan 12 atau 14? Secara jenaka, Clara Ng ingin meyakinkan para pembaca tidak ada masalah dengan angka yang sering dianggap sial. Ini adalah 13 anak yang berbahagia. Tigabelas anak yang bersekolah di atap yang sama: S kolah Tebing, dengan huruf e yang hilang. 

Mari berkenalan dengan keragaman melalui 13 anak. Tia, baru beberapa minggu pindah dari kota. Di desa itu, ia berhasil bersahabat dengan suara jangkrik dan burung hantu. Monisha lebih akrab dipanggil Ponisha karena poninya yang lebat. Nur adalah satu-satunya anak perempuan yang berkerudung. Ada si kembar, Shinta dan Sitta, yang   tak benar-benar sama. Ilham dan Yudha sama-sama pandai menggambar. Bedanya, Yudha bertangan kidal. Arief, berwajah tirus suka membaca, memancing, dan sepak bola. Rosid berambut kerinting senang mengumpulkan apapun yang ditemukannya di jalan untuk dijadikan bahan prakarya. Ada Harianto, musisi Sekolah Tebing, dan Deni, anak yang tak suka menjadi bahan perhatian ini adalah pengamat benda-benda di langit. Jelas ingin menjadi seorang astronot. Si penyayang binatang di antara mereka adalah Arjuna. Dan terakhir, Ling Ling, gadis bermata sebentuk kacang almon si balerina cilik.

Pesan-pesan buku ini ditransfer secara halus. Belajar besarnya kasih sayang ibu dari induk  Si Manis Meong yang mengeringkan bulu-bulunya sehabis mandi dengan cara menjilatinya. Mencintai negeri ini dengan mengibarkan sang merah putih secara bergiliran, berdua-dua. Tak ada upacara megah dengan deretan siswa berseragam berdiri rapi. Tetapi, Nur dan Nisha yang bertugas hari itu melaksanakan tugas dengan khidmat. Membawa naik merah putih berkibar megah di ujung tiang besi seraya menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang. 

Tak ada upacara megah dengan deretan siswa berseragam berdiri rapi. Tetapi, Nur dan Nisha yang bertugas hari itu melaksanakan tugas dengan khidmat. Membawa naik merah putih berkibar megah di ujung tiang besi seraya menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang.

Di antara 28 kisah, terselip makanan bersambal kacang, gado-gado. Ada wayang beber, lagu daerah Betawi, Jali-Jali, dan juga bahasa Makassar ‘Paklalangan’ yang berarti tempat bernaung. Sesederhana itu memperkenalkan negeri yang kaya raya ini pada anak-anak.

Mencintai negeri sendiri tak berarti anti mengenal bangsa lain. Tertera nama pengarang Perancis, Antoine de Saint Exupéry, mendorong pembaca seperti saya berselancar di Google, mencari tahu siapa dia. Bu Guru yang bermimpi dibawa terbang Gatotkaca ke Galais Garnier, gedung opera terbesar di Paris.

Mencintai juga adalah sebuah pelukan erat ayah pada Deni yang hari itu mendapat nilai matematika terendah di kelas. Cara Yani, si capung membasuh sedih Sapi, teman baiknya.

Anak-anak, pembaca yang masih belia, belajar apa artinya persaingan, kompetisi yang kelak dihadapi di usia dewasa. Bukan soal siapa yang paling jago matematika, tetapi tentang kehadiran kereta api di desa  yang menjadi ancaman bagi bis-bis. Sebuah cara menyikapi kompetisi dengan sangat apik. Kereta dan bis sama-sama dibutuhkan. Bila kereta memiliki gerbong berkilat, panjang, gagah, bis juga bisa berpenampilan resik, wangi, dan cantik dihias rumbai-rumbai pada jendelanya.  

Bu Guru Sheila adalah guru yang ada di dunia nyata sekolah dasar, mengajar matematika hingga keterampilan. Alih-alih menjadi sosok sentral, yang sok bisa mengatasi semua masalah, Bu Guru naik tangga, memasukkan kepalanya ke plafon kelas mencari sumber bau yang oleh Arief dituduhkan itu adalah kentut Ilham. Anak-anak dilibatkan mengambil keputusan hendak diapakan 3 anak burung hantu yang bersarang di sana. Ya, bukankah burung hantu itu karnivor? Induknya membawa bangkai hewan untuk makanan anak-anaknya. Pantas baunya menyengat. 

Sosok guru yang ditawarkan Clara Ng adalah manusia dewasa yang humoris sekaligus kreatif. Ketika harus menghadapi masalah 13 anak ingin bermain angklung yang hanya berjumlah 8, Bu Guru membentuk kelompok musik dan lagu. Jadi, ada yang menjadi penyanyi, dirigen, dan pengiring musik. Semua mendapat peran sesuai talenta masing-masing. Pendek kata, guru itu berwawasan seluas alam semesta.

Apa warna matahari? Putih? Kuning? Bukan. Keemasan! Ya, seperti ditimpakan di atas bulu Geko yang berwarna coklat. Dan tentang hujan, air yang turun dari langit membasahi pepohonan dan jendela kelas. Suasana kelas hening bukan karena soal ulangan matematika yang sulit, tetapi semua anak menatap keluar. Melarutkan mereka dalam lamunan. Bagi Ilham hujan adalah inspirasi! Bu Guru setuju.

Angin menderu-menderu, membagikan kisah-kisah dari tempat yang dilaluinya. Angin juga yang membawa anak-anak burung belajar terbang. Begitulah, cara Clara Ng memperkenalkan siapa angin pada anak-anak. 

Setiap makhluk berkontribusi sama besarnya bagi bumi dan semesta. Kunang-kunang mengusir kesedihan malam dengan sinarnya. Tambahan, kehadiran kunang-kunang di sebuah wilayah adalah penanda air alam di situ belum dikotori polusi.

Setiap tokoh dalam buku ini bernama. Tak hanya kura-kura, capung, kura-kura dan anjing, tapi juga layang-layang. Tiba-tiba, saya teringat seorang murid yang memberi nama anjingnya Donat. Saya yakin, ia membaca juga buku ini. Donat, nama anjing Tia, gadis yang langsung jatuh cinta pada sekolah barunya di tebing dengan dinding berwarna biru, warna kesayangannya.


Ria Santati, pengajar Bahasa Jepang di SMA Regina Pacis Surakarta yang keranjingan origami

Ria Santati, pengajar Bahasa Jepang di SMA Regina Pacis Surakarta yang keranjingan origami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s