Heboh, Bukan Sinopsis

Setyaningsih

AKU menyepakati kalimat pertama Widyanuari Eko Putra ihwal resensi di tulisan “Pintu Masuk” (suningsih.net, 30 Juni 2021) dalam arti sebaliknya. Karena aku mau membaca novel, mau berdiam selama beberapa jam menukar waktu dengan halaman tebal novel, aku tidak (perlu) berterima kasih pada (penulis) sinopsis, he he he. Istilah pintu masuk atau peta merupa petunjuk awal. Tentang buku Sinopsis Roman Indonesia garapan Jakob Sumardjo, Wid mengatakan: “Menempatkan buku sinopsis sebagai buku yang ‘anti-buku’ adalah tuduhan berlebihan. Sebaliknya, lewat buku sinopsis yang merangkum novel terbitan tahun 1875 hingga 1981 itu, Jakob hendak menyajikan satu petunjuk, satu panorama, seputar novel sastra Indonesia. Anggaplah sinopsis itu sebuah peta. Untuk beberapa buku klasik yang telah hilang dari peredaran dan belum dicetak ulang, misalnya, sinopsis bikinannya bisa dianggap berjasa untuk para guru dan pembaca sastra.” 

Di luar kerewelan guru atau dosen yang menganggap sinopsis memalaskan siswa dan mahasiswa, ini benar-benar urusan lain. Sinopsis tetap mengantarkan orang-orang memasyarakatkan sastra. Aku membaca perlawatan pakar sastra anak, Soekanto SA, ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia, 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya dikemudi oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT. Tanpa sponsor pemerintah! Katei Bunko mengasup buku bacaan, para ahli bergantian diundang setiap bulan untuk memberi rekomendasi, katalog dan brosur diterbitkan. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Mereka juga punya majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Aku bayangkan dari sinilah, sinopsis ada dan berdampak.

Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Mereka juga punya majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Aku bayangkan dari sinilah, sinopsis ada dan berdampak.

Aku membuka lagi buku Amal Hamzah berjudul Buku dan Penulis (Balai Pustaka, cetakan keempat, 1964), yang dibabar lebih panjang oleh Bandung Mawardi di “Sinopsis, Langgenglah” (suningsih.net, 23 Juni 2021). Buku ini berukuran saku, enak dipegang, dan pasti mudah dibawa. Amal berupaya menggabungkan cara penulisan naratif dan juga informatif. Cara ini cenderung mengulur rasa bosan, ingin jelas tapi tidak terlalu “memanjakan” pembaca. Aku sempat ngekek di halaman 52. Amal Hamzah membahas novel Pertjobaan Setia garapan Suman Hasibuan. Aku tidak mengira saja Amal menulis begini: “Demikianlah tjerita Pertjobaan Setia berachir dengan happy ending: perkawinan hadji Sjamsuddin dengan hadji Salwiah dengan berkat pertolongan mata-mata gelap: hadji Djamin.” Oh, istilah happy ending unjuk eksis di sinopsis.  

Jika boleh nggaya, aku merasakan kemantapan menghadapi kritik sastra atau suplemen apresiasi ala “Kaki Langit” di Horison. Di sana, ada penggabungan biografi penulis, proses kreatif, apresiasi karya—mungkin ada sinopsis, tapi disajikan dengan kabur atau tidak runtut. Cara-cara ini cenderung menawarkan cara membaca, bukan “hasil akhir”. Efeknya bagiku, pencarian dan perjamuan buku secara utuh. Ada pertanyaan yang bisa juga kualami sebagai pembaca: Apa yang dipikirkan para kritikus saat menghadapi buku? Apakah mereka mewek ketika sampai di halaman pertengahan? Apakah emosi sepenuhnya ditiadakan untuk hanya bekerja dengan pikiran? Buku apa yang mengekor di belakang novel ini? 

Terkadang aku melamun, pembaca seperti apakah yang masih meminta tuah dari perbukuan sinopsis atau apresiasi (cetak); Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik (Jakob Sumardjo), Novel Indonesia Modern (Maman S. Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian), Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (H.B. Jassin), In the Shadow of Change (Tineke Hellwig), Membaca, dan Membaca Lagi (Pamela Allen). Sinopsis perbukuan mutakhir sangat ditentukan oleh keberadaan bookstagram atau situs laporan pembaca. Seorang temanku sering mengandalkan laman laporan pembaca ala Goodreads untuk memastikan buku layak dimiliki. Namun bukan sinopsis menjadi sendi penopang buku, tapi banyaknya bintang, kelarisan buku, atau jumlah pembaca. Kehebohan pastinya bukan di sinopsis. 

Sinopsis perbukuan mutakhir sangat ditentukan oleh keberadaan bookstagram atau situs laporan pembaca. Seorang temanku sering mengandalkan laporan pembaca ala Goodreads untuk memastikan buku layak dimiliki. Namun bukan sinopsis menjadi sendi penopang buku, tapi banyaknya bintang, kelarisan buku, atau jumlah pembaca.

Di Instagram, istilah review atau book review lebih populer tapi bentuknya cenderung mirip sinopsis ala pelajaran sastra di sekolah: alur runtut, tokoh antagonis dan protagonis, kelebihan dan kekurangan. Setiap novel yang hadir benar-benar terlalu otonom dan tidak mengajak melompat ke referensi di luar buku. Review tiga sampai lima paragraf hanya perpanjangan sedikit dari komentar “bagus” dan “keren”. Review itu juga imitasi dari komentar lisan yang biasanya bilang: awalnya tho, si anu begitu, si ana begitu, terus, atau endingnya begini. Daripada mengadakan sayembara menulis ulasan atau kritik, para penerbit gemar mengadakan lomba berfoto bersama buku dengan kepsyen “menarik”. Kamu ikutan dan mborong banyak like, pasti menang deh!

Saat piknik ke toko buku, aku masih menempatkan sinopsis di halaman belakang buku (baru) sebagai pertimbangan meski sering tidak sederhana kelihatannya. Misalnya, saat membeli novel Keigo Higashino yang berjudul Keajaiban Toko Kelontong Namiya (Gramedia, 2020) bercap International Bestseller (jangan berharap muluk lho). Baru pada kunjungan ketiga aku benar-benar membeli buku hanya karena satu kalimat di sinopsis: “Dan saat menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi…” Ya ampun! Siapa sih yang tidak berubah setiap hari, bahkan tokoh di dalam novel! Penerbit kira, pernyataan ini akan membuat penasaran pembaca gitu? Bagiku tidak!

Novel yang aslinya bagus banget tapi punya sinopsis yang mawut dan absurd: The Lie Tree garapan Frances Hardinge (Gramedia, 2020). Begini: “Namun, seiring kebohongan yang dibisikkan Faith berkembang tak terkendali, dia memahami bahwa di mana kebohongan diembuskan maka di situlah kebenaran akan runtuh.” Aduh! Beli saja novel ini dan abaikan sinopsis! Alasanku membeli novel ini adalah tulisan di bawah sinopsis.

Terkadang, aku pun mengalami hampa saat justru diteror rentetan pertanyaan dan bukan sinopsis seperti diceritakan Sekar Mayang dalam “Pengabdi Sinopsis” (suningsih.net, 19 Mei 2021). Ini soal ujian atau novel? Seorang editor saja pusing apalagi aku, Bun! 

Sumpah! Sakitnya tuh di sini kalau “ketipu” sama sinopsis!


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s