Kita, Doa, Rumah

Marhamah Aljufri

Di mana-mana suara lengkingan ambulans terdengar lebih sering mondar-mandir. Rumah yang berbalikan dengan jalan raya mendengarkan suara lengkingan tak kenal waktu. Pagi, siang, sore, dan malam, suara ambulans jarang absen. Setiap suara lengkingan memberi tanda kendaraan khusus itu sedang mengantarkan yang mengalami sakit, luka, atau meninggal dunia. 

Ambulans mengantar orang sakit yang harus segera mendapat penanganan terdengar lebih lantang, tempo rapat, dan cepat. Ambulans dengan pasien yang butuh ke rumah sakit tak buru-buru, suaranya lebih pelan. Beda lagi sirine ambulans mengantar jenazah, terdengar sedih. Suaranya lebih panjang dan menangis. Kendaraan khusus disebut ambulans tersedia dalam jumlah terbatas. 

Mendengar sirinenya terbayang keluarga-keluarga yang berduka. Sedih, khawatir, takut, dan gelisah campur aduk memenuhi ruang rasa. Campuran rasa mengingatkan bahwa sehat sangatlah berharga. Orang mampu berusaha untuk tetap sehat, tetapi sakit kadang datang tidak diundang. Orang-orang berharap jauh dari sakit. Kenyataannya, usaha-usaha manusia ingin selalu sehat, belum menjamin penuh hidupnya akan selalu sehat. Manusia tetap perlu berusaha meski tahu bisa saja datang masa untuk bersabar, pasrah dan berdoa. 

Orang-orang berharap jauh dari sakit. Kenyataannya, usaha-usaha manusia ingin selalu sehat, belum menjamin penuh hidupnya akan selalu sehat. Manusia tetap perlu berusaha meski tahu bisa saja datang masa untuk bersabar, pasrah dan berdoa.

Revolusi doa dan kepedulian kepada sesama yang sedang sakit menumbuhkan ide untuk “membangun sesuatu bersama-sama” di area kumuh Calcutta: “Kami ingin membicarakan dengan Anda, bagaimana caranya supaya kami bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi para penghuni di sini” (Dominique Lapierre, City of Joy: Negeri Bahagia, 2008). Kalimat itu disampaikan Margareta yang mengajak beberapa orang bersamanya bicara kepada Stephan Kovalski, pastor yang datang dari Polandia. Ide menjadi gerakan bernama Komite Gotong Royong. Kawasan terlalu banyak orang sakit: tuberkulosis, lepra, infeksi, dan lain-lain. Perlu pionir untuk mendampingi mereka yang papa. Langkah-langkah strategis dilakukan. Langkah hendak mengubah ketidakberdayaan sendiri menjadi usaha bersama-sama.

Berita hangat bertanda pagar PrayFromHome menggema hari-hari ini. Kita diajak berdoa oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas: “Ikhtiar zahir sudah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah. Bukan hanya itu, ikhtiar batin juga terus dilangitkan. Semoga pandemi lekas sirna. Ayo kita semua #PrayFromHome.” Ada usaha nyata yang mesti dilakukan (cuci tangan, pakai masker, jaga jarak) dan ada usaha dalam batin sebagai permintaan pada Tuhan. Pesan ikhtiar ingin menggugah pembaca-pembaca memahami realita pandemi masih ada. 

Berdoa telah menjadi kebiasaan sebagian besar manusia Indonesia. Menteri Agama mengajak orang-orang berdoa dari rumah ingin kebiasaan berdoa di tempat ibadah ditunda  untuk sementara. Sebenarnya, kita sudah biasa berdoa di mana saja. Di sawah, orang berdoa semoga tanaman terhindar hama dan panen melimpah. Ibu-ibu memasuki pasar berdoa semoga cukup uang dibawa untuk belanja. Orang pergi ke bank berdoa semoga antrean tidak banyak. Kita ingat anak di mana saja berdoa semoga anak sehat jiwa-raga. Hidup berbangsa dan bernegara, kita dihimbau berdoa di rumah saja. 

Himbauan perlu dianggap penting dikumandangkan karena berdoa di tempat ibadah artinya bakal ada potensi terjadi kerumunan. Kerumunan dipercaya akan mempercepat penularan virus. Ajakan #PrayFromHome disambut koordinator Gusdurian, Alissa Wahid, yang  mengajak masyarakat saling menjaga satu sama lain dengan beribadah di rumah. Tagar ajakan berdoa dari rumah bergelora di pelbagai media massa. Himbauan berdoa dari rumah menjadi gerakan bersama doa lintas iman untuk Indonesia sehat diadakan Rabu, 7 Juli 20201, oleh grup band Slank.

Penegasan pentingnya berdoa dikemukan Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia pada acara Doa Lintas Iman dan Harapan Slank: ”Abdul Haris menyampaikan kegiatan doa bersama ini merupakan hal penting karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama, bangsa religius, bangsa ber-Tuhan, seiring dengan berbagai upaya lainnya.” Masyarakat Indonesia adalah bangsa beragama sedang dikepung wabah penting mengingat Tuhan dan berdoa. Tuhan perlu dihadirkan dalam upaya-upaya menanggulangi wabah. Kita hendak mengakui bahwa rasionalitas manusia memiliki batas dalam menghadapi pandemi. Hal disadari Bimbim Slank: “Kok belum ada gerakan doa untuk merespons pandemi corona padahal segala upaya telah kita lakukan.” Upaya belum segala, tertinggal gerakan doa ingin digelorakan bersama.

Kita dikepung wabah melakukan upaya-upaya untuk selamat. Selamat itu utama. Karena keutamaan itu, tidak jarang orang berpikir selamat terlalu berpusat. Nalar menjadi jalur pembenaran masing-masing orang untuk mencari selamat. Sebagian kita mudah tergiur memborong susu, vitamin, obat, dan segala hal mencari selamat sendiri-sendiri. Sebagian lagi mudah terbawa emosi melihat orang-orang mencari selamat sendiri. Manusia gelisah merasa terancam tidak selamat. Oh, manusia marah pada manusia lain!

Sebagian lagi mudah terbawa emosi melihat orang-orang mencari selamat sendiri. Manusia gelisah merasa terancam tidak selamat. Oh, manusia marah pada manusia lain!

Gerakan #PrayFromHome mengajak kita berpikir lebih besar. Kita mengaku ber-Tuhan perlu menghargai sesama. Ajakan berdoa hendak mengumpulkan lebih banyak manusia menyelami kesadaran tentang keselamatan bagi semua. Tidak hanya diri sendiri, keluarga sendiri, keselamatan banyak orang menjadi harapan semoga tercapai.  Selain upaya nyata, bermunajat kepada Tuhan menjadi putusan bajik. Gerakan bersama #PrayFromHome dalam hajat bersama menginginkan keselamatan bagi semua orang dengan laku bijak. 

Berdoa dari rumah, tidak berkerumun, dan meminimalisir potensi wabah makin meluas. Di saat sendi-sendi kehidupan makin menghimpit seperti sekarang ini, esensi selamat semakin dirasai. Orang-orang saling menguatkan melantunan doa, semoga kita semua bisa bertahan dan selamat  melewati pandemi.


Marhamah Aljufri, penulis tergabung di Mbokmbokan Malem Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s