Menanti Jawaban Doa

Eva Rini Tampubolon

JIKA beberapa hari sudah tidak turun hujan, saya bisanya berbisik dalam hati agar Tuhan menurunkan hujan. Hujan, hasil kerja alam yang tidak bisa saya atur-atur kapan turun dan berhenti. Makanya, saya berdoa memintanya. Ketika masuk musim hujan, saya pun membisikan hal yang lain:  meminta agar matahari bersinar cerah. Duh! Apa kabar jemuran yang sudah berlapis-lapis.

Kadang-kadang bisikan doa saya terkabul. Hujan datang ketika saya memang sedang mengharapkannya. Kadang-kadang saya juga kepikiran pada orang-orang di waktu yang sama bisa saja berdoa agar hujan tidak turun. Doanya tentu tidak terkabul. Di waktu lain, saya mendapati doa saya akan hujan tidak terkabul sedangkan doa orang lain terkabul. Meski kita semua bebas berdoa apa saja tapi jawaban doa itu tidak bebas kita tentukan. 

Dari waktu ke waktu, doa tetap jadi andalan meski jawabannya tak selalu sesuai harapan. Kita bisa melihat pada ritual-ritual hidup orang desa yang menggarap ladang-ladang. Hasari Pal, seorang petani India yang dikisahkan dalam Negeri Bahagia (Dominique Lapierre 2004), usai menabur benih di sawah langsung datang ke altar kecil di bawah pohon beringin di jalan masuk menuju sawahnya. Dia meletakkan seuntai padi di depan patung istri Dewi Shiva (pelindung para petani) lalu menghaturkan doa: “Berilah kami air yang banyak…” Nasib petani sangat bergantung pada kemurahan langit mencurahkan hujan di waktu yang tepat. Namun, Dewi Shiva tak selalu berpihak pada petani, terkadang hujan tak kunjung datang. Padahal, benih sudah ditabur atau malah hujan turun lebat hingga banjir membuat padi-padi yang sedang bunting membusuk kekenyangan air. Meski demikian, doa tak juga putus dinaikkan di setiap musim dan jawaban doa terus dinantikan.

Namun, Dewi Shiva tak selalu berpihak pada petani, terkadang hujan tak kunjung datang. Padahal, benih sudah ditabur atau malah hujan turun lebat hingga banjir membuat padi-padi yang sedang bunting membusuk kekenyangan air.

Ada juga doa-doa yang rutin disampaikan tapi jawabannya tidak terlalu dinantikan. Sebelum makan besar dalam arti ada nasi dan lauk pauknya, saya selalu berdoa. Jika makan sendirian, doanya di dalam hati. Jika beramai-ramai, salah seorang berdoa bersuara. Dalam acara khusus seperti perayaan ulang tahun, doa sebelum makan ini bisa saja panjang sekalian memohon ini dan itu. Untuk doa sebelum makan sehari-hari, singkat saja. Cukup mengucap syukur lalu meminta berkat agar makanan yang akan disantap menjadi kesehatan. Doa-doa ini sering terucap begitu saja. Tidak terlalu dinanti, apakah setelah makan sepiring nasi dengan sambal ikan teri dan sayur daun singkong tumbuk, perhatian tertuju pada tubuh akan sehat atau sakit. Biasanya, setelah perut kenyang perhatian sudah beralih ke hal yang lain. Tidak lagi memikirkan jawaban doa sebelum makan tadi.

Doa seharusnya bersifat personal. Kitab suci mengajarkan agar kegiatan berdoa dilakukan di tempat tersembunyi seperti kamar dengan pintu tertutup. Di dalam hening, tujuan doa murni meluncur dari hati pendoa kepada Tuhan, segala macam rasa bebas terungkap tanpa takut dianggap bermaksud lain. 

Namun, doa telah menjadi demikian lazim hingga di mana-mana kita biasa berdoa beramai-ramai. Sejak sekolah, murid-murid dibiasakan berdoa sekali seminggu ketika upacara bendera. Satu orang siswa bertugas membawa map berisi teks doa lalu membacakan dengan lantang di depan pengeras suara. Doa yang sama diucapkan berulang-ulang setiap minggu. Doa berlanjut di ruang kelas sebelum pelajaran agama, sekali seminggu. Bahkan di sekolah-sekolah bernafas agama, doa dilakukan setiap mengawali dan mengakhiri pelajaran.

Acara-acara besar juga tidak luput dari doa atau acara berdoa dibuat sebagai acara besar. Kita pernah melihat Monas dipenuhi massa hendak berdoa bersama memakai baju berwarna sama tapi belum tentu bertujuan sama. Acara berkedok doa rentan disusupi kepentingan politik. Doa dipolitisasi! Politikus menyindir lawan lewat doa yang dilantunkan lantang. Pihak lawan tersinggung, pendoa berdalih itu hanyalah permohonan kepada Tuhan. Perkara doa menjadi ruwet.

Doa bisa membuat ruwet tapi bisa juga dipakai meredakan keruwetan, paling tidak sebagai usaha mengurangi keruwetan. Masa-masa kini kita sedang dihadapkan pada banyak kesedihan dan ketidakpastian. Berita sehari-hari tentang nyawa-nyawa yang hilang, rumah sakit kewalahan, tenaga kesehatan bertumbangan, dan perekonomian di ambang kehancuran. Kita juga mendengar berbagai upaya pemerintah mengendalikan situasi tapi tanya kapan pandemi berakhir, tidak juga bisa terjawab. 

Seruan berdoa bersama pun datang dengan tagar #prayfromhome dari Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas, diadakan pada Minggu, 11 Julis 2021. Seruan hadir juga di lini media sosial, hadir di whatsapp group, ajakan berdoa dari rumah menjadi topik yang paling banyak disuarakan di jagat maya. Kita memang sedang tidak bisa berkumpul di Monas untuk berdoa tapi doa tetap bisa dilakukan bersama-sama dari rumah, internet membuat kita terasa bersama. Kita bersatu di dalam doa, memanjatkan permohonan terkait pandemi. Setiap doa pasti berakhir amin dan kita terus menantikan jawabannya.  

Eva Rini Tampubolon, penulis tergabung di Mbokmbokan Malem Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s