Setiap Saat Berdoa

Anggrahenny Putri

Pukul tujuh pagi, bel sekolah telah nyaring berbunyi. Anak-anak sekolah berbaris di depan kelas dipimpin oleh ketua. Masuk anak baris demi baris ke dalam ruangan. Guru berjalan menyusuri lorong menuju kelas. Ketua memberi aba-aba lantang agar terdengar seluruh kawan: “Siap grak! Beri salam!” Kemudian bersamaan kelas menggemakan: “Selamat pagi, Bu!” Setelah salam diucapkan, perintah berdoa ditegaskan: “Berdoa mulai!” Sambil menunduk ibu guru dan murid diam sejenak. Sebelum riuh ruang kembali tercipta setelah doa diusaikan. Ritual setiap pagi kala saya bersekolah dasar. Dilakukan setiap pagi, sebelum memulai pelajaran oleh ibu guru serba bisa, mampu mengampu untuk semua mata pelajaran. Menyelenggarakan doa bersama seisi kelas menjadi pemula sebelum usaha mengecap pelajaran. 

Semenjak angka kenaikan penduduk Indonesia tertular Covid-19 melonjak dan menembus rekor harian terus-menerus, pemerintah memberlakukan kebijakan PPKM Darurat. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyerukan ajakan berdoa dari rumah dengan tagar #PrayFromHome, seperti yang termuat dalam Koran Solo, 8 Juli 2021.

Berdoa tak bisa dilakukan bersama-sama seperti saat saya sekolah dulu. Namun, Slank tak kehabisan akal untuk melakukan berdoa bersama.  Slank dan Makara Art Center UI mengadakan doa bersama lintas iman secara daring. Acara dihadiri oleh tokoh dari masing-masing agama. Abdul Haris, Wakil Rektor 1 Universitas Indonesia Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menyampaikan pula: “Doa bersama ini merupakan hal penting karena Indonesia adalah bangsa yang beragama, bangsa religius, bangsa yang bertuhan, seiring dengan upaya lainnya” (Solopos, 9 Juli 2021). 

Manusia merupakan makhluk spiritual, memerlukan cara untuk memohon kepada Tuhan, lewat ibadah maupun doa terutama pada kita yang ingin dianggap beragama dan religius. Doa, bagaimanapun caranya, harus dikerjakan berbarengan dengan usaha. Di sekolah, doa digunakan sebagai pemula. Pada saat pandemi, doa dilakukan bersamaan dengan beragam usaha agar pandemi segera berlalu. 

Doa, bagaimana pun caranya, harus dikerjakan berbarengan dengan usaha. Di sekolah, doa digunakan sebagai pemula. Pada saat pandemi, doa dilakukan bersamaan dengan beragam usaha agar pandemi segera berlalu.

Telah diajarkan doa-doa dalam kitab suci. Doa dipelajari dari kitab. Membiarkan kitab suci jadi kerugian kita tak menemukan doa yang telah  dipersiapkan Tuhan untuk berat-mudahnya kehidupan manusia.

Lamat-lamat, doa terbaca semampunya. Ketika mampu doa terhapalkan, diperdengarkan agar sekitar mendengar. Mata pun ikut terpejam seolah kesungguhan ada padanya. Tangannya sering menengadah memanjatkan doa. Kepalanya makin tertunduk melambangkan kekhusyukan doanya. Kita sepakat doa mesti sungguh-sungguh dan khusuk agar terkabul. Padahal, ada doa yang tampak dalam jangkauan mata dan telinga hanya indera perasa yang menjangkaunya. Doa ibu saat menemani bayinya tidur, ia bisikkan doa dalam hatinya. Hembusan nafas dalam doanya yang menyenyakkan tidur sang buah hati. Doa yang tak dipertontonkan. Untaian kalimat menjadi rayuan antara dirinya dan Tuhan. Wujud kemesraan seorang ibu merawat dan mengasuh buah hati. Ketulusan yang membuat Tuhan luluh sehingga mengabulkan doa setiap ibu untuk anak-anaknya. Tak peduli penilaian orang bila tak terdengar, tak peduli jika tak tampak sedang berdoa, karena keyakinannya pada Tuhan.

Seorang bayi telah terlahir. Orang tua menyiapkan baju, popok, kain untuk membedong, minyak oles untuk menghangatkan badannya. Segalanya telah mereka siapkan mengiringi kelahiran anak. Tak lupa, sebuah nama dipertemukan dengan pemiliknya setelah diuntai selama berhari-hari. Mengambil nama dari kata-kata indah dengan mengandung pengharapan. Meniru sebuah nama besar pemilik jiwa besar juga kebaikannya selama hidup yang tercatat dalam sejarah. Memantaskan kata yang menjadi kecintaan orang tua untuk menjadi sebuah nama. Orang tua memilih kata demi kata yang berarti pesan dan harapan. 

Nama adalah doa untuk sang anak dari orang tua. Doa yang akan menjadi panggilan hingga hayatnya. Itu baik tapi tak cukup. Perihal lain seharusnya juga dipersiapkan, kesanggupan ilmu berperan ibu dan bapak. Tak pantas bila orang tua hanya bermodal doa. Mendoakan anaknya tetap tumbuh sehat jika yang terhidang dalam meja hanyalah makanan-makanan penuh perasa yang memanipulasi. Membiarkan anak berpetualang dengan telepon genggamnya tanpa pengawasan sementara orang tua berharap anaknya akan rajin belajar. Harapan baik, kesuksesan dan kesalehan perlu diusahakan. Usaha setulus doa tanpa pemalsuan karena anak-anak akan segera mengenalinya. Percuma bermain sandiwara di depan anak. Ialah pemegang kartu-kartu kejujuran orang tuanya. 

Harapan baik, kesuksesan dan kesalehan perlu diusahakan. Usaha setulus doa tanpa pemalsuan karena anak-anak akan segera mengenalinya. Pecuma bermain sandiwara di depan anak. Ialah pemegang kartu-kartu kejujuran orang tuanya.

Berserah saja tak bisa dibenarkan tanpa jerih payah terlebih dahulu. Mengiringi kekuatan doa agar anak menjadi shaleh dan bahagia, orang tua perlu bertumbuh bersama. Memilah nilai-nilai yang akan ia wariskan pada anak tersayang. Tak sembarangan mengambil, meniru dan memantaskan seperti saat menyimpulkan nama. Seorang peniru dan penyerap telah terlahir. Caranya berdoa serupa bapak-ibunya. Ayat yang sering diperdengarkan akan menjadi doa pertamanya. Begitu pula kebiasaan mandi yang tak bermaksud diturunkan malah yang pertama menjadi tabiatnya. Benih pemikiran mulai dimasak hingga tanak benar agar anak menumbuhkan dalam batinnya pula. Setelah semua kepayahan menjaga titipan Tuhan diusahakan, bolehlah berserah, semoga Tuhan selalu bersama. 

Pada malam yang hening, terdengar isak tangis seseorang dalam pangkuannya terduduk memanjatkan doa dalam kesepian malam. Dirinya sedang dilanda badai kedukaan. Kepada Tuhan, ia merendah diri serendah-rendahnya memohon ampunan atas segala perintah Tuhan yang tak ia hiraukan. Tangisnya tercekat, agar tak berisik, anak-anaknya sedang pulas. Hati bergemuruh memohon ampunan, sesungguhnya ia ingin menangis meraung-raung mengemis maaf pada Tuhan, agar Tuhan tahu ia sungguh-sungguh menyesal.  Mengetahui bahwa hanyalah Tuhan yang dapat mengabulkan permintaannya juga mengampuni kesalahannya. Maka, doa merupakan jalan menuju kebaikan. Tuhan menyenangi hambanya yang meminta dan memohon ampunan pada-Nya. Dalam Al-Ma’tsurat yang disusun oleh Abu Bakr Al-Thurtthusy al-Andalusi, seorang penyair berkata: Allah akan marah bila kau tak meminta kepadaNya/ Sementara anak Adam akan marah bila diminta.

Manusia meminta Tuhan mengabulkan. Namun dalam kesombongannya, manusia enggan meminta. Merasa tak enak merepotkan meski ia membutuhkan. Enggan pula dimintai. Segalanya berjalan lancar dan semestinya. Hidup berkecukupan, tak menemui kesulitan berarti. Bertuhan namun mudahnya urusan di dunia tak membuat manusia menyadari apa tujuan ia diciptakan. Hidup biasa saja. Doa tak diperlukan? Yang sedang ia kerjakan sekarang merupakan jerih payahnya sendiri. Pendoa malam yang menyesal dan seorang biasa yang lupa diri. Keduanya memiliki penampakan keyakinan yang berbeda pada doa. 

Dalam terpaan kabar ditengah pandemi. Datang berita seorang kawan mengabarkan dia dan keluarganya positif terpapar Covid-19. Menanyakan, apa yang ia butuhkan, namun hanya doa yang ia minta. Pada perbincangan dalam grup whatsapp tiba-tiba masuk sebuah foto berisi tulisan tentang seorang kerabat membutuhkan donor plasma. Hidupnya bergantung pada kebaikan darah bekas pesakit yang telah sembuh. Lingkaran penularan virus makin mendekat. 

Keesokan hari kawan menelepon suami kawan lain yang tempo hari kesehatannnya membaik hari ini meninggal, setelah tak lama mengalami perburukan. Tuhan memintanya pulang. Belum sempat hati menangis, kabar datang beruntun kerabat pencari donor plasma telah tiada. Darah belum juga didapat, kerabat terburu-buru tutup usia. 

Pada saat hidup dipenuhi kedukaan, walau bukan kita sendiri yang mengalami sendiri. Tenang begitu jauh, tak tergapai. Tubuh masih di bumi, di dalam rumah seperti biasa namun hati dan pikiran melayang pada rumah-rumah kawan yang tengah sakit, air mata melayat pada makam-makam yang ramai pengubur jenazah tak ada keluarga yang menemani. Sujud malam seolah tak mampu mengusir kekalutan dan kegelisahan. Seperti lagu yang dinyanyikan Yura Yunita berjudul “Tenang”. Terdengar: Tenang, tenang yang tak kunjung datang/ Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu/ Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri/ Tenang, tenang yang tak kunjung datang/ Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu/Tenang, tenang oh datanglah tenang hari ini. Tuhan menjadi sumber ketenangan, berharap datang seiring doa yang telah dilatunkan. Sungguh, kita hanya bisa menggantungkan diri kepada Tuhan. 

Doa boleh saja dilangitkan, tinggi rendahnya tak perlu dihiraukan itu menjadi urusan-Nya. Persoalan kita hanya memohon dan meminta. Doa juga perlu dibumikan supaya berkatnya ada pada sekitar kita. Dilakukan terus menerus, dijadikan ritual sehari-hari seperti layaknya ketika kita makan. Kelaparan karena tak berdoa. Tak sampai busung lapar karena lupa melantunkan doa yang bergizi. Bermunajat penuh cinta bagai kasih tak sampai namun tak hilang harapan. Keputusasaan yang hanya mampu ditepis oleh doa. Biarkan doa membumi hingga semua orang melakukannya tanpa paksaan, tanpa pengingat alarm, dan penuh ketulusan. Setiap saat seperti saat memulai kelas pada hari pagi di kelas, memelas belas kasih Tuhan saat kesulitan dan semoga kita tak lupa berdoa pula saat tenang telah hadir. Tetap memuji-Nya walau doa sudah berwujud. 

Doa pada awalan, tengah, dan akhir. Layaknya surat pada yang terkasih. Ada buaian salam yang memabukkan berisi pujian-pujian atas kebaikan Tuhan. Berisi penuh permohonan dan permintaan serta bantuan pertolongan karena hanyalah Ia yang berkuasa atas alam semesta. Disampaikan dengan hati-hati, tulus, dan ikhlas. Menutup dengan ucapan syukur. Takut jika tak sering-sering berdoa Tuhan tak mengenali suara lirih kita yang pelan. Khawatir Tuhan telah menyangka kita sebagai tukang tagih yang berdoa saat diuji, kesusahan berkala. Kita tentu tak mau. Demikian doa seharusnya ditandaskan hingga bersih, akhir usia kita. Demikian pula manusia cepat lupa, walau Tuhan tak pernah sekalipun melupakan kita. 


Anggrahenny Putri, Penulis tergabung di Mbokmbokan Malem Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s