Akhirnya, Menjahit!

Ririn Diah Utami

AWAL mula mengenal mesin jahit, saya memperoleh kain perca dari saudara. Muncullah rasa ingin membuatkan putri kecilku gamis, rok, dan mukena. Caranya  dengan menyambung-nyambung kain perca. Saat itu saya tidak memiliki mesin jahit. Dengan jahit tangan (dondomi) saya memulai membentuk kain perca itu agar bisa digunakan. Enaknya, dondomi tidak bermasalah dengan pilihan tempat. Bisa di depan rumah, bisa sambil menonton televisi, dan bisa sambil apa saja. Rasa gembira muncul ketika potongan-potongan kain sudah terbentuk menjadi sesuatu yang dapat digunakan putri kecilku yang ikut riang.

Pada saat sudah jadi beberapa model, saya pergi ke penjahit untuk mengobraskan hasil jahitan tangan. Nah, di situlah memperoleh informasi tentang kursus menjahit gratis. Tetapi, pembukaannya sudah lama. Saya diminta untuk mencoba mendaftar. Siapa tahu masih bisa diterima?

Pagi hari, saya berangkat untuk mencoba keberuntungan. Semangat berusaha belajar seperti semangatnya bumi menyambut mentari. Dengan perut besar yang di dalamnya ada janin berusia 8 bulan dan putri kecil yang berusia kurang dari 4 tahun, saya mendatangi tempat kursus. 

Sampai di sana, disambut oleh pengurusnya. Saya sampaikan niat dan diterima langsung praktik. Padahal saat itu blas blas blas tidak ada pengalaman sekalipun pegang mesin jahit. Saya beranikan diri bilang kepada pengajarnya bahwa belum pernah sekalipun mengoperasikan mesin jahit. Pengajarnya siap membantu murid ini, yang benar-benar terlambat jauh. Bisa juga merasa kasihan karena melihat perut yang buncit.

Ilmu pertama yang diperoleh yaitu mengukur. Kemudian membuat pola, menjiplak pola di atas kain, memotongnya, dan menjahit potongan kain tersebut. Saya banyak bertanya. Mana spool? Mana scoci? Bagaimana mengganti jarum yang patah? 

Ketika mengalami kesulitan saat menjahit dan pengajarnya sedang tidak ada di ruang kelas, di situlah teman-teman sesama ibu, bahkan ada yang masih gadis, selalu membantu. Kerja sama untuk menuntut ilmu sangatlah tinggi. Kebersamaan memunculkan keakraban sampai sekarang. Di sela-sela kegiatan menjahit selalu ada saja hal-hal yang diceritakan para ibu dan para gadis. Canda tawa memenuhi ruangan yang diiringi dengan suara mesin jahit atau mesin obras.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hanya singkat sekali ilmu yang saya peroleh, merasa masih belum bisa. Dalam waktu 2 minggu, saya hanya bisa menjahit hem wanita dan rok. Itu pun selesai bukan dari usaha sendiri. Ada tangan-tangan yang ikut andil dalam menyelesaikan kedua pekerjaan itu. Seperti menjahit bagian lengan. Sampai 100 kali pun aku menjahit dan mendedel tetapi tetap tidak bisa. Memasang resleting juga ada kesulitan, tetapi ada arahan dari teman-teman yang membuatku berhasil walaupun bengkong.

Sebelum berpisah, kami dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi peralatan untuk membuka usaha menjahit. Peralatan tersebut ditaruh di rumah sang ketua. Di kelompuk saya, usaha menjahit sempat berjalan beberapa bulan. Tetapi, kemudian berhenti karena ada kendala tentang penyamaan waktu. Dan saya sendiri, setelah acara perpisahan itu tidak pernah ikut bergabung. Kondisi perut yang makin hari sudah mendekati kelahiran. Komunikasi bersama teman-teman masih terjalin. Mengetahui keseruan mereka mendapat borongan membuat hasduk pramuka. 

Hampir setahun setelah melahirkan, saya berniat untuk belajar menjahit lagi. Saya mengajukan surat permohonan pinjam mesin jahit di ketua kelompok atas persetujuan lembaga tempat saya ikut kursus. Mereka memberi izin karena di kelompok saya kegiatan menjahit sudah berhenti lama. Dengan hati senang membawa pulang mesin jahit, saya kembali menjahit sesuatu yang tak harus menggunakan lengan atau resleting

Saya memilih menjahit mukena dan kerudung. Tetapi, hasil jahitan belum berani untuk dijual. Sebab, jahitan saya masih kasar. Saya belajar dengan membeli kain kiloan yang harganya lebih miring. Selang beberapa tahun kemudian, kantor kelurahan mengadakan sekolah menjahit gratis selama 2 hari. Saya ikut, dan di sini semuanya beda. Mesinnya menggunakan mesin besar dan yang dijahit tas. Senang bisa belajar bikin tas dan dompet. Ada tidak enaknya. Kami datang langsung dikasih bahan yang sudah dipotong tanpa kami tahu ukuranya atau nama bahan-bahannya. Kami langsung menjahit dengan diberi arahan petunjuk mana yang dijahit terlebih dahulu. 

Saya merasa takut karena mesin berbeda dengan mesin yang di rumah. Mesinnya lebih besar dan galak. Dua hari sudah semua tugas terselesaikan, tetapi si ibu ini minta imbuh ke pengajarnya, 1 hari lagi. Diizinkan kalau masih ada tempat yang kosong. Inginnya lekas bisa membuatkan tas buat putri kecilku yang sudah dipanggi “mbak”.

Pulang dari belajar, sampailah di rumah, ibu ini bercerita kepada suaminya tentang asyiknya menjahit tas dan dompet dengan model sederhana ternyata mudah. Akhirnya, suami menantang, “Mau dibelikan mesin jahit untuk latihan-latihan terus?” Awalnya ada rasa takut karena mesin jahit besar sangat mahal.  Tetapi dengan keyakinan, suami bisa meyakinkan sang istri, “Bisalah!”

Dengan rezeki yang ada dan iuran dari saudara-saudara, mesin jahit “Juki” berhasil mendarat di rumah. Ada peran dari pelatih kursus menjahit, yakni mengantarkan untuk membeli mesin jahit, dan menunjukkan tempat-tempat buat membeli bahan-bahan tas yang harganya agak miring.

Seiring berjalannya waktu, saya ingin membuat tas yang bahannya berbeda. Mencari informasi tempat jual kain yang murah. Ketemulah toko kain yang terletak di Bonoloyo. Toko itu kebanyakan dari hasil lelangan pabrik. Makanya, harganya miring. Buat pemula, kalau membeli bahan yang mahal takut untuk memberi harga jual. Bahannya saja sudah mahal. Padahal ini baru pemula, lebih sering mencari informasi tempat yang jual murah-murah.

Pemesan pertama dari kakak ipar yang akan mantu, membuat cenderamata dompet. Kemudian, membuat tas yang dipasarkan di sekolahnya kakak ipar. Alhamdulillah, beberapa guru tertarik, bahkan sampai ada yang datang ke rumah untuk memilih kain yang diinginkan dan modelnnya. Kemudian mremen ke teman-teman suami yang memesan saku buku dan totebag

Begitulah, saya mengenal mesin jahit dan tempat-tempat untuk membeli bahan dari tempat saya menuntut ilmu secara gratis. Di kedua tempat ini tidak hanya ilmu yang saya peroleh, tetapi bertambahnya teman dan guru yang selalu membantu.  


Ririn Diah Utami, ibu rumah tangga dan penulis cerita anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s