Pada Mulanya Keluhan, Inginnya Bahagia

Lyly Freshty

KENYAMANAN kadang membosankan. Jika menjadi sesuatu yang konstan, kenyamanan tak lagi membahagiakan. Pada saat itu, keluhan kerap datang. Berharap ada sesuatu yang mengejutkan untuk mengusir kebosanan dan membuat hidup, yang tadinya datar dan biasa-biasa saja menjadi lebih menantang. Artinya, bisa membahagiakan. Walau kadang tak yakin dengan tantangan yang akan dihadapi di depan sana. Ketidakpastian memicu gairah, mendatangkan kebahagiaan baru, menggantikan kebahagiaan lama yang tadi konstan dan sudah usang.

Itulah yang dialami tiga bersaudara (Roberta, Peter, dan Phylis) dalam kisah Anak-Anak Rel Kereta Api gubahan E. Nesbitt. Hidup nyaman dan bahagia bersama ibu yang selalu sigap menemani. Bersama ayah yang selalu siap menjadi teman bermain selepas bekerja, sekaligus menjadi pahlawan untuk memperbaiki segala yang rusak. Sehingga, itu dapat menambal kesedihan mereka. Semua ternyata tak membuat anak-anak ini berhenti mengkhayal: semoga ada sesuatu yang terjadi agar hidup mereka lebih menyenangkan dari yang biasa dijalani.

Kenyamanan yang sama dan begitu-begitu saja membuat hari-hari menjadi tak ada bedanya. Sampai suatu ketika, diceritakan Peter demam tinggi karena mainan lokomotif tersayangnya meledak. Peter menggantungkan keceriaannya pada ayah, yang diandalkan dapat membetulkan mainan. Sungguh tak disangka, belum selesai memperbaiki, tiba-tiba ada orang datang ke rumah yang membuat ayah terpaksa harus pergi, tak tahu kapan akan kembali. Pulang kerja, ayah biasanya menyempatkan diri bermain bersama mereka. Kini, tak akan begitu lagi. Sesuatu benar-benar terjadi, tak lagi seperti keluhan mereka sebelumnya. Keluhan itu kini menjadi harapan yang terwujud, terlepas dari apakah mereka siap menghadapi konsekuensi dan situasi yang menyertainya atau tidak.

Sering kita mengeluh, bersamaan dengan itu mengharapkan sesuatu yang belum kita miliki atau alami. Keluhan sesungguhnya mengandung harapan yang disembunyikan, jika tidak lebih tepat disebut dipaksakan. Setiap diri kita pasti pernah mengeluh. Apakah setiap kita secara sadar memeriksa harapan yang disembunyikan dalam keluhan? Adakah dari kita merenungi hasrat terpendam dalam keluhan, selanjutnya konsekuensi dan situasi yang menyertainya, sebelum melontarkannya sebagai keluhan?

Apakah setiap kita secara sadar memeriksa harapan yang disembunyikan dalam keluhan? Apakah dari kita merenungi hasrat terpendam dalam keluhan, selanjutnya konsekuensi dan situasi yang menyertainya, sebelum melontarkannya sebagai keluhan?

Diceritakan, akibat dari keluhan mengharapkan sesuatu benar-benar terjadi, kini sesuatu itu dialamai dalam kehidupan Peter, Roberta, dan Phyllis. Kalau sesuatu benar-benar terjadi. Tapi, hal itu menyebabkan ayah mereka pergi, entah kapan kembali. Ibu dirundung sedih berkepanjangan sehingga tak lagi sering menemani. Mereka menyesal pernah mengharapkannya. Mereka pun bertanya-tanya, apa yang terjadi? Tak ada jawaban pasti, selain sesuatu memang benar-benar sedang terjadi. Siap tidak siap dengan konsekuensi dan situasi dari terkabulnya harapan tersembunyi dalam keluhan tadi, sesuatu yang berbeda sedang mereka hadapi. Sesuatu yang merenggut rasa nyaman, yang mereka punya selama ini. Yang mengambil senyum ibu dari bibirnya dan waktu-waktu ibu bersama mereka. Berkatalah ibu bahwa mereka seharusnya senang sebab sesuatu telah benar-benar terjadi sesuai harapan mereka. Seharusnya, mereka tak mengeluh lagi. Kenyataannya, mereka risau, terutama, karena ibu kini tak lagi banyak menemani.

Peter bersaudara masih kanak-kanak. Mereka menganggap kehidupan ini bagaikan petualangan dalam permainan yang biasa mereka lakukan. Sehingga, cepat menyesuaikan diri dengan konsekuensi dan situasi yang menyertai keluhan tadi. Peter bersaudara mengeluh tak membuatnya berdosa. Mereka justru ingin menjadikan segalanya membahagiakan. 


Lyly Freshty, ibu tergabung Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s