Awas, Ada Tikus!

Yuni Astuti

George berdiri dan melemparkan bangkai tikus itu sejauh mungkin ke arah semak-semak yang semakin gelap, kemudian ia melangkah ke air dan mencuci tangannya. 

“Kau pandir sinting. Kaupikir aku tidak lihat kakimu basah karena kau masuk ke sungai buat mengambil tikus itu?” 

Ia mendengar Lennie tersedu-sedu dan terisak. “Menangis seperti bayi! Ya Tuhan! Lelaki besar seperti kau.”

“Aku berbuat begitu bukan karena kejam. Tikus itu sudah lama mati, Lennie. Lagi pula, kau membuatnya remuk waktu kauelus dia. Kalau kau dapat tikus lain, aku akan membolehkanmu menyimpannya sebentar.” 

(John Steinbeck, Tikus dan Manusia)

Kemarahan George datang dari sebuah bangkai tikus yang disimpan Lennie dalam saku mantelnya. Lennie, lelaki dewasa yang kerap dijuluki “bayi besar” karena memiliki gangguan mental, suka mengelus-elus benda halus terutama hewan-hewan berbulu macam tikus, anjing, atau kelinci. Tapi karena dia tidak bisa mengendalikan kekuatan fisiknya yang begitu besar, kadang niat baiknya berujung petaka bagi hewan-hewan yang disayanginya, bahkan bagi manusia. Itu adalah penggalan novel berlatar daerah peternakan di Amerika yang ditulis oleh John Steinbeck, berjudul asli Of Mice and Men, dialihbahasakan oleh Ariyantri E. Tarman. 

Meski menimbulkan kemarahan George, tikus di dalam saku mantel Lennie hanyalah sebuah permasalahan kecil. Lain kali, tikus pernah menjadi permasalahan begitu besar bagi warga dunia. Jawa pernah mengalaminya pada kurun waktu 1911 hingga 1930-an. Ada banyak tulisan, gambar, maupun video dokumenter yang mengabadikan sejarah kelam ini.  

Ketika itu Jawa sedang gagal panen. Bencana berawal dari pemerintah kolonial yang impor beras dari Myanmar meski di sana sempat terkena wabah pes. Ada peringatan tapi rencana jalan terus. Kutu tikus dari Myanmar lalu berdiam di dalam gudang-gudang beras di kota dingin Malang. Muncullah wabah pes di kota itu yang kemudian menjalar ke kota-kota lain. Dokter-dokter Eropa tidak mau turun tangan karena takut tertular dan memang tidak punya penghargaan terhadap kaum pribumi. Terjunlah dokter-dokter STOVIA yang baik hati seperti Cipto Mangunkusumo. Dokter Cipto dengan gagah berani menjalankan tugas tanpa memakai alat pelindung diri, seperti masker dan baju hazmat, sebuah kelaziman yang kita saksikan di tengah pergumulan tenaga kesehatan dalam melawan wabah di abad ke-21. 

Muncullah wabah pes di kota itu yang kemudian menjalar ke kota-kota lain. Dokter-dokter Eropa tak mau turun tangan karena takut tertular dan memang tidak punya penghargaan terhadap kaum pribumi. Terjunlah dokter-dokter STOVIA yang baik hati seperti Cipto Mangunkusumo.

Sejarah rupanya berulang. Pemerintah kolonial waktu itu melakukan upaya penghentian penyebaran pes, seperti penyemprotan desinfektan, pengasapan, bahkan memberi imbalan bagi warga yang berhasil berburu tikus. Tapi upaya itu tak banyak memberikan hasil karena penyakit telanjur mewabah. Barak-barak penuh. Penutupan akses jalan dan  kereta api pun dilakukan meski kemudian diprotes oleh pengusaha yang merasa dirugikan karena akses dibatasi. Dan terjadilah; pelonggaran membuat kasus melonjak berkali-kali lipat. Di tahun 1915, ketika wabah pes telah sampai di Solo, pemerintah menyuruh warga yang rumahnya terbuat dari bambu untuk diganti dari kayu atau batu. Atapnya juga diganti genteng. Pemerintah memberikan bantuan, tapi bentuknya pinjaman berbunga. Itu sangat merugikan. Padahal harta benda penduduk juga ikut dibakar sebagai rangkaian pembuatan rumah baru. 

Berpuluh tahun kemudian, ketika tikus tak lagi jadi wabah, keberadaannya tetap saja masih mengganggu manusia. Tempo, 27 Juni 1992, menyajikan berita bertema lingkungan yang berjudul “Resep Baru Berantas Tikus”, sebuah judul yang mengandung harapan. Kata “baru” kerap memberi angin segar bagi sebuah keadaan yang lama tak kunjung berganti. Perasaan yang didapat setelah membaca judul itu, apalagi bagi pembaca terdampak tikus, mungkin serupa dengan perasaan anak-anak ketika dijanjikan oleh orang tua untuk mendapatkan “sepatu baru”, “mainan baru”, atau “baju baru”.

Paragraf awal berita itu bunyinya begini: “Indonesia mungkin memerlukan Peniup Seruling dari Hammerlijn – tokoh dalam dongeng anak-anak yang dengan tiupan serulingnya sanggup menggiring ribuan tikus ke tempat pemusnahan. Soalnya, Indonesia sudah puluhan tahun diserang hama tikus, tapi sampai kini belum ditemukan cara mujarab untuk membasmi hama tersebut.” 

Penduduk desa punya riwayat gotong royong tersebab tikus, disebut geropyokan. Penduduk secara beramai-ramai mengeluarkan tikus-tikus dari liangnya di sawah, kemudian melawannya dengan cangkul atau alat pemukul seperti kayu, bambu, dan manggar tua. Ratusan tikus mati. Tapi menurut berita di Tempo, cara geropyokan beserta cara lain seperti perbaikan sanitasi lingkungan, pemanfaatan burung hantu sebagai musuh alami, melakukan fumigasi asap beracun, sampai memasang perangkap tikus, tidak menunjukkan hasil yang diharapkan.

Resep baru pemberantasan tikus yang dimaksud judul berita adalah program PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu). Dalam program ini, petani diminta aktif mengambil keputusan, bukan menunggu instruksi dari atas. Seumpama serangan tikus datang, petani harus segera mendiskusikan cara pembasmiannya dengan kelompok kerja mereka. Tapi dalam berita itu kemudian dijelaskan bahwa sesungguhnya pembasmian hama tikus dengan cara PHTT atau tanpa PHTT sebetulnya hampir sama. Hanya saja, pemakaian bahan kimia rodentisida yang berakibat buruk bagi ekosistem menjadi pilihan terakhir dalam PHTT. Langkah lain yang sesuai dengan PHTT adalah dengan penanaman tanaman serentak. Tapi cara ini mungkin hanya bisa diterapkan di  daerah tertentu karena terbatasnya air irigasi. 

Di berita itu juga dihimpun beberapa cara yang cukup nyeleneh sebagai tindak lanjut dari cara “wajar” yang tidak membawa hasil. Misalnya di Simalungun, Sumatera Utara, kepala desa diwajibkan membawa 50 buah potongan buntut tikus setiap rapat mingguan di kecamatan. Di Tabanan, Bali, setiap akhir perburuan tikus dilakukan upacara ngaben (membakar bangkai) tikus untuk menarik masyarakat agar terlibat aktif dalam upaya pembasmian hama tersebut. Di Jawa Tengah malah ada desa yang mengharuskan calon pengantin atau yang mau mengurus surat cerai untuk membawa ekor tikus sebagai syarat untuk dilayani petugas KUA. Tikus  mengalami kemajuan. Tak hanya menjadi bagian dari sawah, tikus sudah menjadi bagian dari rapat, tontonan, dan juga pernikahan. 

Tahun-tahun terakhir, di media massa banyak diberitakan tentang pemerintah daerah yang mengadakan lomba penangkapan tikus untuk mengantisipasi gagal panen. Ada juga yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia. Satu buntut tikus yang berhasil disetorkan dihargai 2.000 hingga 3.000 rupiah. Dari kegiatan ini, banyak petani mengaku senang. Selain dapat mengamankan sawah, mereka juga dapat uang. Bisa mengumpulkan tiga atau empat buntut tikus saja sudah bisa membeli semangkuk mi ayam.

Tempat gelap, sempit, dan tersembunyi dicintai oleh tikus. Lalu muncul kiasan “jalan tikus”, berupa jalan kecil, jalan keluar untuk manusia modern yang hidup di tengah hambatan, kemacetan, dan keruwetan. Tikus juga suka tempat kotor. Wiji Thukul pernah membuat puisi: di sini kami bisa menikmati cicit tikus/di dalam rumah miring ini/kami mencium selokan dan sampah/bagi kami setiap hari adalah kebisingan/di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat/bersama tumpukan gombal-gombal/dan piring-piring/di sini kami bersetubuh dan melahirkan /anak-anak kami. Itu bait pertama puisi berjudul “Suara dari Rumah-Rumah Miring,” tergabung dalam antologi Mencari Tanah Lapang. Ke manakah Wiji Thukul kini? Apakah ia menghayati puisinya sehingga hidup di sebuah tempat di mana ia bisa menikmati cicit tikus dan mencium selokan dan sampah? Tak ada yang tahu.

Tikus tak hanya tikus sawah. Tikus lain yang tak kalah terkenal adalah tikus rumah dan tikus got. Jadi, membicarakan tikus sepertinya tak komplit jika hanya menyebut tentang kekotoran atau keburukan tata ruang. Tikus berarti juga tentang rantai makanan. Anak-anak sekolah dasar biasanya belajar soal itu. Salah satu rantai makanan di sawah yang mungkin terjadi: padi, tikus, ular, elang, pengurai. Tanda-tanda koma itu diganti dengan tanda-tanda panah dan dibentuk lingkaran seperti rantai tak putus. Rantai itu bisa dimaknai, jika salah satu komponen hilang, akan berakibat kepada keberlangsungan komponen yang lain. Jika ular hilang, maka tikus merajalela dan berakibat hancurnya harapan panen dengan gemilang. Populasi ular pemakan tikus bisa turun atau bahkan habis karena banyak pemburu ular yang bertujuan komersial kebablasan. Ular-ular terus ditangkap tak lain dan tak bukan untuk memenuhi nafsu serakah manusia.

Meski mengganggu, tikus disukai sebagai bahan film atau cerita anak-anak.  Tikus tak selalu diberi watak nakal dan jahat, yang kadang tikus itu cerdik, lucu, dan suka menolong. Maria Amin membuat buku berjudul Tikus Berpantun (Balai Pustaka) yang terbit pertama di tahun 1976. Isi buku itu adalah kumpulan cerita anak yang disajikan dalam kata-kata berima, sebelas dua belas dengan pantun. Judul buku itu diambil dari salah satu judul cerita di dalamnya. Begini isi dari cerita “Tikus Berpantun”.

Nyit, nyit, nyit biola berbunyi. 

Ke luar kucing memakai kopiah.

Di dekatnya datang tikus menyanyi,

Memakai sarung selendang kebaya. 

Ani-ani bukannya waja,

untuk memotong padi di ladang. 

Saya bernyanyi memang sengaja,

melipur hati kucing yang garang. 

Cerita yang diambil dari buku cetakan kedua (1993) itu menampilkan ilustrasi seperti yang tergambar dalam (sebut saja) pantun. Tergambarkan kucing berdiri memakai kopiah dan bermain biola. Ia memakai rapak bergaris. Lalu di depannya si tikus memakai selendang kebaya dan juga payung. Si tikus bernyanyi untuk menghibur kucing yang garang. Tak ada permusuhan seperti  dalam serial kartun terkenal tentang kucing dan tikus. Kucing dan tikus dalam kenyataan berhubungan sebagai predator dan mangsa. Tapi untuk kucing rumahan yang hidup sekarang ini, mereka jarang menangkap tikus untuk dimakan. Mereka menangkap tikus untuk memenuhi hasrat berburu dan bermain atau disetor kepada pemilik. Kucing-kucing sekarang bergelimang perhatian dari pemilik. Mereka cukup tidur dan makanan yang enak bergizi. 

Tikus tak hanya tentang gagal panen. Di benak manusia, binatang pengerat itu mewujud dalam berbagai pengertian. Tikus adalah pemangsa buku dan baju kesayangan. Tikus adalah tangan kanan malaikat maut yang merenggut kekasih; tikus adalah binatang yang tak tahu diri karena coba pakai dasi. Tikus adalah hari-hari sepi bagi penjual bakso. Tikus adalah pengalaman.

Tikus lincah dan bisa ke mana-mana. Tak hanya di sawah, got, atau rumah-rumah penduduk. Tikus juga ada di bandara, sebuah tempat mahal dan canggih. Tempo, 4 Oktober 1986, halaman 23, mengabarkan berita berjudul “Ada Tikus di Cengkareng”. Berita ini tentang padamnya aliran listrik Bandara Soekarno-Hatta selama empat jam. Garuda rugi lebih dari satu miliar. Itu kejadian yang pertama kali. Tak ada petir menyambar atau indikasi sabotase. “Mungkin karena kabelnya digigit tikus, sehingga komputernya ngadat,” kata Achmad Djunaidi, sang Kepala Biro Hukum dan Humas di sana, setelah listrik kembali normal dan komputer diketahui tidak ada yang rusak. 

Demikianlah. Karena tidak ditemukan penyebabnya, rasa-rasanya memang hanya tikus yang pantas dan tak bakal menolak ketika disampiri peran sebagai biang kerok masalah. 


Yuni Astuti, penulis di Kaum Senin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s