Yang Kangen Kerbau

Sulistiyawati Wicaksono

DULU, semasa kecil, saya malas mandi. Saya sukanya mandi di kali, saat matahari masih cemlorong panas ngenthang-ngenthang. Airnya bening, rasanya segar. Tapi begitu sore, saya merasa sudah bersih, dan tidak mau disuruh mandi. Ibu saya bakal mengolok, “Bocah kok ra tau adus, koyo kebo” (Bocah kok nggak pernah mandi, kayak kerbau). 

Kerbau memang jarang mandi. Wajar saja kotor, berkubang terus di kandang atau berjemur di kubangan depan kadang. Dan, kubangan tempat berjemurnya pasti berlumpur. Lumpur itu campuran tanah sekitar, pipis, dan lethongnya (faces). Sedap semerbak baunya. Kau pasti rindu. Ya, kan? Bisa dibayangkan, bagaimana warna dan tekstur kotoran itu di badan kerbau saat semua campuran kotoran yang mengering itu masih menempel di bagian perutnya. Seperti sisa lelehan coklat yang sudah mengeras menempel di perutnya yang berbulu. Begitulah ibuku menyandingkanku dengan kerbau. Sungguh tega. 

Yah, meskipun pernah juga ketika aku sedang mbluru (renang) di kali, tanganku pengen banget mencabuti rumput-rumput yang ada di pojokan genangan air mengalir bening itu. Tanpa kuduga, ada seonggok lethong yang masih temangsang tidak ikut pergi mengalir bersama air. Akhirnya, kami mentas keluar dari air, sembari misuh-misuh dan saling meledek teman tentang siapa yang paling parah kena lethong di genangan air tadi. 

Kerbau adalah bagian dari keseharian saya waktu kecil. Mulai dari olokan ibu, berendam di bekas air yang ternyata bekas mandi kerbau, lethong yang tak sengaja terinjak saat berlarian di jalan. Tak jarang, aku melihat teman melempar batu agar kotoran itu muncrat mengenai temannya. Alhasil, tak heran, setelah mengering terjemur matahari, lethong itu serupa kue kering coklat dengan butiran bebrapa cochochip dai dalamnya. 

Bagi bapak-ibu dan kakekku, kerbau punya makna yang lain. Dulu kekayaan tidak diitung dari jumlah dan merek mobil yang dimiliki. Atau, seberapa megah rumah ditinggali karena rumah sama saja terbuat dari gedhek (anyaman bambu) semua. Kekayaan sesorang bisa dilihat dari berapa kesuk (petak) tanah yang dimiliki dan berapa kerbau yang dipunyai. Mundur lagi di masa kolonial, kalau kita baca Max Havelaar (Multatuli), memiliki kerbau adalah cita-cita petani kerena anak-anak masa itu dekat dengan sawah: lahir di kelilingi sawah, tumbuh besar dengan menemani ayah ke sawah membajak dan mencangkul sawah, membuat bendungan dan saluran untuk mengairi sawah. Umur mereka dihitung berdasarkan masa panen, waktu diperkirakan dengan melihat warna daun. Tak heran, memiliki beberapa ekor kerbau untuk membajak adalah cita-cita. Kerbau dalah cara hidup dan simbol kekayaan mereka. 

Sebuah catatan yang dilengkapi berbagai foto milik Oliver Johannes Rapp dalam Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe sudah mendokumentasi bahwa ketiadaan kerbau di kala itu membuat petaka besar: krisis pangan. Tanpa kerbau “para petani tidak bisa membajak sawah, tidak bisa menanam padi, jadilah krisis pangan”. Betapa pentingnya kerbau lagi-lagi di novel Max Havelaar, ketika ayah Saidjah rela menjual keris perak warisan orangtuanya untuk membeli kerbau lagi karena dirampas Walondo. 

Saya ingat dulu belakang rumah saya ada kandang kerbau, walaupun belakangan diganti sapi. Begitu juga depan rumah kakek saya. Saat musim tanam padi, kakek atau nenek saya akan menuntun kerbaunya ke sawah untuk membajak sawah yang akan ditanami padi. Kalau saya menangis dan rewel, saya akan diam kalau diajak nenek ke kandang memberi makan kerbau. 

Tapi, sekarang saya tak melihat satupun warga di sini, di sana, atau di situ yang memiliki kerbau. Yang masih ada hanya sapi dan kambing. Kerbau sudah ditinggalkan. Sebuah laporan jusnalistik dari Tribun Jateng, 15 Juli 2021, terbaca tentang sebuah desa yang terkenal sebagai “Kampung Kebo”, yang deretan kadang-kadang itu sudah tak banyak di temukan kerbau. Kabar terbarunya, “Kandang sudah dialihfungsikan untuk beternak sapi dan unggas seperti ayam, bebek, itik.” 

Apa sudah tidak ada sawah? Masih. Mungkin bakal ada orang juga yang bilang: Lha ijeh ono sing duwe sapi, lho. Iya, memang masih ada. Sawah dan ternak kini sangat berjarak. Dulu orang tiap pagi pergi ke sawah. Pada musim menanam padi, Mbak Dhono akan pergi menuntun kerbaunya. Pada siang hari, kerbau dimandikan dan dituntun pulang. Damen (tanaman padi) dibawa pulang, yang masih hijau untuk pakan ternak, yang kering dijemur dan digunakan sebagai kasur empuk si kerbau. Sisa tumpukan damen kami gunakan untuk perang-perangan di atasnya, juga untuk lambaran ayam bertelur. Beberapa bulan sekali kotoran kerbau akan ditimpal (diambil untuk diangkut ke sawah sebagai pupuk). 

Kini tenaga kerbau sudah digantikan dengan traktor, lemi (kotoran) sudah diganti dengan pupuk kimia. Anak menangis diberi layar handphone

Kerbau dulu berderajat tinggi. Sebab, memiliki kerbau impian para petani. Kini martabatnya makin naik. Kerbau di sawah sulis sekali dicari. Gambar kerbau yang sedang dituntun lelaki telanjang dada bercelana hitam dan disorot cahaya matahari yang menelusup lewat celah-celah pohon menjadi gambar paling eksotis di instagram dan pinterest. Kalau ada foto seperti itu yang artistik dan orisinil pasti harganya selangit. 

Kerbau itu bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Cara hidup dan simbol kekayaan. Tapi, kini gambarnya saja sudah jarang. Masuk dalam imajinasi dan pengetahuan anak-anak saja dengan keterbatasan. Buktinya, jika kita ke membeli lembaran (poster) gambar binatang sebagai media belajar anak mengenal binatang, kerbau tak pernah nongol di antara deretan gambar yang terpampang. 

Binatang asli yang punya sejarah panjang akan cita-cita kejayaan dan martabat itu malah tak dikenalkan. Pembuatnya justru memilih dinosaurus, koala, panda, pinguin, bahkan ada pula naga yang kita tak tahu ada atau tidak. Kita sudah melihat betapa jauhnya jarak antara pengetahuan dengan kehidupan sosial kita. Sekarang juga mulai hilang pengetahuan kita dengan entitas sejarah kelokalan kita. 

Kerbau mau sirna, gambarnya sering tak ada. Tak menjadi soal, jika ibu saya jadi susah kalau mengolok saya di depan cucunya tentang masa kecil anaknya tak mau mandi. Tapi kehilangan satu entitas kerbau, bisa menghilangkan pengetahuan dan menghilangkan simbol kejayaan. Peribahasa-peribahasa Jawa pun terancam menjadi makin tak relevan karena sulit menemukan pengatahuan juga konteksnya. Bagaimana anak-anak bisa mengerti ungkapan lama: Koyo kebo dicocok irunge, kebo nusu gudel, atau kebo kabotan sungu

Beberapa masih bisa dinalar. Kebo nusu gudel, bisa dimengerti jika anak tahu apa itu gudhel. Kebo kabotan sungu bisa dinalar dengan pengetahuan hukum fisika tentang apa yangterjadi jika beban lebih besar daipada penyangga. Tapi, bagaimana dengan peribahasa koyo kebo dicocok irunge? Yah, terlepas kejam tidaknya manusia mencocok hidung kerbau, jika orang tidak bisa melihat perilaku bagaimana kerbau yang hidungnya ditindik (dikeloh) dan dipasangi tali, orang tak akan mengerti. Yah, berbahagialah kau kerbau karena pernah menjadi bagian dari kejayaan, martabat, dan pengetahuan, dalam sejarah panjang masyarakat Jawa.


Sulistiyawati Wicaksono, Penulis di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s