Bocah dan Buah

Adib Baroya

BUAH jarang nihil dalam perkembangan bocah. Para bocah memiliki album masa kecil dengan aneka buah. Ada yang merasa dekat, demikian pula sebaliknya, ada yang merasa jauh: asing, tak mengenalnya, mendengarnya pun lamat-lamat. 

Buah biasa dikenalkan orang tua pada anak dengan bermacam alasan. Seperti ingin meningkatkan gizi, memperkukuh imunitas, menangkal penyakit, maupun membantu proses penyembuhan. Citarasa buah juga dijiplak jadi obat batuk, demam, atau suplemen anti mabuk perjalanan. Anak-anak diharapkan menjadi semakin dekat, paham meski cuma terbayang-bayang, dan gandrung buah-buahan. Peristiwa memakan buah berlangsung di desa, kota, atau beragam hajat komunal. 

Para bocah menikmati buah sebagai bagian dari proses perkembangan kognitif dan ragawi. Anak-anak tak bisa mengelak dari tatapan atau tawaran. Orang tua pun menginginkannya lahap segala buah. Anak-anak lekas memberi jawab dengan riang, ragu, sangsi, bahkan lari sekencang-kencangnya. Yang terjadi benar adanya, beberapa buah justru gagal masuk lewat mulut atau, setidaknya, tetap bisa disantap meski tak sepenuh hati. Kita pun mengerti beberapa buah memang dipandang miring. Durian dan mengkudu, umpamanya. Tapi, penggemar fanatiknya ada pula. 

Yang terjadi benar adanya, beberapa buah justru gagal masuk ke mulut, atau setidaknya, tetap bisa disantap meski tak sepenuh hati. Kita pun mengerti beberapa buah memang dipandang miring. Durian dan mengkudu, umpamanya. Tapi, penggemar fanatiknya ada pula.

Anak-anak juga diajari menanam dan merawat tanaman buah. Mereka merasa memiliki tanaman, menjaganya betul-betul, dan berdoa kelak ada yang bisa dipetik darinya. Buah, dalam posisi ini, jadi medium pengajaran, masuk dalam kurikulum keluarga. 

Ini jelas natural, beda tinimbang konstruksi buah yang mulai terkesan artifisial dengan tampilan mencolok di layar gawai. Di hadapan layar, anak-anak tetap menatap buah. Mereka hanya bisa menggeser-geser dan mengekliknya, tak bisa membelai hijaunya dedaunan dan memegang batangnya.

Mengakrabi Buah

Keakraban anak dengan buah-buahan tampak dalam buku Kisah Sjafe’i Soemardja. Buku cerita biografis ini susunan Samsudi, berdasar kisah nyata dengan model pengisahan fiksional. Buku bercap Inpres, setebal 101 halaman, terbitan Pustaka Jaya tahun 1982. 

Perlahan-lahan, pembaca diajak mengingat dan mengenal lebih dekat Sjafei Soemardja. Nama penting di jagat pendidikan-pengajaran seni rupa Indonesia, terutama perannya mendirikan Fakultas Seni Rupa ITB. Namanya juga diabadikan sebagai nama galeri di tempatnya mengabdi. Orang yang sangat tak pantas dilupakan. 

Sjafe’i Soemardja lahir di Bandung Selatan pada tanggal 14 Mei 1907. Ayahnya, bernama Abdulwahab, seorang petani pemilik sebidang sawah. Luas sawahnya kira-kira setengah hektar. Ia juga mempunyai kebun salak, seluas 80 tombak persegi. Letaknya tak jauh-jauh amat dari rumah Soemardja, yang jelas berada di dataran tinggi, beserta iklim dingin dan bentang alamnya yang asri. 

Di tengah rumpun salak itu, tumbuh subur buah-buahan lain. Sebut saja durian, manggis, mandalika atau sirsak, limus, dan belimbing. Pusparagam buah ini membuat masa kecil Soemardja bergelimang buah. 

Kedekatan ini kelak juga berpengaruh dalam kekaryaan Soemardja. Ia suka menggambar bunga-bungaan, burung-burung, kupu-kupu, dan binatang lainnya. Tapi sayang, kepintaran Soemardja kecil dalam gambar-menggambar ini kurang mendapat perhatian. Musababnya, masa-masa itu, perhatian guru-guru hanya pada anak yang pandai berhitung. 

Soemardja benar-benar hidup di antara buah-buahan: “Pada musim buah-buahan, aku hampir tiap hari makan buah-buahan, terutama manggis dan durian jatuh. Oleh karena itu, tidak heran kalau aku sering menderita sakit perut karena telah banyak makan buah-buahan.” Ia menderita, didera sakit perut setelah keranjingan makan buah. Duh, mesake

Kalau sedang musim-musimnya, buah itu sebenar-benarnya godaan. Sungguh sensasional! Buah-buahan itu memang lezat, manis, segar dan bergizi. Adanya buah mengajak kita kembali terngiang atas kenikmatan rasa yang sempat kita cecap sebelumnya. 

Perasaan yang terakhir ini terasa betul dalam lakon Si Dul di buku anak legendaris, Si Dul Anak Betawi (2010) garapan Aman Dt. Madjoindo. Literatur anak ini bisa jadi rekaman penting mengingat tingkah bocah masa lalu. Pada suatu siang, setelah suntuk main gundu, Si Dul mengajak Si Pat, Si As, dan beberapa kawannya untuk main sedekah-sedekahan. Permainan tradisional ini melibatkan seperangkat buah-buahan. Juga piring-piringan, mangkuk-mangkukan, rumah-rumahan. Setelah semua properti tersedia, mesti dibacakan tahlil dulu, kemudian baru dahar ramai-ramai. 

Permainan tradisional ini melibatkan seperangkat buah-biahan. Juga piring-pringan, mangkuk-mangkukan, rumah-rumahan. Setelah semua properti tersedia, mesti dibacakan tahlil dulu, kemudian baru dahar ramai-ramai.

Kebetulan, Si Dul mendapat jatah tahlil. Tempo berdoa ini, ia terbayang buah-buahan yang ada di depan matanya. Sebentar-sebentar, ia mengerling pada rambutan dan duku. Setiap detik adalah kesempatan menatap dan menghasrati buahyang menawarkan godaan yang tak bisa ditampik. Mata, hati, dan pikiran itu tertuju pada buah. 

Pikirnya sayang: “Kalo makan-makanan begini dibawa lagi. Dukunye duku Menteng rupenye, rambutannye rambutan si macan. Tentu manis. Kalo gue mau aje bace doenya barang sepatah dua, tentu semuanya buat gue. Tapi do-e ape nyang mesti gue bace..?” 

Permainan turut mendekatkan anak dengan buah. Peristiwa bermain mengartikan ikhtiar berbagi dan ekspresi rasa syukur atas buah-buahan. Buah itu tak musnah dalam pelbagai permainan dan perjumpaan. Bisa jadi, anak-anak sering menyambangi rumah temannya yang memiliki pohon, dan buahnya boleh dimakan ramai-ramai. Mereka pun senang memanjatnya. Siapa yang memanjat paling tinggi, didapuk paling berani. 

Soal panjat-memanjat ini, RA Kartinibersama dua adik perempuannyadalam biografinya garapan Tashadi (1985), digambarkan senang memanjat pohon yang tegak berdiri di luasnya halaman rumah. Pohon juga ada di masa kecil Kartini, di antara tradisionalisme dan feodalisme. Memanjat pohon adalah bagian dari gerakan emansipasi. Ha ha 

Kita masih menemukan buah dalam otobiografi Muhamad Radjab, berjudul Semasa Kecil di Kampung (2019). Ada adegan saat Radjab bersama kawan-kawannya main bercari-carian. Di Jawa, istilah gampangnya delikan atau dalam bahasa Indonesia dinamai petak umpet. 

Bila musim buah-buahan, bercari-carian bisa bergulir sampai malam, saat semua orang sudah terlelap. Bermain bercari-carian adalah kesempatan apik buat mengambil rambutan, mangga, duku, dan jambak orang-orang kampung secara diam-diam. 

Pengisahan: “… kami diam-diam sekali memanjat rambutannya, lalu duduk di atas dahan yang rindang dan banyak buahnya, dan sambil bersembunyi kami petik dan makan satu persatu rambutan, duku, dan mangga yang manis.” Permainan berlangsung sekaligus merayakan buah. Keseruan bermain melibatkan pohon sebagai tempat sembunyi dan buahnya yang nikmat disikat-disantap. 

Pengisahan dalam pelbagai teks membuktikan ada kesinambungan antara bocah dengan pohon dan buah. Keduanya memberi warna dan makna tiada terkira. Pohon dan buah itu jadi saksi anak-anak yang nakal, bandel, lucu dan lugu. Tentu saja, juga anak-anak yang haus aroma petualangan-pengalaman baru. Pohon dan buah turut membentuk biografi bocah.  

Rerimbun pohon penghasil buah itu masih termaknai saat kibasan kapak atau deru gergaji mesin merampasnya. Dalih pembangunan seolah mengamini penghabisan rindangnya pepohonan tanpa peduli dampaknya di kemudian hari, menghapus jejak ingatan dan menghilangkan keberfungsian pohon sebagai penanda tempat. Kita petik saja sebanyak-banyaknya. 


Adib Baroya, Pemanjat pohon kedondong dan pembanting buah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s