Menikmati Buah: Salah dan Bersyukur

Ratna Hayati

BANYAK macam cara orang menikmati buah. Misal, dengan cara paling sederhana, yakni dimakan langsung dalam bentuk aslinya seperti yang sudah sejak nenek moyang. Cara lain dibuat asinan, yaitu buah yang diawetkan dengan larutan cuka, garam, gula lalu diberi cabai agar terasa asam, manis segar dan pedas: mengundang selera sekaligus menjadi lebih awet. Asinan juga dipandang  sehat karena merupakan makanan yang sudah terfermentasi sehingga terbentuk bakter-bakteri baik, yang menguntungkan bagi keadaan flora di dalam usus kita. 

Cara makan buah lainnya yang cukup tradisional dan sudah sejak dulu kala adalah dibuat rujak. Buah dipilih yang masih belum terlalu masak alias masih “mengkal”. Sehingga, masih tersisa rasa masamnya dan tekstur renyah sangat pas apabila berpadu dengan balutan bumbu rujak yang biasanya manis  pedas. Rasa masam dari buah berpadu secara sempurna dan mengundang selera siapapun yang ingin menyantapnya. Di Nusantara, ada berbagai macam jenis rujak. Bahkan, beberapa buah khas Indonesia yang memiliki rasa cenderung asam seperti buah buni, lobi-lobi, bisbul, kedondong menjadi pilihan untuk dipadukan dengan sambal dibanding disantap langsung. 

Cara makan buah yang lain adalah dengan menjadikannya saus atau selai, seperti buah avokad. Dalam seni kuliner Barat, avokad umum digunakan untuk saus atau salad dresssing. Di Indonesia, avokad lebih tenar sebagai unsur es campur, es teler, atau dibuat jus dengan campuan susu kental manis coklat agar berasa manis. Tentu saja, dengan tambahan pemanis buatan/gula malah mengurangi nilai kesehatannya. 

Budaya Barat mengenal cara mengawetkan buah dengan membuatnya menjadi selai. Buah yang dipanen agar tahan lama dibekukan lalu menjadi bahan baku aneka selai, buah yang bisa dipadukan dengan es krim, atau roti sebagai menu sarapan pagi. Budaya yang kemudian menyebar cepat di tanah air. Alih-alih, memakan buah langsung sebagai sarapan, orang merasa cukup sehat dengan menyantap sehelai atau dua helai roti tawar beroles selai aneka buah-buahan. 

Kalau kalian tahu, berapa banyak gula yang diperlukan untuk membuat selai agar membuatnya menjadi awet dan lebih manis, mungkinkah kalian akan mundur teratur mengonsumsinya? Seratus gram buah membutuhkan tambahan gula sejumlah berat yang sama atau minimal 75 persen dari berat buahnya.  Sialnya, orang sudah merasa sehat dengan mengonsumsi buah dalam bentuk selai. Buah yang biasanya dibuat selai adalah buah yang cenderung berasa masam juga seperti strawberry, cranberry, blueberry, dan nanas. Bisa jadi karena terasa lebih mudah dan nikmat dikonsumsi. 

Nanas selain untuk olesan roti juga populer digunakan sebagai isian kue kering nastar, yang tak absen hadir di meja hidangan keluarga Indonesia di saat hari besar kegamaan seperti Idul Fitri dan Natal. Saat ini, selai mungkin wujud lain buah-buahan yang hampir selalu tersedia di meja makan keluarga Indonesia yang mengaku modern. Setidaknya, selalu ada di rak minimarket di seluruh negeri menandai betapa selai sudah mulai menjadi kebutuhan pokok keluarga Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan kenaekaragaman hayati. Beragam tanaman dan buah-buahan tumbuh subur di Indonesia tapi ternyata orang masih lebih bangga makan roti dengan selai saja dibanding makan buah dalam wujud aslinya.

Kalau tadi buah ada yang diawetkan dengan cara diasinkan, selain itu ada acara lain menikmati buah yaitu dalam bentuk manisan. Ini berfungsi mengawetkan buah. Manisan biasanya buah dikeringkan lalu diberi lapisan gula agar awet dan manis. Lagi-lagi, kita menemui gula sebagai pelengkap cara menikmati buah. Suatu hal yang ironis bagi penulis, mengingat buah  sendiri sudah manis rasanya. Mengapa harus diberi tambahan gula dan banyak lagi?

Aneka buah lokal seperti pala, kedondong, mangga tak luput dibuat menjadi manisan, yang banyak disuka karena rasanya asam, manis membuat ketagihan. Secara tradisional, cara makan buah juga bisa dalam bentuk buah yang dibuat sambal, seperti sambal manga yang membuat tak kunjung berhenti makan saat menikmatinya bersama bebek, ayam, atau ikan goreng. Beberapa buah khas Indonesia yang juga dipakai sebagai sambal seperti kelubi buah yang memiliki rasa cenderung asam menyegarkan khas Bangka, yang sering dipakai sebagai campuran sambal terasi. Sungguh, Indonesia kaya dengan jenis buah maupun aneka cara menikmatinya.

Perkembangan teknologi membuat pergeseran lagi dan penambahan variasi cara menikmati buah-buahan. Penemuan mesin juicer membuat buah setelah dipanen langsung diantar ke pabrik-pabrik jus. Diolah lalu keluar dalam bentuk kemasan-kemasa tetrapack berisi buah dalam bentuk cair yang disebut jus buah.  Sebenarnya kalau mau diperiksa benar labelnya maka akan diketahui bahwa komposisi gula/pemanis buatan cukup besar dalam setiap kotak jus buah. Tidak mampu membeli jus buah pabrikan setiap hari, tenang saja, tinggal beli alat pembuat jus buah dan ibu bisa memberikan minuman terbaik bagi keluarga terkasih. Anak-anak juga lebih suka karena sudah pasti rasanya manis dan lebih mudah dikonsumsi, tinggal tenggak saja seperti minuman. Kala ada keluarga sakit maka banyak yang menyarankan minum jus buah. Alih-alih, buah dalam bentuk aslinya. Bahkan, jus buah jambu biji dianggap bisa menjadi obat meningkatkan trombosit pada pasien demam berdarah. 

Tidak mampu membeli jus pabrikan setiap hari, tenang saja, tinggal beli alat pembuat jus buah dan ibu bisa memberikan minuman terbaik bagi keluarga terkasih.

Pandemi menjadi peluang baru juga dimana kesadaran untuk hidup sehat meningkat. Tapi, sebagian orang  merasa tak sempat dan tak praktis makan buah dalam bentuk asli. Maka, tingkat penjualan jus buah meningkat untuk sarana gaya hidup dan menjaga kebugaran tubuh atau menjadi bingkisan bagi teman yang sedang sakit. Setidaknya di linimasa saya banyak unggahan mendapat kiriman jus buah dari teman. Sekali lagi, unsur kepraktisan dan kenikmatan rasa mungkin menjadi pertimbangan utamanya. Hampir di setiap rumah makan dan ruang-ruang makan komunal menyediakan jus buah dalam daftar menunya. Jus begitu populer meski harganya juga lumayan tinggi dibanding kalau kita mengonsumsi buah dalam bentuk aslinya.

Masih tentang cara menikmati buah. Perkembangan teknologi juga membuat buah dimungkinkan dibuat menjadi kering seperti keripik dengan mesin dehydrator yang bisa dimiliki dalam skala rumaha. Buah-buahan seperti nangka, apel, pisang, salak, dan pepaya cukup populer dijadikan keripik buah yang renyah. Sekaligus manis dan tentu saja awet tahan lama. Itu sering dianggap sebagai cemilan sehat juga. Padahal, pemanasan dengan suhu tinggi bisa merusak buah.

Begitu ingin praktisnya, buah dibuat jus, selai atau keripik. Ternyata tak cukup. Orang menuntut lebih prkatis lagi. Maka, menjawab kebutuhan tersebut, timbulah buah dalam bentuk kapsul dengan label multivitamin. Ada yang dalam bentuk bubuk dengan embel-embel kemampuan yang maha digdaya melawan segala jenis penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuh secara instan, yang tanpa perlu repot mengupas apalagi memotong buah. Sebotol bubuk, yang katanya berisi ekstrak buah-buahan, dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah ternyata selalu laris. Saking inginnya orang sehat dengan jalur pintas, tak peduli uang sedemikian banyak bisa untuk membeli buah segerobak.

Menarik memang kalau mencermati aneka cara menikmati buah-buahan dan perkembangan zaman yang membuat aneka pergeseran. Apalagi kalau dikaitkan dengan isu kesehatan. Menurut dr. Tan Shot Yen dalam wawancara dimuat di Kartini, 21 Juli-4 Agustus 2016: “Makanan sehat artinya yang semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam, dengan semakin sedikit campur tangan manusia seperti makanan alamiah. Seimbang artinya ada karbohidrat, protein dan lemak.” 

Selanjutnya, keterangan yang penting: “Tolong diingat, sayur dan buah juga karbohidrat walaupun memberi sumbangan kalori tidak sebanyak beras atau jagung. Sayur lalap dan mengunyah buah aslinya tentu lebih masuk akal ketimbang dibuat lodeh dan buah dijus.” Jadi, kalau mau direnungkan mungkin memang benar ada kaitannya antara cara menikmati buah dengan rasa syukur dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Ratna Hayati, penulis tergabung di Mbokmbokan Malem Minggu dan “pengurus” santapan buah dala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s