Bertema Rumah

Bandung Mawardi

Keponakan, teman, dan tetangga mengabarkan mereka harus berada di rumah. Hari demi hari, mereka di rumah untuk waras. Tubuh sedang bermasalah. Pikiran kadang panik meski dianjurkan tenang dan berusaha mencipta bahagia. Di rumah, mereka melakukan peristiwa-peristiwa mungkin cepat bosan. Pada saat di rumah, ada ajakan bercakap dengan pintu, jendela, atap, dan lain-lain. Ajakan itu diberikan oleh penggubah puisi di Jogja. Selama di rumah, terduga ada pemaknaan (ulang) rumah setelah lama tak terlalu dipikirkan.

Rumah diinginkan sebagai kediaman cepat berubah peran dan makna. Bocah-bocah mengaku bosan bila selalu di rumah untuk mengerjakan tugas-tugas kiriman guru. Pagi, seragam dikenakan memenuhi ketentuan turut pelajaran atau dipotret sebagai laporan ke sekolah. Di rumah, mereka seperti berada di sekolah. Ibu-ibu terbiasa di rumah mungkin makin mengerti biografi rumah, setelah melakukan pengamatan dan renungan. Kaum bapak mudah salah tingkah bila terlalu lama di rumah. Bapak suka dolan bisa bersedih dan muter-muter di rumah. Rumah dan penghuni dalam situasi mungkin absurd tapi dianjurkan meraih hikmah-hikmah saja.

Pada masa lalu, pemerintah memikirkan jutaan orang mesti memiliki rumah pantas. Episode setelah Perang Dunia II, agresi, dan pemberontakan membuat usaha memiliki rumah terasa sulit. Hal paling sulit adalah uang dan bahan. Rumah menjadi masalah. Pada 2020 dan 2021, pemerintah berpikiran rumah. Peraturan dibuat agar orang-orang berada di rumah meski ada pula orang-orang tak memiliki rumah. Berada di rumah kadang ditambahi “aja”. Pada setiap masa, rumah selalu menjadi masalah pemerintah.

Kita membaca buku berjudul Perumahan Rakjat (1951) terbitan Kementerian Penerangan. Buku kecil mendokumentasi kebijakan-kebijakan bertema rumah. Di situ, terbaca ingatan lama: “… rumah itu memang mendjadi pusat penghidupan manusia, pusat pergaulan hidup. Tiap-tiap rumah merupakan sebagian dari pada suatu masjarakat.” Di tiap desa dan kota mengacu adat atau zaman “kemadjoean”, peran rumah biasa terbedakan. Gagasan lama: “Dibeberapa daerah hingga kini masih didirikan rumah-rumah besar, hingga sebuah keluarga sampai tiga turunan masih djuga tinggal bersama-sama.” Pada masa berbeda, hal itu berubah: rumah kecil atau mengecil dihuni oleh tiga turunan. Sumpek!

Kini, orang-orang berada di rumah. Sekian orang menikah untuk menjadi keluarga. Mereka bakal berpikiran memiliki rumah, tak enak bila mengikut di rumah orangtua atau mertua sepanjang masa. Rumah tiba-tiba menjadi tema “mustahil” setelah wabah bikin berantakan beragam kemauan dan kemampuan dalam hidup. Pikiran rumah abad XXI terlalu berbeda dengan pasal-pasal mengenai “perumahan rakjat” dipikirkan pemerintah masa 1950-an.

Pemerintah menginginkan rumah-rumah memiliki pekarangan atau halaman. Pikiran tertinggal di masa lalu saja. Keinginan memiliki rumah dibuktikan dengan menggeh-menggeh tanpa bisa memesan bakal memiliki pekarangan. Kini, rumah-rumah biasa mepet jalan atau semua lahan habis untuk bangunan. Kita berpikiran lagi gambar-gambar dalam buku-buku pelajaran masa lalu. Di halaman-halaman cerita atau bacaan, ada gambar rumah bikin cemburu. Rumah sering berpekarangan. Kini, bocah-bocah bila diminta menggambar rumah dengan acuan rumah dihuni bakal kesulitan menampilkan rumah masih berpekerangan, terutama di kota-kota.

Buku lawas terbitan pemerintah itu memuat informasi: “Pada tahun 1922 dikota Semarang telah diadakan konggres jang pertama tentang volkshuisvesting (perumahan rakjat). Dalam konggres itu telah disinggung sampai dimana kemungkinan jang dapat didjalankan mengenai perumahan untuk bangsa Indonesia.” Ah, kita perlu mengadakan kongres-kongres lagi bertema rumah. Kongres dengan masalah-masalah makin pelik, berbeda dari masa kolonial dan masa 1950-an. Begitu.    


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s