Kangen Tidur

Kurnia Pamungkas K.

PADA suatu hari, seingatku terjadi pada 2018, melihat matahari terbit malah membuat diriku kaget. Memang bukan berupa kaget medis seperti hipovolemik dan kawan-kawannya, ini lebih ke pikiranku yang sedikit terguncang. Aku menyaksikan matahari terbenam lalu terbit lagi sebelum sempat tertidur. Saat melihat matahari terbit, orang-orang cenderung merasa senang, segar, dan siap menjalani hari karena sudah mendapatkan tidur yang cukup. Namun demi mengejar deadline, aku dan temanku terpaksa tidak tidur semalaman alias begadang agar bisa menyelesaikan proyek bersama. 

Bagi sebagian orang, termasuk aku sendiri, malam hari menjadi waktu yang nyaman dipakai untuk mengerjakan sesuatu. Selain karena suasana yang memang sudah tenang dan tidak khawatir akan diganggu oleh hal lainnya, ide yang muncul di malam hari justru terasa mengalir dengan lancar. Meski, begadang hingga matahari benar-benar terbit jarang kulakukan. Kalau memang pekerjaan bisa dijeda oleh tidur, tentunya aku memilih tidur dahulu. 

Kami memang begadang bersama, tapi yang terjaga lebih lama hanya aku. Sinar matahari yang mulai masuk ke celah-celah rumah temanku saat itu, membuatku terdiam sesaat. Matahari ternyata benar-benar sudah terbit. Padahal, rasanya waktu belum berlalu lama, sejak terakhir aku melihat matahari terbenam. Meski sudah semalam suntuk terbangun, mataku masih bisa bertahan. Tapi mengingat di siang hari itu pula kami harus pergi ke sebuah acara yang diadakan di sekolah, aku pun memutuskan memejamkan mata sejenak. Kegiatan di sekolah berlangsung dari siang hingga menjelang magrib. Lama-kelamaan, rasa kantuk mulai menyerangku. Berat! Mata ini (masih) kangen tidur.

Mungkin kalau berada di kondisi serupa, orang-orang Jepang akan melakukan inemuri: praktik tertidur dalam budaya Jepang yang dilakukan di tengah-tengah jam bekerja atau belajar. Jika biasanya kita merasa sungkan dan menganggap tidur di tempat umum itu aneh, orang-orang Jepang justru menganggap tidur di tempat umum itu yang lumrah. Sebagai negara yang sibuk, rata-rata orang dewasa di Jepang hanya memiliki waktu tidur sekitar enam jam. Orang yang melakukan inemuri justru akan dihargai dan dianggap sebagai pekerja keras karena merelakan waktu tidurnya demi bekerja. Waduh, di sini tukang tidur itu pemalas! Di kelas, tidur. Di bus, tidur. Di depan televisi, tidur. Di ruang rapat Senayan ber-AC, orang-orang hadir untuk tidur! 

Meski pada praktiknya sama-sama tertidur, inemuri berbeda dengan aktivitas tidur biasa. Mereka memang diperbolehkan tidur di tengah-tengah kegiatan, tapi mereka juga harus siap kembali ke situasi sosial jika kehadiran mereka dibutuhkan. “Hadir sembari tidur” atau sekilas mengingatkanku pada salah satu tahapan dalam tidur: tidur-tidur ayam. 

Foto: Danie Franco / Unsplash

Begitu sampai rumah, tak butuh waktu lama untukku bisa terlelap tanpa terbangun sama sekali hingga keesokan paginya. Seolah tubuhku sedang membalaskan dendam setelah tidak mendapat istirahat yang cukup. Kejadian kaget saat melihat matahari terbit terjadi lagi dua tahun kemudian. Sama-sama karena terkejar deadline, tapi kali ini aku begadang karena memang membutuhkan suasana yang tenang agar bisa merekam suara untuk tugas membuat video. 

Waktu lagi-lagi berlalu dengan cepat, terutama dari jam satu dini hari menuju enam pagi. Begitu melihat suasana di luar sudah kembali terang lewat jendela, aku hanya bisa tersenyum miris. Merasa lucu, seolah kembali ke situasi dua tahun yang lalu. Sekarang, begadang lebih sering kulakukan daripada sebelumnya. Meski, aku sudah berusaha menetapkan jam tidur yang lebih awal, nyatanya tanpa sadar aku selalu tertidur di atas jam dua belas malam. Bagiku, begadang tidak masalah selama memang yang dikerjakan itu berguna dan penting. Namun, aku memiliki musuh nyata yang membuatku begadang bukan karena tugas atau insomnia, tapi ponsel. Media sosial dan webtoon menjamin mataku melek dan melupakan tidur berkualitas.   

Meski sudah remaja, aku dianggap bisa mengatur tidur meski ibuku tetap mau menegur. Aku teringat keponakanku yang masih kecil. Ada kalanya mereka boleh bermain lama dan dibiarkan tidur tengah malam. Di lain waktu, jam-jam peristiwa harian ditegaskan. Pernah tidak, ya, keponakanku ingin cepat-cepat besar karena tidak ingin diatur-atur bahkan diatur soal tidur? Apakah hukuman tidur lebih awal setelah dimarahi membuat mereka kesal? 

Kita pasti pernah beranggapan dewasa itu enak, bisa menentukan waktu bermain dan tidur. Padahal, banyak orang ingin kembali menjadi anak-anak. Contohnya seperti postingan yang tak sengaja kutemukan saat sedang berselancar di media sosial, “Bagi anak-anak, tidur siang dan tidur malam tepat waktu adalah hukuman. Tanpa disadari ketika beranjak dewasa, tidur siang dan malam tepat waktu tanpa banyak hal yang dipikirkan merupakan hal yang diinginkan oleh orang dewasa.”  

Wahai geng rebahan, apakah ada yang mengganggu tidurmu?


Kurnia Pamungkas K., alumnus SALAM Yogyakarta, penggemar BTS, dan suka anime

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s