Menyapu dan Bertualang

Istikharoh

“KUAT. Anti Rontok. Anti patah” begitu tagline sebuah iklan sapu yang katanya termurah langsung dari pabrik.  

Sapu anti rontok dan anti patah itu, hanya resep ibu saya yang paling jitu. Kata ibu, memilih sapu itu seperti kita memilih baju, tidak hanya rambutnya yang diperiksa, tongkat bahkan warna pun menjadi indikator untuk menentukan cerita terbaik. “Setiap sapu selalu memiliki dongeng yang turun-temurun,” begitu petuahnya. 

Sapu itu ajaib. Setiap kali melihatnya, saya selalu terlempar ke belakang pada memori masa kecil, yang hangat. Saya selalu menanti momentum ketika ibu sengaja menyediakan dua sapu. Saya memahaminya sebagai kode bertualang di dunia imajinatif. Ibu akan menyapu sembari tersenyum manis, mata berbinar, dan langkah lamban di pagi hari. Saya melihatnya seperti malaikat yang bersinar terang seterang mentari, yang menampakkan wajah kemerahan di ufuk timur. Ia menyapu dengan langkah pelahan dan elegan di setiap sudut rumah dengan detail, hening, dan menenangkan. Kegembiraan terpancar. Menghanyutkan. 

Terkadang, saya bermain dengan gagah berani: menjadikan sapu sebagai kuda dan sepeda motor. Sesekali, saya jadikan tongkat alakadabra serupa tongkat ajaib Nirmala di “negeri dongeng” rutin dimuat dalam majalah Bobo. Ibu hanya tersenyum diam. Tidak ada kegaduhan suara ibu yang marah-marah seperti biasanya. Saat ia menyapu, suaranya pun mendadak menjadi merdu, tidak ada suara radio rusak yang kemresek atau terompet yang bernada tinggi yang disetel setiap jam dalam sehari. 

Ibu hanya tersenyum diam. Tidak ada kegaduhan suara ibu yang marah-marah seperti biasanya. Saat ia menyapu, suaranya pun mendadak menjadi merdu, tidak ada suara radio rusak yang kemresek atau terompet yang bernada tinggi yang disetel setiap jam dalam sehari.

Lucu bukan? Hanya saat menyapu saya merasakan cinta ibu yang tulus, cinta yang kata pepatah sepanjang jalan. Sisanya, saya mengenal ibu sebagai sosok yang sering lebih galak, mudah cemas, dan khawatir. Bahkan, saya juga pernah menemukan ia dengan wajah tegang memerah yang menakutkan. Hanya dengan menyapu, ibu mendongeng tentang kasih sayang dalam diamnya.

Apalagi saat ibu selesai membeli sapu baru, wajahnya yang teduh selalu saya tunggu dengan tidak sabar. Saya selalu menanti benda itu digunakan pertama kali oleh ibu. Dengan begitu, saya bakal ikut tertular kegembiraan yang dirasakannya. Aneh. Tapi memang begitulah ibu. Penuh kejutan.

Saya pikir ketika saya dewasa, saya akan mampu menyampaikan cinta kepada anak-anak dengan berbeda. Barangkali seperti di iklan-iklan televisi itu: bermain sepeda atau bermain tanah yang tidak takut kotor atau saat membacakan buku menggunakan media boneka-boneka lucu. Sayangnya, saya sama saja dengan ibu. Hanya di satu momen saya terlihat serupa bidadari dengan suara yang rendah tanpa amarah atau kekhawatiran berlebihan kala bersama anak-anak saat menyapu. Saya harus mengakui bahwa saya adalah cerminan ibu. 

Saya berperilaku mirip dengan ibu. Menyediakan dua sapu, membiarkan anak-anak bermain leluasa tanpa omelan panjang dan bernada tinggi. Begitu juga saat saya menyapu pelahan-lahan, saya bisa menikmati udara pagi atau debu-debu yang beterbangan dengan lamban penuh syukur. Anak-anak berpetualang dengan imajinasinya yang liar. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s