Sesungguhnya Guru

Yulia Loekito

Aku diam, percuma saja bicara dengan ibu kalau sedang dalam keadaan demikian. Biasanya kalau sudah kehabisan tenaga ibu baru berhenti berlatih. ‘Di desa kita ini tak ada orang yang pintar walau seorang pun. Dan tak ada seorang pun yang sanggup untuk menjadi seorang guru. Aku merasa kasihan melihat anak-anak itu berkerumun tak karuan, atau menjadi kuli di sawah-sawah orang lain. Di bawah terik matahari. Sementara kebodohan terus mengikut dirinya. Mereka sangat membutuhkan ilmu pengetahuan untuk modal dasar pembangunan pribadi mereka. 

(Endik S, Desa Baru, 1992)

Kita ingat Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi (Andrea Hirata) ketika membaca kutipan itu. Bu Muslimah di Belitung, sedangkan Bu Guru tua dalam buku Desa Baru itu bertempat tinggal di Jawa. Jauh sebelum buku Laskar Pelangi diterbitkan, ternyata cerita guru mengabdi pada murid sudah pernah ada. Walaupun buku bukan berdasarkan kisah nyata, melainkan imajinasi penulis. 

SD dalam cerita baik nyata maupun imajinasi adalah sekolah swasta walau tumbuh di masa yang berbeda. Bu Guru tua dalam buku Desa Baru merintis sekolah di daerah Cirebon sejak masa pendudukan Jepang dengan kisah-kisah perjuangan jadi tawanan Jepang. Sedangkan Bu Muslimah mengajar di SD Muhamadiyah Gantong, yang nyaris tutup jika tak ada murid kesepuluh. Sekolah di masa Orde Baru. 

Guru-guru mengabdi demi murid, dorongan mengentaskan murid dari kebodohan. Guru-guru merasa kasihan akan nasib murid-murid, tak ingin melihat mereka jadi kuli, buruh, atau pekerja kasar lain. Kesenjangan sosial mungkin jadi salah satu pemicu pemikiran dan pengabdian. Pendidikan diterjemahkan kurang lebih sebagai penghapusan buta aksara dan pemindahan ilmu pengetahuan. 

Orang pintar disebutkan Bu Guru tua dalam kutipan adalah orang yang pernah makan sekolahan, belum termasuk pinisepuh desa yang paham tradisi dan kenal baik dengan alam. Masa depan baik itu identik dengan modernitas, keadaan ekonomi yang membaik, tetapi belum banyak disinggung soal tumbuhnya spiritualitas, ketulusan, kejujuran, atau suka cita memberikan diri untuk kehidupan. 

Masa depan baik itu identik dengan modernitas, keadaan ekonomi yang membaik, tetapi belum banyak disinggung soal tumbuhnya spiritualitas, ketulusan, kejujuran, atau suka cita memberikan diri untuk kehidupan.

Pada kisah pewayangan tak tampak ada sekolah-sekolah tapi banyak nasihat dan pembelajaran. Sri Kresna dan Bismadewabrata adalah dua tokoh dalam Mahabharata yang jadi panutan. Dalam setiap peristiwa, sejak Pandawa masih bocah sampai mereka terjun dalam perang Bharatayuda, wejangan-wejangan kehidupan tak hentinya dituturkan oleh para pinisepuh tersebut. Menjelang ajalnya di Kurusetra, Bismadewabrata pun masih menjadi guru: mengingatkan Kurawa untuk berhenti berperang dengan pandawa saudara sepupu mereka sendiri dan memberikan haknya. Padahal waktu itu Bisma berperang di pihak Kurawa. 

Namun guru tetaplah guru. Kita boleh membandingkan pengabdian guru-guru dengan tokoh pewayangan. Pengabdian bermaksud dan bermakna baik, tapi dengan tujuan yang perlu ditinjau ulang dari waktu ke waktu. Sudahkah menyentuh inti kebaikannya? Benarkah alasan pendidikan baik semata-mata untuk masa depan murid? Masa depan seperti apa? 

Fariz Alnizar menulis di Jawa Pos, Sabtu 24 Juli 2021, yang berjudul “Anak-anak, Permainan Tradisional, dan Tikungan Zaman”. Kutipan yang berkaitan: “Hegemoni bekerja dengan cara yang dingin dan ajaib. Anak-anak di lempitan ketiak pelosok desa bisa dengan fasih menirukan harlem shake, gangnam style, goyang PPAP, dan pelbagai macam jingkrak-jingkrak ala idola mereka meskipun tanpa pernah sama sekali bertemu langsung dan menatapnya.” 

Dengan perkembangan teknologi yang tak terbayangkan oleh Endik S, pada tahun 1992, guru masa kini tak berpikir memberantas kebodohan dalam arti buta huruf, guru masa kini berhadapan dengan persoalan-persoalan hati nurani. Apa kira-kira pendapat Bu Muslimah dan Bu Guru tua, ya? Begini lanjut Fariz Alnizar: “Pelan-pelan anak-anak kita berubah menjadi pribadi-pribadi yang berwatak barbar.” 

Pernyataan Bu Guru tua dalam buku: “… ilmu pengetahuan untuk membangun modal dasar pribadi mereka.” Pernyataan yang perlu direvisi menjadi: “Pemupukan hati nurani adalah yang utama untuk membangun pribadi anak-anak.” Sebab, orde yang telah berubah dan zaman makin membingungkan. 


Yulia Loekito, kolektor buku anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s