Internet: Hidup-Mati di Tangan Kutipan

Irfan Sholeh Fauzi

ZARRY Hendrik pada mulanya sekadar selebtwitter kebanyakan. Dia mencuit dan para pengikutnya me-retweet. Tapi, sebagian pengikut begitu terobsesi pada tweet-tweet Zarry yang dianggap romantis. Mereka minta dibuatkan. Zarry bersedia lalu terjadilah transaksi. Belakangan, saking banyaknya pesanan “jasa rangkai kata”—konon mencapai ratusan pesanan dalam sehari, Zarry merekrut karyawan dan mendirikan bisnis. Namanya Kapitulis. Kapitulis menerima pesanan komersil maupun pribadi. Mulai dari slogan, teks iklan, siaran pers, permintaan maaf pada pasangan atau orang tua, pesan sayang, sampai nama bayi.

Untuk takarir (caption),mereka mematok harga sekitar 50.000-400.000 rupiah. Di Instagram, batas maksimal takarir adalah 2.200 karakter. Twitter lebih ringkas lagi, 280. Kapitulis didirikan Januari 2019 (kumparan.com, 28 Agustus 2109) dan di berita yang dimuat detik.com pada 13 Januari 2019, dari jasa merangkai kata ini, Zarry mengaku telah mendapat pemasukan hingga 40 juta. “Ada stigma kita (penulis) tidak bisa memberikan (nafkah pada—pen.) istri dengan kata-kata, tapi ternyata saya bisa,” kata Zarry. Kutipan memberi Zarry dan istri hidup kenyang.

Pada 6 Juli 2019, di Twitter, Zarry mengunggah salah satu takarir pesanan klien yang hendak melangsungkan lamaran. Takarir itu dibuka dengan kalimat: Sungguhlah mimpi jadi nyata bukan kisah yang bohong-bohong/ Aku sudah lama mendengarnya, akhirnya turut merasakan. Saya tebak, takarir itu dibanderol ratusan ribu rupiah. Sungguh bukan tebakan yang sekadar bohong-bohong meski saya belum pernah turut merasakannya.

Dua tahun kemudian, koran Solopos (26 Juli 2021) menurunkan berita soal rangkai-merangkai kata, “Kutipan-Kutipan Keiza”. Keiza Abraham, si rajin mengunggah “kutipan” asmara. Ketika tulisan ini dibuat (26 Juli 2021, 23:46 WIB), ada 1,3 juta akun yang mengikuti instagram Keiza. Mereka selalu sendu dan galau tiap membaca unggahan Keiza. Dari kutipan yang mampu menerbitkan air mata jutaan orang, Keiza bisa menghasilkan jutaan rupiah saban bulan. Dan Keiza bersyukur,  “Ya bersyukur kira-kira pendapatannya 10 juta rupiah per bulan.”  Kita juga ikut bersyukur pada rezeki Keiza. Barangkali Keiza perlu membuka jasa selayaknya Kapitulis agar makin bersyukur dan terhindar dari petaka yang akan membuatnya sangat nelangsa. “Dahlah. Cukup gapunya pacar ya jangan sampai gapunya duit,” tulis Keiza di unggahan Instagram 5 Januari 2021. Unggahan ini bertagar #quotes, #katakatabijak, #quotesremaja, #penyambutsenja, dan masih banyak lagi. Ayo Keiza, semangat bikin kutipan!

Namun, apa yang dikerjakan Kapitulis dan Keiza sebenarnya kurang tepat kalau disebut sebagai “kutipan” atau “quotes”. Barangkali “aforsime” lebih patut. Mereka agaknya tak mengutip suatu buku atau suatu tulisan. Kecuali kalau kita segera meralat bahwa media sosial telah menambah makna dari kutipan. Bukan lagi nukilan buku, melainkan tulisan-tulisan ringkas yang mengaduk emosi. 

Di lini masa media sosial, setiap detik adalah “kutipan”. Saya mengerjakan tulisan ini pada pergantian hari. Di dini hari seperti ini, bahkan tagar #quotesindonesia selalu kedatangan unggahan baru tiap satu menit. Salah satu “quotes” teranyar itu berbunyi: kopi tanpa gula pahit/ hati tanpa Allah sempit. Kita berprasangka, sebelum membuka instagram, si pengunggah ini pasti habis salat tahajud. Keningnya masih basah.

Tidak ada masa yang lebih dibombardir “kutipan” ketimbang hari-hari ini. Dulu, kutipan cuma menempel di tembok, kaus, esai, pamflet, dan lain-lain dengan jangkauan teritorial amat terbatas. Media sosial, terutama Instagram, dengan tagar-nya kini bisa menjangkau banyak orang. Bahkan, ada saja orang yang membikin akun-akun Instagram berisi kutipan. @Caknunquotes sampai tulisan ini dibuat memiliki 622 ribu pengikut. Mereka tak perlu memelototi puluhan buku atau ribuan jam pengajian Cak Nun. 

Tidak ada masa yang lebih dibombardir “kutipan”ketimbang hari-hari ini. Dulu, kutipan cuma menempel di tembok, kaus, esai, pamflet, dan lain-lain dengan jangkauan teritorial amat terbatas.

Apa yang bisa dicapai dari ini? Saya tak tahu persis. Barangkali orang butuh penyemangat hidup yang ringkas, padat, dan cepat. Atau mungkin kutipan itu bisa jadi pintu masuk orang-orang buat membeli buku-buku si penulis. Kutipan lebih mengundang daripada sinopsis?

Kalau pembaca pernah mengunjungi kios buku yang juga menjual buku-buku bajakan, cobalah ingat-ingat nama penulis-korban itu, lalu cari tagarnya di Instagram. #caknun memiliki 616 ribu unggahan, #fiersabesari ada 588 ribu, #tereliye 708 ribu, dan #pramoedyaanantatoer punya 100 ribu unggahan—bayangkan, #luhutbinsarpandjaitan saja hanya punya 5000 unggahan! Tentu tidak semua unggahan berkait langsung dengan penulis yang disebut, tapi seiyanya kita bisa yakin, jumlah itu menunjukkan sesuatu. 

Saya belum pernah nemu, tapi yakin saja kalau pasti ada orang yang membeli sebuah buku hanya bermodal kutipan yang kebetulan memapar mereka. Meski saya lebih yakin lagi kalau ada saja orang yang mencukupkan diri dengan membaca kutipan, tak perlu membaca buku-buku. Ya, terserah saja, setiap manusia punya kegemaran masing-masing.

Cuma kalau begitu, kita patut kasihan pada penulis-penulis itu. Tanpa pembaca tekun, kutipan sekadar gema. Bunyinya hanya itu-itu melulu. Ingat-ingatlah, berapa kali dalam hidup kita menemukan kutipan Pramoedya yang berbunyi: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”? Bayangkan, dari ratusan ribu atau mungkin jutaan kalimat yang pernah ditulis Pramoedya, hanya kalimat itu yang abadi! Mungkin sudah waktunya sekarang kita berdoa, mengirimkan Al-Fatihah pada Pramoedya, sembari berpesan: “Halo, Pram, ternyata kamu enggak abadi-abadi banget, kok.”


Irfan Sholeh Fauzi, pembaca buku dan produsen bualan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s