Mesin Dagang Kutipan

Uun Nurcahyanti

KUTIPAN berutang ketenaran pada teknologi media sosial. Twitter, instagram, dan status WA mengantarkan quotes tersaji dalam keadaan fresh dan masih hangat untuk disantap. Rangkaian kata dianggap penuh makna menjadi komoditas penting era milenial. Tsunami kutipan menyihir nyaris setiap pengguna media sosial merasa berkebutuhan untuk mengonsumsi kutipan. Kegirangan dan takjub kata menggerakkan kutipan. Pengutip saling berbagi temuan quotes. Kutipan mengalir jauh seperti air sungai Bengawan Solo dalam lagu ciptaan Gesang: “Kutipan mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut…”

Kutipan itu bisnis emosi! Di tangan para motivator dan selebgram berpikiran jeli, kata-kata dirangkai dengan lihai demi tanda like dan pengumpulan massa pengikut. Quotes rajin menyambangi fans sebagai sebuah respons simbiosis-mutualisme sosial. Kutipan mesti membuai dan membuat pembaca “baper”. Beragam rasa teraduk-aduk menandai kuasa kutipan atas keberlangsungan ikatan antara selebgram dan folllower-nya. Kutipan menawarkan usapan rasa sayang, perhatian serta pengertian atas pemaknaan hidup yang serba terhimpit timbunan masalah. Pembelajaran daring, turunnya gairah ekonomi, masalah percintaan, bahkan rumah tangga. 

Kutipan bagai mantra tolak balak juga pelipur lara, kesepian juga kesedihan. Berkurang dan terkekangnya interaksi sosial membentuk kepanikan kultural. Kutipan diseduh sebagai ramuan mujarab demi menjaga kewarasan psikologi serta mental. Di tengah berita virus corona dan dukacita kematian yang semakin kerap, kutipan dianggap air suci penyejuk jiwa, penghilang duka nestapa. 

Kutipan bagai mantra tolak bala juga pelipur lara, kesepian juga kesedihan. Berkurang dan terkekangnya interaksi sosial membentuk kepanikan kultural. Kutipan diseduh sebagai ramuan mujarab demi menjaga kewarasan psikologis serta mental.

Dulu kutipan didapati pembaca dari buku bacaan atau pidato di ruang mimbar kenegaraan, keagamaan, atau beragam upacara adat. Juga pertunjukan kesenian tradisional. Lagu daerah rajin menggenapi dunia bahasa anak lewat tamsil dalam lirik. Kutipan ditemukan dengan girang di serakan bacaan. Rangkaian kalimat menancap di benak rasa pembaca sebab ditemui dalam ruang pembacaan. Di sana ada gerak mencermati dan niteni. Mengingat dengan teliti. Mengait-hubungkan, lalu mengikatnya sebagai ajaran hidup. Sering tak serta merta terpahami. Pengalaman hidup menggenapi pemaknaan kutipan. Tak seperti makanan cepat saji yang terhidang, lantas lekas disikat. 

Para orator, pendeta, pendakwah, pencerita, dan penulis tak melakoni kerja kata demi harapan dikutip pendengar dan pembaca. Apalagi hasrat menghasilkan puluhan juta rupiah per bulan lewat penjualan kutipan. Kerja kata adalah pengabdian: sering dianggap suci dan keramat. Sebab, pewahyuan dari Tuhan adalah kerja kata. Saat kutip dan mengutip diselubungi kuasa ekonomi dan hasrat ketenaran, kutipan menjelma serupa mesin dagang saja. 


Uun Nurcahyanti, esais dan pengoceh di Pare, Kediri, Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s