Di Kereta “Cerita”

Yunie Sutanto

KERETA api semasa aku masih kecil itu kegirangan. Girang jika diajak bapak ke Stasiun Kota menjemput tamu. Bukan tamunya yang dinantikan, tetapi pemandangan jajaran kereta api di peron. Girang bukan main jika mobil di jalan itu berhenti karena tertutupnya palang. Dengan mata terbelalak, kunantikan lewatnya sang lokomotif. Girangnya hati menatap kereta melintas seperti melihat atraksi sirkus. Tak heran, ada tokoh kartun berwujud lokomotif bernamaThomas yang digandrungi bocah-bocah. Kereta api memang dicintai anak-anak. Sayangnya, mainan kereta-keretaan merupakan barang mewah yang tak semua anak bisa memiliki. Aku beruntung bisa memainkannya di rumah salah satu temanku. Walau hanya numpang ikutan bermain saja sudah bahagia. 

Antusiasme yang dimiliki anak generasi 1960-an terhadap kereta api juga bisa kita ketemui dalam kisah Na Willa garapan Reda Gaudiamo. Dul, temannya, yang begitu nekad meloncat ke kereta yang melaju, hingga suatu kali ia kecelakaan dan kehilangan kakinya. Kurang perhatiankah Dul hingga bermain-main dengan nyawanya? Kurang kasih sayangkah ia sehingga tak tahu batas antara bahaya dan aman? 

Masa kecil memang masa menabung cinta. Lewat memori indah masa kecil, itulah bekal dan tabungan untuk perjalanan di “stasiun-stasiun kehidupan” berikutnya. Betapa merananya anak-anak yang masa kecilnya kurang bermain dan kurang kasih sayang. 

Keluarga berfungsi itulah keluarga bahagia, tempat kasih dinyatakan dan tempat cinta dirayakan. Liburan keluarga dengan pulang kampung naik kereta api. Betapa bahagianya bapak memberikan amplop berisi tiket kereta untuk kami sekeluarga. Ia tahu bahagianya bocah-bocah bisa naik kereta api. Kami memeluk bapak dan mengecup pipinya berkali-kali saking bahagianya mau naik kereta! Perjalanan belasan jam di kereta terasa sekejap mata. Kulihat beraneka pemandangan berkelibatan dari jendela. Sawah, sungai, pohon, dan antrean mobil berhenti karena palang kereta mempersilakan kereta kami lewat. 

Namun di suatu pemberhentian stasiun, ada pemandangan yang tak biasa. Dua orang muda-mudi berpelukan begitu erat. Kurasa aku pasti sesak nafas jika dipeluk sekencang itu. Lalu, mereka berciuman sebelum berpisah. Air mata terlihat di wajah si pemudi saat melepas sang pemuda naik kereta. Aku tak pernah berpikir naik kereta itu menyedihkan hingga kusaksikan sendiri adegan pilu ini. Kupikir selama ini naik kereta selalu menyenangkan. Pemuda itu naik kereta dengan sedih hati seolah terpaksa. Aku heran. 

Kereta masih dalam biografiku masa remaja. Studi wisata ke Jogja dengan Argo Bromo. Zaman cinta monyet. Ingin duduk dekat si kakak kelas. Sayangnya, pembagian kursi diatur ibu guru. Semua menurut dan manut.  Curi-curi pandang ke arah deretan kursi kakak kelas. Berharap bisa bertemu mata. Sekejap saja! Kubawa bekal beberapa novel menemaniku agar tak diusik konco jika sedang ingin menyendiri dan lirik-lirik gebetan. Makanan kereta lumayan enak. Nasi goreng yang harganya paling terjangkau walau cukup mahal bagi anak sekolahan. Sayangnya, mahal di kantong tapi rasa biasa saja. 

Kereta di masa pacaran. Masa libur kuliah dan bersama tunangan naik kereta. Mengunjungi nenek dan memperkenalkan calon suami. Berdua saja di sepanjang perjalanan kereta. Masa-masa belum sah memang penuh godaan. Sejenak pikiranku teringat pada sepasang muda-mudi yang enggan berpisah dulu. Yang berpelukan erat enggan terpisahkan. Barulah kusadari eros itu seperti magnet utara dan selatan yang saling tarik-menarik. Baru kumengerti, mengapa muda-mudi itu dulu berpelukaan begitu erat. Film seri Kabut Cinta menggambarkan dengan apik bagaimana sepasang kekasih terpisahkan karena perang. Yiping yang mengantar kepergian Hsu Huan ke medan perang dengan penuh cinta. Yi Ping yang menantikan Hsu Huan kembali dari medan perang hingga kereta terakhir dan gerbong terakhir tiba. Cinta yang terpisahkan kereta amat memilukan hati. 

Kereta di masa pacaran. Masa libur kuliah dan bersama tunangan naik kereta. Mengunjungi nenek dan memperkenalkan calon suami. Berdua saja di sepanjang perjalanan kereta. Masa-masa belum sah memang penuh godaan.

Naik kereta di masa menikah itu sensasinya beda dengan masa pacaran. Tetap berdua saja, tapi rasanya lain. Lebih serunya menikmati obrolan berkualitas bersama suami. Apapun jadi obrolan. Tidak ada lagi sensasi deg deg ser zaman pacaran. Tak perlu! Masa mabuk kepayang sudah berlalu. Cinta kami lebih rasional dan saling menjaga. Naik kereta belasan jam tak terasa jika bersama suami. Apapun diobrolkan. Koran dan buku yang kami bawa untuk bekal bacaan hanya disentuh saat salah satu dari kami tertidur. 

Naik kereta masa mengasuh anak. Kami pun naik kereta bersama anak-anak. Pada peristiwa bersama anak menikmati kegirangan mereka naik kereta. Perjalanan ke Kebun Raya Bogor sengaja ditempuh dengan kereta. Anak- anak tak pernah tak girang naik kereta. Kereta rute Jakarta-Bogor saja membuat mereka sangat antusias. Tak usah ditanya saat naik kereta cepat Shinkansen di Tokyo. Girangnya bukan main! Antusiasme Laura Ingalls saat pengalaman pertamanya menaiki kereta api terlihat di wajah bocah-bocahku. Tak ada kata repot untuk bersama mereka naik kereta api. Cinta orangtua pada anak-anaknya tentu ingin membahagiakan walau repot beboyongan bawa balita dan bayi sekalipun. 


Yunie Sutanto, penulis di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s