Keluarga dan Kuburan

Bandung Mawardi

SENJA di kuburan, 29 Juli 2021. Angin sudah terasa dingin. Dua lelaki membakar daun-daun kering. Asap itu putih. Aku menziarahi keluarga. Di kuburan baru, membaca doa. Hari-hari berlalu, pamitan itu masih teringat. 

Sekian hari lalu. Magrib sejenak mengharukan, 23 Juli 2021. Aku di ruang tamu dalam rumah sederhana di Blulukan, menunggu menit-menit untuk sinau bersama teman-teman di pelbagai tempat. Di hadapan laptop, aku bakal mengoceh bertema kampung. Di situ, ponakan-ponakan menangis lega mendapat kabar baik dari rumah sakit. Kondisi Yu Cathis dikabarkan membaik. Aku pun menikmati sinau bersama belasan orang. Malam. Aku pulang ke rumah di Tanon Lor, lelah dan berharapan kebaikan. 

Berbaring sekian menit. Kabar itu sampai. Yu Cathis pamitan. Malam makin dingin. Aku duduk menunduk. Ikhtiar untuk ikhlas. Malam, aku menuju rumah di Blulukan. Rumah selalu kujadikan tempat menggelar sinau dengan para ibu, remaja, dan mahasiwa. Rumah untuk selalu bertemu Yu Cathis: bercakap dan berbagi tawa selama menanggungkan wabah. Rumah mengikatku dengan biografi keluarga dan masakan buatan Yu Cathis.

Rumah selalu kujadikan tempat menggelar sinau dengan para ibu, remaja, dan mahasiswa. Rumah untuk selalu bertemu Yu Cathis: bercakap dan berbagi tawa selama menanggungkan wabah.

Keluarga dan tetangga berkumpul. Malam itu keharuan. Yu Cathis pamitan setelah sekian hari di rumah sakit. Keluarga berusaha ikhlas. Anak-anakmu menangis. Aku melihat dan bersedih tak keruan. Malam itu bimbang.

Obrolan-obrolan kecil dan doa. Kita menunggu kedatangan jenazah. Pukul 2 dini hari, kita bergerak menuju depan masjid. Di jalan, angin makin terasa dingin, makin sedih. Keluarga dan sekian orang mengadakan shalat jenazah di depan ambulans. 

Foto: Kotagauni Sriniva / Unsplash

Shalat usai dan tangisan. Kita bergerak ke kuburan mengantar Yu Cathis. Kuburan menjelang 3 dini hari. Di langit, bulan bundar dan terang. Orang-orang berpakaian khas menguburkan secara cekatan. Di depan gundukan tanah, kita berdoa. 

Aku memanggilmu Yu Cathis. Sekian orang memanggil Mbak Ningsih dan Bu Ningsih. Perempuan bernama lengkap Sri Setyaningsih. Pamitan dalam usia 53 tahun, meninggalkan empat anak dan 3 cucu. Yu Cathis menghuni kuburan, berkumpul lagi dengan Pak Dirin, Mbok Jinah, dan Mas Sumedi (Bandung Sumedi). 

Yu Cathis pamitan bahagia. Kita pun ikhlas. Kita meneruskan biografi keluarga. Yu Sri (Sri Rominah), Mas Gun (Bandung Gunadi), Mas Bandung (Bandung Kusnadi), Mas Pur (Bandung Purwadi), dan aku (Bandung Mawardi) masih membuat cerita-cerita selama di dunia.

Kita berkumpul setiap malam membaca Al Quran dan mendoakanmu. Aku selingi dengan memenuhi janji menggelar sinau-sinau di depan laptop. Sabtu, 24 Juli 2021, aku sinau bersama para mahasiswa UNJ. Minggu, 25 Juli 2021, aku sinau bersama para remaja di pelbagai kota. Senin, 26 Juli 2021, aku sinau bersama ibu-ibu tinggal di Jogjakarta. Selasa, 27 Juli 2021, aku sinau bersama ibu-ibu tergabung dalam Jemaah Selasa. 

Aku menganggap sinau-sinau di rumah Blulukan memberi ingatan dan kaitan dengan Yu Cathis. Sekian bulan, Yu Cathis mengerti ulahku selaku adik-ragil. Sinau pun sejenis doa untuk Yu Cathis. Di rumah Yu Cathis, sinau menjadi ikhtiar berpengetahuan dan berdoa. Aku masih bakal selalu berada di rumah Yu Cathis, sinau dan sinau. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s