Dengarlah Suara Kasur!

Vima SM

KENAPA suara kasur? Aku mempunyai beberapa jenis kasur untuk tulisan ini. Kalau kalian penasaran, bacalah sampai akhir. Kalau kalian tidak penasaran, maka jangan baca tulisanku yang berharga ini. Tidak akan berguna!

Yah, sebenarnya kasur yang paling akrab dan paling sering kutemui adalah kasur yang memiliki per, alias spring bed. Hampir semua kasur yang dipakai di rumahku adalah kasur per. Jadi, sekalipun aku pindah kamar ke kamar orangtuaku, atau adikku, atau anjingku –bercanda anjing –kasurnya akan tetap sama, kasur per. 

Kasur per memiliki suara yang unik. Mungkin karena sama-sama memiliki per, suara kasur per mirip dengan motor bebek kepunyaan papaku. Tentu saja, bunyinya bukan bunyi mesin motor yang vroom vroom vrooooom seperti itu. Bunyinya itu seperti ada sebuah decitan atau mungkin seperti cicitan tikus. Ketika kita menghenyakkan diri di atasnya, sambil tubuh yang terpantul akan terdengar bunyi seperti cit cit ncit cit dari kasur itu. 

Tetapi menurutku, kasur per yang baru itu lebih tidak berbunyi daripada kasur per yang sudah berumur tua, yang sering dipakai, sering diinjak-injak, dan dilompat-lompati oleh kaki-kaki kuat yang suka melompat (mungkin bisa dibilang seperti sejenis gajah pelompat walaupun aku tidak percaya gajah bisa melompat). Ya, kasur per itu akan jauh lebih banyak mengeluarkan bunyi ketika sudah lebih sering dipakai. 

Kasur per di kamar orangtuaku, misalnya, dulu aku dan adik laki-lakiku hampir setiap malam akan bermain perang-perangan menggunakan guling-guling kesayangan sambil melompat-lompat, berguling, berjungkir balik, dan lain-lain. Kami memberi nama permainan itu “jiak-jiakan”. Sebab, setiap salah satu dari kami menyerang, kami akan berteriak “jiakk!”. Maka, sekarang kasur per di kamar orangtuaku akan selalu berbunyi cit cit ncit cit ketika ada seseorang yang menghenyakkan tubuhnya atau menginjakkan kakinya di sana. 

Barusan aku berlari untuk mengecek, apakah yang kuceritakan tentang kasur per di kamar orangtuaku ini benar. Ternyata memang benar! Aku melangkahkan kaki ini ke atasnya. Badanku mulai terpantul-pantul seperti berada di trampolin. Kasur mulai bersuara ncit cit cit ncit seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Dengan kepuasan tersendiri, aku tersenyum. Oh, aku menulis tentang kebenaran, bukan hanya berdasarkan ingatanku yang sangat pendek –seperti kursi yang ada di rumah nenekku, sangat pendek. Akhirnya, dengan bangga aku kembali duduk dan menulis. 

Ada suara lain yang sering kudapatkan dari kasur per ketika aku sedang membereskan kamarku atau sedang mencari barang yang hilang. Yaitu suara seperti debaman benda besar yang padat, ditambah dengan suara seperti deritan yang keras (berbeda dengan decitan sebelumnya). Itu adalah suara kasur ketika digeser dari tempatnya semula dan ketika dikembalikan ke tempatnya semula. 

Semua akibat diriku yang selalu menjatuhkan barang ke sela-sela kasur, dan terpaksa harus menyeret kasurku untuk mencarinya karena bawah kasurku terlalu sempit untuk dilalui. Gara-gara itulah aku jadi bisa mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh kasur per. Jadi, ketika aku menggeret kasur itu untuk berpindah tempat, ia akan mulai berbunyi drrrrt drrrrt drrrrt. Kemudian, aku mencari-cari barang itu dan tidak sengaja menyenggol kasur yang mengganggu tanganku dan mataku yang sedang mencari. Maka, akan terdengar lagi suara drrrrt drrrrt drrrrt.

Yang terakhir ketika akhirnya aku berhasil menemukan barang yang kucari atau tidak berhasil menemukannya, aku mengembalikan kasurku yang tentu saja mengeluarkan bunyi drrrrt drrrrt drrrrt lagi untuk yang ke sekian kalinya. Akhiran yang bisa dibilang memuaskan yaitu debaman keras yang berbunyi seperti gajah dijatuhkan (walaupun sebenarnya aku tidak pernah melihat gajah dijatuhkan). Dum, begitu bunyinya. Bila bunyi debaman itu sudah terdengar, aku merasa lega karena akhirnya kegiatanku menggeser kasur sudah selesai. 

Sebenarnya, ada suara lain yang bisa muncul dari kasur per ini, yaitu suara teriakan. Ketika aku mengunjungi salah satu rumah temanku yang di kamarnya juga terdapat kasur yang terbuat dari per, dengan senang hati aku langsung merebahkan diri di kasur temanku. Ternyata, ada sebuah kawat besi yang berukuran seperti tusuk sate (tetapi tidak tajam tentu saja) mencuat keluar dan tepat mengenai punggungku. Seketika itu juga aku langsung berteriak kesakitan dan langsung terbangun untuk mencari hal sialan yang dengan beraninya menusuk punggungku. Kutemukan kawat itu dan langsung merintih untuk kedua kalinya sambil memegangi punggungku. Temanku hanya tertawa. Ia juga pernah tertusuk oleh kawat itu. Untungnya setelah itu dia melapisi tempat tidurnya dengan selimut tebal supaya kami tidak tertusuk lagi. 

Ya, itu adalah kasur yang paling sering kutemui sekarang, kasur per. Mungkin sebenarnya ada banyak suara lain yang kudengarkan dari kasur per, tetapi akan lebih baik bagi kita untuk menceritakannya kapan-kapan saja. Jadi mari kita lanjut ke kasur berikutnya.

Kasur ini adalah salah kasur yang membuatku penasaran. Bagaimana rasanya tidur dan bermimpi di atasnya: kasur gantung. Sebab, sudah beberapa kali aku melihat di Go*gle, Pint*rest, Instagr*am, dan media sosial lainnya tentang kasur gantung, aku jadi sangat penasaran. Tertarik, dan ingin punya satu saja di rumahku. 

Bayangkan saja tempat tidurmu itu seperti ayunan yang diikat di sudutnya. Kemudian bisa diayun-ayunkan layaknya ayunan asli, tapi itu tempat yang bisa digunakan untuk tidur. Kalau seperti yang sering adikku lakukan, yaitu berkhayal, kita akan seperti berada di negeri peri, seperti di cerita-cerita dongeng yang sering kita dengarkan. Dengan diselimuti dedaunan, bunga-bunga, dan tanaman-tanaman merambat, kita tidur dengan anggun di atas tempat tidur gantung. Ya, khayalan!

Mungkin suara yang akan terdengar dari kasur gantung ini adalah ketika kita mulai menaikinya. Maka, terdengar suara ikatan-ikatan tali yang awalnya lentur dan lemas, kemudian mulai mempererat kaitan satu sama lain dan menjadi kaku. Bersiap siaga untuk menopang tubuh yang akan menaikinya dan supaya tidak jatuh. Dzzt dzzt, begitu suaranya sesaat. Mungkin terkadang kita tidak menyadarinya ketika menaiki kasur gantung tersebut, tetapi memang begitu suaranya. Suaranya seperti kabel listrik yang sedang berdengung. Bedanya, suara yang kali ini tidak membuat dirimu tersetrum listrik dan menjadi manusia listrik. 

Mungkin terkadang kita tidak menyadari ketika menaiki kasur gantung tersebut, tetapi memang begitu suaranya. Suaranya seperti kabel listrik yang sedang berdengung. Bedanya, suara yang kali ini tidak membuat dirimu tersetrum dan menjadi manusia listrik.

Di rumah tanteku yang ada di Jogjakarta, ada sebuah tempat tidur gantung. Berbahan kain parasut dan bukan anyaman seperti yang sering kubayangkan. Kasur gantung itu terasa sangat ringan dan dingin. Dan, tempat menggantung tempat tidur itu berada di antara pagar balkon. Pada saat aku sedang merebahkan diri di situ, sering terdengar gesekan tali yang mengikatnya ke pagar balkon itu.

Tetapi, aku rasa akan terasa sedikit menyusahkan bagiku untuk tidur di tempat tidur gantung, sekalipun tempat tidur itu terlihat sangat unik dan indah. Sebab, aku adalah tipe orang yang harus selalu bergerak ketika sedang tidur. Aku juga tidak bisa diam di satu tempat saja, selalu berusaha menyamankan posisi tidurku. Maka akan sangat lucu ketika aku tidur di kasur gantung itu dan aku bergerak terus. Yang kemudian membuat kasur itu terus berayun sampai akhirnya menjatuhkanku ke bawah. Kasur gantung itu akan terlihat lebih baik jika dijadikan tempat untuk merebahkan diri dan membaca buku darpada untuk tidur dan bermimpi.  

Mari kita berganti jenis kasur saja. Kasur ini selalu diberi label oleh otakku sebagai kasur yang terkesan mewah tapi sekaligus mengerikan. Kasur yang terbuat dari bulu angsa. Membuatku teringat pada cerita Laura Ingalls, yang juga menggunakan kasur bulu angsa sebagai tempat tidur mereka. Mungkin memang pada zaman itu mereka sering menggunakan kasur bulu angsa sebagai tempat tidur mereka. 

Nenekku pernah bercerita bahwa dia pernah melihat dan merasakan sendiri kasur bulu angsa. Itu adalah kasur paling empuk yang pernah dirasakan oleh nenekku. Tapi dia berkata, dia tidak akan mau punya kasur seperti itu karena pasti akan repot kalau ada satu saja bagian yang robek. Bulu-bulu itu akan beterbangan, terhirup dan mengganggu pernapasan. 

Aku membayangkan, kalau kita menginjakkan kaki di atas kasur bulu angsa itu, kaki akan diselimuti oleh kelembutan. Sssssk, kita mendengar suara yang sangat anggun dari kasur itu. Kemudian, setiap kali kita melangkahkan kaki kita, mungkin suara ssssk akan terdengar lagi. Suaranya mungkin terdengar cepat tapi kalau kita mendengar dengan saksama akan terdengar suara yang awalannya pelan.

Tetapi, kalau aku tidur di atas kasur bulu angsa itu, mungkin aku akan mendengar suara-suara lain. Yaitu suara kaok angsa yang kesakitan karena diambil bulunya. Mungkin bisa saja aku tidak akan bisa tidur, mendengar kaok kesakitan yang mengerikan itu. Bayangkan saja, seekor angsa yang sedang menikmati hidupnya dengan bulu-bulunya yang sangat indah dicabut bulunya tanpa kasihan. Bukankah itu sangat tragis? Itulah kenapa aku tidak akan pernah mau dan tertarik dengan kasur bulu angsa. 

Baiklah, mari kita melihat kasur setelah ini, yang membuatku paling berdebar saat menulisnya. Kasur apakah itu? Tentu saja kasur air. 

Kenapa aku menaruh kasur air dalam daftar kasur-kasur yang aku tulis di tulisan ini? Semua berawal ketika aku menonton sebuah film horor di bioskop berjudul The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It. Ada sebuah adegan di mana ada seorang anak laki-laki bernama David Glatzel yang sedang menjelajahi rumah baru yang akan ia tinggali bersama keluarganya. Ia pun pergi menjelajah antara ruangan ke ruangan, kamar ke kamar, dan akhirnya menemukan sebuah kamar dengan kasur air tersebut. Dengan penasaran, ia berjalan pelan-pelan ke arah kasur itu sambil terus memperhatikan, dan menarik kain yang menutupi kasur itu. Dia mulai menyentuhnya dan menekan kasur itu sehingga air yang ada di dalamnya mulai beriak. Dia pun naik ke atas kasur itu dan mencoba berjalan di atasnya. Senang dengan kasur itu, dia mulai membaringkan tubuhnya. Tetapi, tahu-tahu ada kasur air itu kembali beriak, seakan-akan ada sesuatu yang mendorong dari bawah kasur air itu, tepat di sampingnya. Dengan rasa ingin tahu, David membalik badan dan melihat ke arah kasur air itu. Ia mulai meraba-raba kasur air itu dengan mata yang penuh penasaran. Ctaar, ada sebuah tangan berlendir warna gelap merobek kasur, menyambar tangan David dan mencengkeramnya. David berteriak dengan sekuat tenaga sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan itu dari pergelangan tangannya. Tetapi, tangan itu semakin kuat dan berusaha menariknya ke dalam kasur air. 

Sebenarnya tidak buruk kalau di masa depan aku akan mempunyai satu saja kasur air di rumahku. Bayangkan saja ketika kau tidur di atasnya, akan terdengar suara blubuk blubuk dari kasurmu. Pada saat bergerak, kamu merasa seperti kapal yang terombang-ambing di atas lautan.

Mari kita berganti kasur, yaitu kasur spon, atau kasur busa. Bukan busa gelembung yang bisa menjadi gelembung sabun, melainkan busa kasur yang teksturnya mirip dengan busa untuk cuci piring. Aku baru saja menonton cara pembuatan kasur busa. Ternyata itu sangat menarik! 

Mereka menuangkan beberapa cairan menjadi satu, menaruhnya di sebuah kotak yang terlihat seperti loyang, tapi dalam versi yang sangat besar. Cairan itu akan mengembang menjadi sangat besar seperti roti yang dipanggang. Setelah mengembang, mereka akan membuka cetakan kasur yang seperti loyang, dan menaruh cairan yang sekarang sudah menjadi busa yang lebih tinggi dari manusia pada umumnya di sebuah tempat. Mereka memotong-motong busa itu menjadi beberapa bagian dengan mesin pemotong. 

Suara busa sebenarnya juga enak kalau didengarkan terasa seperti gesekan-gesekan halus tetapi banyak. Suaranya juga mirip dengan suara kasur bulu angsa, tetapi ini terasa lebih ringan. Mungkin akan terdengar mirip dengan kasur angsa, tetapi kasur busa ini akan mengeluarkan suara yang terkesan lebih mantab dan cepat. Sebab, aku sudah sering menjumpai kasur busa. Suaranya sangat akrab di telingaku. Kasur itu akan bersuara sk sk sk kalau kita menginjaknya. 

Tetapi akan susah kalau kita mau melompat di kasur itu, bukan kasur yang memliki per. Kasur busa itu memiliki bahan yang meskipun terlihat tebal, tetapi kalau diinjak akan langsung kempis. Kaki kita akan mengenai lantai. Maka, aku tidak terlalu suka melompat di atas kasur busa, sama saja dengan melompat di lantai. 

Kalau pergi ke sebuah penginapan, kasur yang paling sering aku temui adalah kasur busa. Biasanya kasur itu akan ditata rapi untuk menyambut para penginap yang akan bermalam di situ. Sebenarnya, aku bukan seorang penggemar kasur busa, tetapi kasur busa yang ada di penginapan itu terasa sangat nyaman kalau dipakai untuk tidur, terutama setelah hari yang melelahkan. Mungkin memang suasana dari penginapannya yang membuat kita merasa nyaman dan tentram. 

Kalau berbicara tentang kasur busa, sekitar dua tahun yang lalu pada Temu Raya CM III, aku dan teman-temanku tidur di satu ruangan besar. Banyak sekali kasur busa untuk tidur, mungkin ada sekitar dua puluh kasur di ruangan itu. Mungkin pada saat itu aku dan teman-temanku tidak terlalu memperhatikan jenis kasur apa itu, tetapi kami sangat senang karena bisa tidur di ruangan yang sama.

Ada banyak kasur busa yang bertengger di memori otakku. Tetapi, kasur yang terakhir ini yang yang paling banyak memiliki memori di otakku: kasur angin.

Kita sudah sampai pada kasur yang sedang aku pakai saat ini, yaitu kasur angin. Kasur angin memiliki suara yang unik, sangat unik lebih tepatnya. Mau tahu seperti apa? Maka belilah kasur angin! Bercanda. Kasur angin memiliki dua bunyi yang paling sering kudengar, yaitu bunyi derit berat yang kalau tidak didengarkan baik-baik akan terdengar seperti kentut, dan bunyi gesekan halus karena pada bagian atas kasur angin terdapat lapisan yang halus seperti beludru. 

Kita sudah sampai pada kasur yang sedang aku pakai saat ini, yaitu kasur angin. Kasur angin memiliki suara yang unik, sangat unik lebih tepatnya. Mau tahu seperti apa?

Mari kita mulai dari suara yang kedua. Suara itu bisa kita dengar kalau kita tidur di atas kasur angin dan menggerakkan badan kita. Terdengar suara sssss seperti desis ular kalau kita menggesekkan tangan kita ke kasur angin tersebut. Ketika kita ingin menyamankan diri kita saat tidur dan mengubah posisi tidur kita, suara desisan itu juga akan terdengar.

Kalau suara pertama adalah suara yang ditimbulkan karena bagian bawah dari kasur angin itu tidak memiliki lapisan halus seperti bagian atasnya. Jadi hanya seperti karet yang licin. Bila aku bergerak untuk mengubah posisi tubuhku agar lebih nyaman akan terdengar suara brrtktk brrtktk. Ya, memang kalau telinga kita tidak saksama akan terdengar seperti suara kentut yang aromanya luar binasa itu. Kalau kalian ingin membuat suara seakan-akan kalian sedang kentut, pakailah kasur angin! Itu akan sangat mempan.

Pernah pada sebuah malam, aku dan sepupuku sudah hampir tertidur, aku yang masih merasa kurang nyaman di posisiku terus berguling ke kanan, ke kiri, kemudian ke kanan lagi, dan terus bergerak. Tentu saja akan terdengar sedikit berisik. Setiap aku menggerakkan tubuhku, suara sssss dan brrtktk brrtktk akan selalu terdengar. Itu membuat sepupuku merasa terganggu tidurnya, dan dia mulai berbicara dalam setengah sadar dengan kesal, “Kok berisik banget, kenapa sih?”Aku kira dia sedang bermimpi dan mengigau. Aku tertawa sambil terus diiringi dengan suara-suara dari kasur angin tersebut, yang membuat sepupuku makin merasa terganggu. “Woi, kenapa tambah berisik sih!” katanya lagi. Itu yang membuatku berpikir bahwa ternyata suara dari kasur itu bisa membuat tidur orang terganggu, dan membuatku untuk selalu berisik setiap kali aku berada di kasur anginku. 


Vima SM, remaja berencana menjadi filosof tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s