Dinding dan Kesebalan Ibu

Grace 

ORANG-ORANG pernah menyebut ada istilah “dinding yang bertelinga.” Nah, kali ini, aku mengatakan padamu tentang dinding yang bercerita. Bagaimana aku bisa tahu? Sebab, akulah si dinding yang akan menceritakan padamu. Duduklah dengan posisi yang nyaman dan dengarkan ceritaku!

Pertama-tama, aku ingin memperkenalkan diri. Aku sebuah dinding rumah yang mulai lahir sejak keluarga kecil Tuanku dibentuk. Bukan terbuat dari gelondong kayu seperti dalam kisah Laura yang dibacakan Nyonya untuk anak-anaknya. Tapi, bukan juga dinding raksasa seperti yang ada di Istana Ibu kota.

Foto: casaindonesia.com

Aku dibuat untuk melindungi manusia agar mereka bisa beristirahat dengan tenang kala panas dan hujan. Baik mereka sedang ada di dalamku maupun tidak. Ketika mereka sedang ada di dalamku, maka aku hanya bisa berdiam diri: mendengarkan setiap suara yang muncul di dalamnya. Ketika mereka sedang pergi atau terlelap. Maka, kami (aku dan bagian-bagianku) akan saling menceritakan kisah kami masing-masing.

Aku dilahirkan tepat sebelum keluarga kecil ini terbentuk. Aku mengenal mereka dengan sangat baik. Kehidupan sebuah keluarga yang hanya dimulai berdua: Tuan dan Nyonya. Kemudian berkembang menjadi tiga, empat, dan selanjutnya. Siapa saja yang pernah bertamu dan apa tujuan para tamu itu datang, aku mengetahui semua. Dari semua percakapan itulah, aku mengambil simpulan: manusia itu rumit. Apa saja sepertinya dibuat rumit. Dan, seringnya itu menjadi sumber masalah.

Dari semua percakapan itulah, aku mengambil simpulah: manusia itu rumit. Apa saja sepertinya dibuat rumit. Dan seringnya itu menjadi sumber masalah.

Mari kuperkenalkan dulu anggotaku. Dinding ruang tamu. Paling tidak, dulunya dia ruang tamu. Jauh-jauh hari sebelum kaummu diserang korona. Namun, akibat korona dan pertimbangan bahwa tamu yang datang tidak pernah berada di ruang tamu, ruangan kecil itu dialihfungsikan sebagai ruang buku. Pernah suatu hari aku melihat sofa dan kursi tamu diangkut keluar lalu dinaikkan oleh mobil bak terbuka. Setelahnya, aku tak pernah melihatnya lagi.

Seluruh bagianku berwarna putih gading. Di ruang tamu yang biasanya terpasang foto keluarga maupun atribut agama, itu tidak tampak pada dirinya. Pernah ada seorang tamu melayangkan pandang dan bertanya: “Kok gak ada salib atau pohon Natal?” Aku baru tahu ada orang yang menanyakan itu. Sebab, Tuanku yang pertama, aku tidak punya pengalaman akan hal itu. Namun, ternyata itu dijawab dengan mudah oleh Tuanku: “Keimananku pada Tuhan tidak perlu ditunjukkan dengan simbol keagamaan.” Baiklah, akan kucatat itu. Soal foto keluarga, mereka memasangnya di pigura. “Sayang temboknya kalau berlubang,” kata Tuanku. Oh, ternyata ia sayang padaku! Tapi, toh dia tetap melubangiku di beberapa titik untuk dipasang lukisan dan alat untuk olahraga.

Tidak banyak peristiwa terjadi di situ. Paling-paling hanya sesekali waktu anak Tuanku diminta duduk di sebuah kursi, ada yang menangis sesenggukan, kadang ada yang sambil memberontak, tetapi mereka harus patuh duduk di sana sampai bisa tenang. Lalu, ketika mereka dipanggil lagi, mereka akan meninggalkan kursinya dengan senyum di bibir. Didisiplinkan, istilah yang aku dengar untuk itu.

Anggotaku yang lain, dinding ruang keluarga, yang paling gagah dan besar dari semua: tempat aktivitas sehari-hari. Dinding paling sibuk dan banyak mendengar cerita. Celoteh sang anak pada orang tuanya. Para anak saling bermain maupun bertengkar lalu diomeli oleh si Nyonya, bercampur suara berita dari televisi, hingga cerita sang tamu pada Tuan rumah. Tampilannya sederhana. Awalnya, rapi dan bersih sama seperti yang lainnya. Hanya ada satu foto pernikahan Tuan dan Nyonya. Namun ketika mulai muncul anak pertama, kedua, lalu ketiga, mulailah tampak bekas kreativitas mereka. Mulai dari lukisan abstrak tak berbentuk beraneka warna, hingga tempelan macam-macam hiasan di sana sini. Si Tuan sempat memarahi anaknya karena tidak taat untuk hanya mencoret di kertas saja.  Akhirnya, diambil keputusan bahwa nanti aku akan dibersihkan lagi pada saatnya. Aku lega mendengarnya. Aku hanya perlu bersabar.

Sebuah kamar tamu, yang juga ikut alih fungsi menjadi kamar kerja. Dia sekarang tidak kesepian lagi karena sekarang setiap hari Tuan selalu berada di sana, dari pagi hingga petang. Dinding yang ditempeli stiker motif anak-anak menjadi kontras dengan meja kerja, komputer, dan printer hitam gagah di sana. Ada juga sebuah speaker yang selalu melantunkan lagu-lagu sepanjang hari. Mulai dari lagu rohani, klasik, jazz, pop, sampai lagu anak-anak terdengar. Tergantung bagaimana suasana hati si Tuan saat itu. Mungkin jika ada pertandingan tebak lagu antar dinding, dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Lain lagi dengan  dinding dapur yang jadi satu dengan ruang makan. Tubuhnya dihiasi dengan aneka peralatan masak. Wajan, susruk, dan saringan tertempel padanya. Juga ada rak yang memang dipasang untuk menampung bahan masakan. Minyak, tepung, susu, semua terpasang di bagian atasnya. Tak lupa, masih ada beberapa coretan abstrak anak Tuan, maksimal satu meter tingginya dari lantai. Nah, kalau ada lomba memasak antar dinding, mungkin dinding ini yang akan menang, karena dia sering mendengar rebus, goreng, kukus, daun salam, kunyit, dan ketumbar.

Dinding kamar utama sangat sederhana. Tidak ada foto maupun lukisan di sana. Hanya ada satu atau dua coretan kreativitas sang anak, namun tidak banyak. Dan itu juga karena anak-anak akhirnya sudah menempati kamarnya sendiri, dinding gipsum dengan hiasan kertas dinding bertema kartun dengan warna pastel yang terkelupas di beberapa tempat karena tangan usil si kecil.

Nah, sampai mana ceritaku tadi? Oh ya, soal manusia itu rumit cara berpikirnya. Aku menyimpulkan dari suara yang kudengar sendiri, peristiwa sehari-hari baik dari Tuanku maupun dari tamu-tamunya. 

Dulu, sewaktu anak-anak Tuanku masih tidur bersama orangtuanya, pembagian tempat tidur adalah si anak pertama dengan Tuanku di ranjang atas. Anak kedua dengan Nyonya di ranjang yang di lantai. Suatu hari, anak kedua sudah tertidur, lalu Si Nyonya beranjak ke ranjang atas bersama anak sulung. Tuan masih ada di luar kamar. Ketika Tuan masuk ke kamar hendak tidur, dia melihat bahwa istrinya ada di kasur atas, sambil menepuk ranjang di sebelahnya. Yang terjadi kemudian adalah Si Tuan mengambil bantalnya, menggumam sesuatu yang tidak terdengar untukku, lalu pindah ke kamar tamu. 

Cerita selanjutnya adalah mereka tidak saling berbicara hampir dua minggu lamanya. Beberapa waktu kemudian, dinding dapur menceritakan padaku bahwa dia mendengar Nyonya sedang menelepon temannya. Nyonya mengungkapkan kekesalan hatinya. Merasa bahwa suaminya sudah tidak sayang lagi padanya. Pada malam itu, ternyata Nyonya sedang ingin bersikap romantis pada suaminya. Maka ketika anak bungsunya tertidur, dia pindah ke atas, dengan anggapan masih ada tempat untuk dirinya dan suaminya, dia berharap bisa mendapat pelukan malam itu. Namun yang terjadi kemudian adalah si Suami marah lalu pindah ke kamar tamu. 

Entah karena akhirnya tidak tahan atau telah mendengar masukan dari teman yang diteleponnya (dinding dapur tidak bisa mendengarnya karena telepon tidak di loudspeaker), lalu si Nyonya masuk ke ruang kerja dan berkata pada suaminya. Sekarang giliran dinding ruang kerja yang bercerita. Si Nyonya mengungkapkan kekesalan hati beberapa waktu lalu pada Tuan, sambil menahan air mata. Tuan berdiam diri sejenak, lalu meraih tangan istrinya dan meminta maaf. Tuan berkata bahwa hari itu dia sangat tertekan dan sedang banyak pikiran karena sedang ada masalah pekerjaan. Jadi, ketika dia hendak beristirahat untuk melepaskan pikiran, dirinya melihat bahwa tempat yang seharusnya nyaman sekarang terlihat sesak ditempati oleh istrinya. Kasur di bawah ada anak bungsu yang tidur melintang, membuat dia merasa sangat kesal. Sehingga, Tuan memutuskan untuk pindah ke kamar tamu yang lebih luas untuk merebahkan dirinya.

Begitulah yang terjadi, akhirnya mereka berpelukan dan saling meminta maaf. Kemudian mereka mengunci pintu kamar. Yang terjadi kemudian rasanya tidak perlu kuceritakan, biarkan saja bayanganmu bekerja. Kau manusia sudah sangat ahli untuk berimajinasi. Masalah sederhana, bukan? Namun karena gengsi dan imajinasi dan asumsi pikiran mereka sendiri membuat masalah itu harus bertahan selama dua minggu. Ah, betapa rumitnya pikiran manusia itu.

Grace, ibu tergabung dalam Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s