Kutipan yang Memiskinkan

Indri Kristanti

MEMBACA sebuah artikel di suningsih.net oleh Irfan Sholeh Fauzi berjudul “Internet: Hidup-Mati di Tangan Kutipan”, terkutip: “Untuk takarir (caption), mereka mematok harga sekitar 50.000-400.000 rupiah. Di Instagram, batas maksimal takarir adalah 2.200 karakter. Twitter lebih ringkas lagi, 280.” Ternyata hanya untuk sebuah tulisan pendek yang mungkin tidak sampai 10 kata bisa dibandrol sedemikian rupa. Orang berduit yang ingin postingan-nya terbaca, cenderung memakai jasa pembuat takarir. Mereka tidak percaya diri atau sebenarnya malas untuk menuliskan sesuatu, bahkan untuk sebuah produk yang mereka jual sendiri. 

Pengguna media-sosial masa kini, cenderung hanya membaca judul utama yang terpampang pada gambar yang diunggah di Instagram, meski berita/caption yang terkandung di dalamnya sama sekali berbeda. Hal yang sama juga terjadi di judul-judul berita media elektronik. Istilahnya sekarang sebagai pancingan-klik (click-bait) untuk menarik pembaca. Saling mengkopi-tempel dan mencuit-ulang (retweet) kutipan terjadi besar-besaran, kalimat demi kalimat indah dan menohok dari berbagai tokoh besar. 

Tak jarang, Twittermenjadi area mengetrenkan sebuah topik karena mudahnya suatu kutipan (meski salah) dicuitkan ulang oleh para pengguna lainnya. Bahkan saking mudahnya mencuit-ulang, hanya perlu mengklik sebuah ikon, sebuah kutipan yang tidak berbobot dan bahkan yang berbau rasis ataupun adu domba bisa langsung dicuitkan oleh beribu-ribu pengguna hanya dalam hitungan detik. Bisa dihitung dalam waktu satu jam, berapa juta orang di dunia yang bisa membaca dan terpengaruh hanya oleh sebuah kutipan dan hanya dari satu orang.

Sadar atau tidak pemiskinan literasi terus terjadi di era digital sekarang. Sebuah kutipan dari sebuah buku dianggap mewakili buku. Bisa jadi lebih didewakan sepenggal kutipan daripada melihat esensi keseluruhan buku. Para pengutip yang memajang di media-sosial lebih dikenal, popular di khalayak. Mereka mendulang rezeki lewat sepenggal kalimat dari buku yang dikutipnya.  Meski pengarang buku tersebut (bisa jadi) dikenal di dunia maya, ironisnya  buku yang dikarangnya hanya berdiam di rak-rak toko. 

Sadar atau tidak pemiksinan literasi terus terjadi di era digital sekarang. Sebuah kutipan dari sebuah buku dianggap mewakili buku. Bisa jadi didewakan sepenggal kutipan daripada esensi keseluruhan buku.

Pembaca internet tak lagi butuh bukunya, mereka hanya butuh kutipan-kutipan yang diunggah oleh pihak ketiga. Bagaikan kutukan yang terulang dari hari ke hari, pemiskinan literasi terjadi di generasi muda. Buku-buku teks/pelajaran hanya berisi poin-poin singkat untuk dihafalkan dan dimuntahkan saat ujian. Bukan lagi sebuah buku memperkaya ilmu dengan gizi baik, melainkan bagaikan buku remah-remah yang tidak menyehatkan pikiran dan jiwa. 

Buku-buku bermutu dan tebal menjadi momok. Mereka menghindarinya. Membaca puluhan halaman saja tidak sanggup apalagi untuk menyelesaikan sebuah novel 300 halaman lebih merupakan hal yang mustahil. Pembaca merasa sudah bisa hidup dan memahami keseluruhan sebuah buku hanya melalui sebuah kutipan pendek. 

Seperti yang ditulis oleh Uun Nurcahyanti dalam artikel bertajuk  “Mesin Dagang Kutipan”, jualan kutipan juga berlangsung di area kerohanian. Dalam kurun waktu singkat, para pelayan rohani, pendeta, pendakwah, motivator menjadi penjual kutipan: “Saat kutip dan mengutip diselubungi kuasa ekonomi dan hasrat ketenaran, kutipan menjelma serupa mesin dagang saja.”  

Ayat-ayat dari kitab suci yang seharusnya sakral dijadikan objek jualan, ditumpangi tambahan kalimat yang menggerakan pembaca untuk bersedekah. Semakin banyak kutipan yang menggerakan hati dan jiwa, berarti makin banyak pengikut (follower), berbanding lurus dengan banyak rupiah yang dihasilkan. Para pengikut yang jumlahnya ribuan merasa tidak perlu lagi membaca kitab suci, dirinya sudah cukup “rohani” hanya membaca kutipan. Akhirnya, kitab suci tergantikan oleh kutipan para pesohor. Religiositas tidak lagi hidup karena iman kepada Tuhan, tapi hidup karena kutipan (orang lain).  


Indri Kristanti, Ibu tergabung di Jemaah Selasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s