Pameran dan Peredaran Kutipan

Eva Musdalifa

KUTIPAN menggeliat dalam ruang formal pun nonformal. Ruang formal itu sebut saja ruang perkuliahan menghasilkan tugas akhir. Skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah menghukumi wajib keberadaan kutipan. Tanpa kutipan tulisan bisa dianggap tidak ilmiah karena hanya mengandalkan subjektivitas penulis atau kalau tidak disebut plagiat bila tidak menyertakan sumber kutipan. Kutipan dalam ruang ini memiliki nama karib sitasi. Bedanya dengan kutipan yang umum ditemui, mensitasi suatu tulisan disyaratkan untuk tidak sama persis dengan sumber yang disitasi untuk menghindari plagiasi, pencatutan dengan tanpa perubahan sedikit pun. Semakin sering suatu kutipan (tulisan) disitasi akan menaikkan “rating” tulisan tersebut. 

Pada akhirnya, urusan mengutip dalam karya tulis ilmiah adalah urusan seni. Terikat dalam aturan harus menyertakan nama terakhir penulis lengkap dengan tahun tulisan. Jika dikutip dari buku harus disertai pula dengan halaman buku. Seni tak kalah penting dalam mengutip di ruang formal ini adalah seni meramu untuk menciptakan suatu narasi baru tanpa mengubah substansi makna dari yang dikutip. 

Perihal kutipan, pemandangan sedikit berbeda saya temukan di beberapa tugas akhir tesis dan disertasi di perpustakaan kampus saat mengumpulkan sitasi masih menjadi sebuah rutinitas. Pada bagian prolog, masing-masing bab biasanya akan dipamerkan sekian kutipan yang entah diambil dari kata-kata filosof, kata-kata bijak, potongan hadist atau terjemahan ayat. Kutipan sebagai pengantar pembaca sebelum membaca inti atau isi bab sehubungan dengan penelitian. Keberadaan kutipan setidaknya mengurangi sedikit rasa kaku pada tugas akhir yang harus sesuai dengan aturan baku yang ada. 

Dalam ruang nonformal, kutipan bergerak mengikuti perkembangan zaman. Kumpulan kutipan bisa melahirkan suatu karya baru, misal, sebuah film. Sebaliknya dari sebuah film dapat melahirkan beberapa potong kutipan yang selanjutnya berseliweran di jagat media sosial. Penikmat film khususnya film Indonesia mungkin akan ingat bagaimana film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) menjadi salah satu film dengan jumlah penonton terbanyak pada tahun penanyangannya. 

Film tersebut diadaptasi dari sebuah buku yang ditulis oleh Marchella FP dengan judul sama, yang dalam ceritanya bukanlah sebuah buku dengan kisah seperti tergarap dalam film tapi hanya merupakan kumpulan quote  (kutipan/kata-kata bijak). Jauh sebelum film memberikan pembuktian keberhasilan capaian melalui penayangannya, buku ini telah melalui proses cetak ulang berkali-kali. Ini menunjukkan bahwa manusia menyukai motivasi yang related dengan kehidupan. Itu bisa mudah ditemui dengan membaca kutipan. Isinya meski singkat tapi ditulis pada kertas warna-warni sudah cukup berhasil mencuri hati pembaca. 

Ini menunjukkan bahwa manusia menyukai motivasi yang related dengan kehidupan. Itu bisa mudah ditemui dengan membaca kutipan. Isinya meski singkat tapi ditulis pada kertas warna-warni sudah cukup berhasil mencuri hati pembaca.

Keberadaan kutipan bukan hanya bergerak dari satu kutipan ke kutipan lain melahirkan suatu karya baru berupa film. Belakangan ini di Instagram amat mudah ditemui kutipan atau quote yang diambil dari dialog dalam “Drama Korea”. Polanya jelas, menampilkan kutipan dari salah seorang pemain dalam sebuah dialog, kemudian dilengkapi dengan foto pemain, nama yang diperankan serta judul drama. 

Melihat kutipan bermutasi demikian cepat, kelahiran kutipan yang menggandakan diri semakin banyak pun menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Sebuah pembuktian bahwa manusia membutuhkan kata-kata motivasi untuk menguatkan diri. Tak peduli benar sumber kutipan itu dari mana. Selama ia related dengan kehidupan dan memang lagi dibutuhkan untuk menguatkan maupun pembenaran, selama itu pula memperoleh anggukan, tanda cinta, jempol, dan share. Semudah mendapatkan berita saat ini. Cukup sekali klik, sudah. Jadilah! 

Yang terbaru, fitur reels yang sedang ramai di Instagram pun tidak lepas jadi medium untuk memperluas jaring penyebaran kutipan. Di reels, pengguna tidak hanya disuguhi foto pemandangan maupun video berupa tampilan diri, alam, bunga, dan  makanan. Ia juga tak lepas dari pamer kata-kata melalui kutipan. Tampilannya akan dipercantik dengan foto atau video yang tentu saja sudah melalui proses editing. Kita juga tak mungkin lupa dengan aplikasi tiktok, snack video, Helo, Twitter, atau sosial media yang sedikit lebih privat seperti Whatsapp yang turut menjadi medium menyebar kutipan. 

Kutipan bergerak dari halaman kaki buku tulis yang hampir setiap hari saya baca setiap kali mengerjakan tugas sekolah menuju halaman media sosial yang terus berbaik. Panen kutipan membuktikan bahwa eksistensi manusia ditemukan dalam kutipan. Semakin sering suatu kata-kata dikutip, semakin menunjukkan bahwa kutipan tersebut telah menyentuh lebih banyak orang dan meninggalkan kesan mendalam bagi orang lain. 


Eva Musdalifa, penikmat dan pengamat bacaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s