Film yang Berbeda, Sampul yang Berubah

Reni Apriliana

PAGI itu saya menemukan ulasan film tentang ronggeng yang diceritakan dengan begitu eksotik dan bikin penasaran di majalah lama. Sejujurnya, saya pun merasa asing dengan istilah ronggeng. Yang saya tahu adalah Tari Remo, tarian yang dimainkan oleh perempuan/laki-laki dengan atribut kuda lumping serta menggunakan musik tradisional yang diputar dari kaset. Biasanya dipentaskan dalam acara-acara pensi (pentas seni) sekalian pengambilan rapot di Surabaya. Selepas pindah ke Solo, akhirnya, saya bertemu dengan teman-teman penari yang jago bersolek dan mengolah tubuhnya. Dari situ, saya mengenal Tari Bedaya dari Solo, Lengger dari Banyumas, Jathil dari Ponorogo, dan lain-lain. Namun, di antaranya samar-samar saya mendengar kata “ronggeng”, apalagi bernama Srintil yang ada di Desa Dukuh Paruk itu. 

Pada malam perdananya sebagai ronggeng, Srintil menari di bawah nyala obor, dengan tabuhan gendang yang bertalu-talu. Ketika ia menghilang malam-malam, seluruh lelaki menerjang kegelapan dengan obor-obor di tangan. Mereka tidak mau kehilangan Srintil karena perempuan ini adalah milik bersama yang mesti diselamatkan. Rasus membawa lari Srintil dari laki-laki mabuk yang sedang mengintainya. Namun lemahnya motivasi kehadiran karakter Rasus membuat ketidakjelasan tersendiri mengenai alasan: mengapa dia memiliki pemikiran yang berbeda dengan teman laki-lakinya yang lain. Mengingat ia sedari kecil tumbuh di lingkungan masyarakat Dukuh Paruk, yang sama-sama bengis saat melihat ronggeng. Itulah gambaran dalam film Darah dan Mahkota Ronggeng garapan sutradara Yazman Yazid yang diproduksi pada tahun 1983 ini dinilai benar-benar belepotan.

Sebagai rumah produksi, Gramedia Film pada saat itu cenderung mengomersilkan film yang diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk gubahan Ahmad Tohari dengan adegan-adegan erotisme tubuh Srintil. Segala yang berkaitan dengan tubuh ronggeng seperti adegan upacara pemandian, pasang susuk, sampai dengan acara istimewa ketika Srintil dianggap melepaskan keperawanannya divisualisasikan dengan teliti oleh sutradara. 

Secara karakter, Srintil tampak terlampau vulgar, montok, dan surgawi untuk ukuran gadis yang tumbuh sederhana di Desa Dukuh Paruk. Yazman Yazid seolah terlalu mendramatisir segala yang berkaitan dengan Srintil dan tubuhnya melalui narasi kebudayaan sebagai latar belakang cerita. Jika memang demikian, muncul pertanyaan-pertanyaan, apakah tari ronggeng hanya menyoal pada tubuh perempuan? Mengapa laki-laki satu desa yang merasa memilikinya?

Jika memang demikian, … apakah tari ronggeng hanya menyoal pada tubuh perempuan? Mengapa laki-laki satu desa yang merasa memilikinya?

Ulasan mengenai film Darah dan Mahkota Ronggeng dalam majalah Tempo (1984), yang saya temukan saat Pengajian Film tiap hari Kamis di Bilik Literasi itu menarik perhatian saya. Ulasan yang mengantarkan saya untuk mencari tahu wacana tentang ronggeng yang diceritakan melalui film. Terlebih, katanya film tersebut terinspirasi oleh cerita dalam novel. Memang pada kenyataannya semesta penuturan karya sastra dan film adalah dua bentuk/bahasa yang berbeda. Karya sastra menuturkan cerita dengan bahasa, sedangkan film melalui audio-visual.

Lalu, bertemulah saya dengan film Sang Penari garapan sutradara Ifa Isfansyah yang diproduksi pada 2011. Dalam Sang Penari, Srintil bukan hanya hadir sebagai ronggeng. Dengan selendang tarinya, Srintil mengajak penonton memahami perjalanan tubuhnya, percintaannya, dan nuansa politik yang kuat pada tahun 1965. Keinginan Srintil untuk terus menari dengan menjadi ronggeng adalah pilihan yang dilematis. Tangannya sedari kecil sudah berayun-ayun ketika mendengar tabuhan gendang dari Sakum. Namun, menjadi ronggeng membuat Srintil mengalami gejolak batin. Ia tidak punya kendali atas tubuhnya pada ritual buka kelambu. Srintil ketakutan memeluk Rasus kekasihnya.

Menyoal kedua film di atas yang “konon” terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari sebagai penulis pun turut memberi komentar. Sejak diproduksinya Darah dan Mahkota Ronggeng 1983 sampai Sang Penari 2011, kedua film tersebut memiliki rentang waktu 28 tahun: “Hakikat ronggeng dalam buku saya tidak terlepas dari tradisi dan ritus setempat”. Pernyataan yang prihatin dan kecewa: “Rasus dan Srintil sudah menyimpang dari buku”. hal diucapkan saat menyaksikan shooting Darah dan Mahkota Ronggeng. “Judul film toh tidak sama dengan judul buku, hingga saya terlepas dari tanggung jawab moral,” kata Ahmad Tohari pada masa itu terlihat. Ia tidak ingin Ronggeng Dukuh Paruk kembali diangkat dalam film, andaipun diangkat ia akan menolak kerena pasti “akan bentrok”.

Komentar Ahmad Tohari berbeda setelah kemunculan film Sang Penari. Ada beberapa yang menjadi pujian meski ada sedikit kekurangan. Ia menitikberatkan kekurangan tersebut pada situasi dusun yang tidak mengalami kekeringan. Ifa Isfansyah menghadirkan kebun dan dedaunan singkong telah basah oleh air hujan tanpa sebab. Tanah tidak lagi dikencingi Rasus, Darsun, dan Warsa yang berusaha keras mengeluarkan umbi singkong semasa kecil. Namun bukan menjadi persoalan bagi Ahmad Tohari mengingat pujian terhadap Sang Penari dinilai lebih mewakili roh novelnya ke dalam film.

Pengarang itu berkomentar: “Saya kira roh novel cukup terwakili. Ada empati terhadap masyarakat kecil. Di beberapa bagian, saya salut terhadap film ini. Dramatisasi aspek politik, yang saya malah tidak terlalu berani, di film ini ada. Seperti adegan mayat mengapung, di novel saya tak ada.” Ahmad Tohari memberi penilaian terhadap keduanya atas kekecewaan dan juga kebanggaan. Bukan lagi erotisme yang dijual, Ifa Isfansya lebih mengedepankan kisah cinta antara Srintil dan Rasus sebagai nilai jual dalam film. Tampaknya, ada pergeseran nilai jual baik dari segi cerita maupun estetika ketika mengingat rentang waktu 28 tahun ketika kedua karya tersebut dilahirkan.

Bukan lagi erotisme yang dijual, Ifa Isfansya lebih mengedepankan kisah cinta antara Srintil dan Rasus sebagai nilai jual dalam film.

Kisah percintaan yang dihadirkan Ifa Isfansyah dalam film Sang Penari ditangkap jelas oleh kawan saya Candra Adi dalam kacamatanya sebagai penonton. Menurutnya, Sang Penari adalah film tentang kisah cinta yang tragis! “Kisah cinta antara Srintil yang menjadi Ronggeng dan Rasus seorang tentara yang tidak happy ending, meski mereka berdua saling mencintai tapi mereka tidak bisa bersatu,” ujar Candra. Cinta adalah poin utama yang ingin disampaikan sutradara dan itu telah ter-deliver dengan baik. Tapi, menurut saya, selain cinta, ada konteks sejarah politik yang mencoba dibuka oleh Ifa pada film tersebut: sejarah 1965 yang kelam dan pengaruh partai komunis yang mulai menguasai kawasan Dukuh Paruk. Bukan hanya Srintil yang mengalami pergolakan batin, tapi juga Rasus yang pada akhirnya harus melihat warga Dukuh Paruk ditahan oleh rekan militernya.

Bukan hanya Ahmad Tohari yang memuji keberhasilannya sebagai film terbaik, sutradara terbaik, sampai pemeran utama wanita terbaik berhasil diraih Sang Penari di ajang Festival Film Indonesia tahun 2011. Srintil memang primadona asli Dukuh Paruk, gaung kecantikannya bahkan bisa sampai ke desa seberang. Tapi, kilauan prestasinya di festival tidak mampu menjadi tolak ukur keberhasilannya di pasar (layar bioskop). Sang Penari pun tak masuk dalam daftar 10 film Indonesia terlaris 2011 yang dirilis oleh filmindonesia.or.id pada masa itu. 

Sebagai upaya memperpanjang ingatan film yang terinspirasi dari gubahan sastra, akhirnya novel Ronggeng Dukuh Paruk itu berganti cover. Terpampanglah gambar Srintil (Prisia Nasution) yang hendak berciuman dengan Rasus (Oka Antara) sebagai sampul buku. Hal demikian tak ubahnya memang tampak sebagai upaya agar terlihat lebih modern karena dilekatkannya gambar seorang artis. Strategi tersebut mungkin akan relevan untuk kaum muda zaman sekarang karena daya tariknya bukan lagi pada cerita, tapi memungkinkan juga pada gambar artis yang mereka kenali ketenarannya.


Reni Apriliana, Penikmat film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s