TTS: Hadiah dan Penjawab

Yuni Ananindra

DILAN memberi Milea kado ulang tahun berupa buku teka-teki silang (TTS) yang sudah diisi semua. Sampulnya bergambar foto perempuan Jepang yang sudah diberi tambahan kumis dan jenggot di wajah. Di situ, ada balon kata dari kertas, berisi kalimat ulang tahun yang seolah diucapkan si model Jepang. Katanya: “Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.”  Milea tersenyum lalu membuka lembar-lembar buku TTS, berharap ada ada sesuatu yang lain yang bisa ditemukannya. Milea menemukan sesuatu, yaitu secarik kertas. Isinya ucapan selamat ulang tahun dan pernyataan bahwa Dilan hanya memberi buku TTS, tapi sudah diisi semua. Ia menyayangi Milea sehingga tidak mau Milea pusing karena harus mengisinya. Kado itu sukses membuat Milea tertawa. Ia bahagia dan menganggap kado itu keren.

Tak banyak orang yang berpikir bahwa buku TTS yang sudah diisi semua bisa menjadi kado ulang tahun. Tapi saya kira, banyak penikmat TTS yang setuju bahwa bisa mengisi buku TTS hingga penuh, layak disebut pencapaian. Jangankan buku. Bisa menjawab satu lembar TTS tanpa sisa satu pertanyaan saja sudah senang bukan kepalang, apalagi jika pengisian itu mendapat hadiah. Sewaktu SD kelas enam, saya pernah menang dalam kuis TTS yang diselenggarakan oleh majalah, yang kalau tidak salah ingat, namanya Candra Gumbira, keluaran Dinas PendidikanWaktu itu, Bapak jadi guru SD sehingga saya bisa mendapatkannya. Namun sayang, hadiah itu tak berhasil dimiliki karena sepertinya mesti diambil ke kantor majalahnya. Sementara,  saya dan bapak hanya menunggu sampai lumutan, berharap hadiah itu akan dikirimkan. Bapak asing dengan jantung Kota Jogja dan tak berani naik sepeda motor sampai ke sana.

Namun sayang, hadiah itu tak berhasil dimiliki karena sepertinya mesti diambil ke kantor majalahnya. Sementara, saya dan bapak hanya menunggu sampai lumutan, berharap hadiah itu akan dikirimkan. Bapak asing dengan jantung Kota Jogja dan tak berani naik sepeda motor sampai ke sana.

Zaman SD, saya memang sudah lumayan gandrung dengan TTS. Suatu hari, pada masa 1990-an, saya mendapatkan oleh-oleh buku TTS dari kakak saya yang ketika itu kuliah di Semarang. Ketika pulang, ia membawa oleh-oleh yang tak biasa: buku TTS. Sampai sekarang, saya tak pernah bertanya ia beli buku TTS di mana. Buku itu tipis, isinya dari kertas buram, sampulnya gambar perempuan. Oleh-oleh itu menjadi sesuatu yang spesial. Saya sangat gembira karena mendapat kesenangan baru. Buku TTS itu terasa menjadi obat haus akan kata-kata ketika buku-buku cerita menarik di SD tempat saya sekolah tak seberapa jumlahnya. 

Ketika saya kelas empat, kakak saya yang sudah selesai kuliah, menikah lalu mengikuti suaminya, berumah di luar Jogja. Saya sedih.  Selain karena tidak akan berjumpa dalam waktu yang sulit diketahui hingga kapan, saya sedih karena  tidak ada lagi yang membelikan buku TTS. Tapi kehilangan itu harus dicukupkan dengan TTS di Bobo—majalah yang sudah saya kenal sebelumnya—sambil menikmati cerita-cerita di dalamnya. Majalah yang dibeli kadang-kadang saja itu biasa didapatkan di satu-satunya kios majalah di Pasar Bantul waktu itu, juga satu-satunya kios majalah yang dikenal bapak. Tapi tak terlihat bahwa kios menjual buku TTS. 

Dan ketika SMP, saya merasa mendapatkan harta karun ketika menemukan buku TTS sebagai dagangan di tempat fotokopi yang masih tergolong dekat jika dijangkau pakai sepeda. Saya beberapa kali membeli. Tapi umur dagangan itu hanya seumur jagung. Suatu hari, ketika saya masih belum meninggalkan bangku SMP, buku TTS itu sudah tak dijual.  Sedih lagi.

Zaman SMA, kesenangan akan TTS belum berhenti. Saya yang anak pelosok akhirnya bisa sekolah di SMA yang ada di kota kabupaten. Saya sudah bisa naik sepeda motor dan mulai bisa pergi sendiri ke kios majalah yang jaraknya terjangkau dari sekolah. Ketika SMA, saya menemukan dua kios majalah lain yang jualannya lumayan komplet. Saya seperti menemukan surga. Tabloid dan majalahnya pun macam-macam, membuat saya ngiler ingin membeli. Di situ ada juga buku TTS. Sudah pasti saya membelinya. 

Buku TTS itu macam-macam. Ada yang dari kertas buram, ada yang dari kertas putih (HVS). Ukurannya pun tak seragam. Ada yang ukurannya hampir sama dengan buku tulis standar, ada juga yang bentuknya sangat terlihat persegi panjang. Buat saya, membeli buku TTS tak bisa jadi urusan yang terlalu mudah. Ada dua hal merepotkan ketika membeli buku TTS. Yang pertama adalah memilih sampul, yang kedua adalah memilih isi. 

Buku TTS yang dijual di kios itu sampulnya selalu gambar perempuan. Apakah memang tidak ada gambar lain? Repotnya, gambar perempuan itu tak semuanya “baik-baik saja”. Beberapa pose maupun dandanan dianggap saru, seksi, atau porno. Itu menjadi masalah! Saya si remaja pemalu, lempeng,  dan penakut, harus repot memilih gambar sampul yang “sopan”. Saya harus memilih karena saya akan malu andai suatu saat kepergok punya buku TTS dengan sampul demikian. Setelah dewasa, saya jadi kepikiran, jangan-jangan, orang di rumah sebenarnya tak peduli. Sayangnya, itu sudah basi untuk dicoba.

Urusan pening nomor dua dari memilih buku TTS adalah isinya. Jika banyak pilihan tersedia, saya akan rela memusingkan diri selama sekian menit. Buku TTS tak selalu berisi teka-teki yang jawabannya adalah kata yang berhubungan dalam mendatar dan menurun. Ada pula kata berkait. Bahkan ada teka-teki angka. Maka petunjuknya bukan lagi mendatar, menurun, tapi kelompok angka yang isinya sesuai jumlah angka, misal 4 angka, 5 angka, atau 6 angka. TTS bisa ada yang berkunci jawaban, bisa juga tidak. Saya biasanya memilih yang isinya macam-macam biar tidak bosan. Saya juga suka memilih yang ada kunci jawabannya. Dengan kunci jawaban, beberapa pertanyaan tidak berhenti di rasa penasaran. 

Zaman SMA, internet sudah ada, tapi mesti ke warnet. Tentu tidak ada pikiran untuk pergi ke warnet “hanya” demi memecahkan jawaban TTS. Ke warnet biasanya untuk mengerjakan tugas atau sok-sokan  latihan chatting sekadaruntuk membayar rasa penasaran. Tapi saya merasa beruntung sempat mengalami masa-masa tanpa internet dan kecanggihan lainnya. Pengetahuan jadi lebih terasa berharga. Sekarang memang lebih mudah dengan internet. Tapi otak jadi manja, juga gampang lupa. Sedikit-sedikit tanya Google. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya untuk manusia malah ditanyakan kepada mesin. 

TTS menjadi penolong dalam hiburan dan pengetahuan. Berkat TTS, saya yang anak desa, akses bacaan dan informasi terbatas, bisa tahu istilah-istilah dalam pengetahuan umum yang waktu itu sangat terasa jauh dari bayangan. Menekuri banyak buku TTS membuat saya hafal beberapa pertanyaan dan jawabannya. Saya jadi tahu bahwa nama udang kering itu ebi. Nama itu terkesan lucu, seperti nama orang. Meski kemudian tahu sebutannya, saya yang masih anak-anak dan jauh dari dapur tak kenal dengan wujudnya. Setelah jadi orang dewasa, derajat keistimewaan itu menurun seiring dengan keakraban. Selain ebi, saya tahu pulau karang berbentuk cincin namanya atol.  Itu pelajaran geografi. Ada lagi hal yang saya jadi tahu, belut bertelinga disebut moa. Tak terpikir bahwa itu berguna atau tidak, tapi mendapat hal-hal baru senangnya bukan main.

Di Kompas, Minggu, 25 Juli 2021, ada #TTSBuahHati dalam rangkaiannya dengan Hari Anak Nasional. Di sekeliling kotak-kotak TTS Kompas dilengkapi dengan ilustrasi beberapa gambar anak dalam berbagai kegiatan. Tak lupa memakai masker. Itu TTS berhadiah. Daftar pertanyaannya lebih mutakhir dan berkembang dibandingkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku TTS itu. Cara pengisiannya pun bisa digital, tak melulu pakai pulpen. Orang tua diminta mengirim unggahan jawaban sekaligus foto mengisi TTS bersama buah hati ke Twitter atau Instagram, sembari menyertakan cerita tentang keseruan kolaborasi. Tak perlu dianalisis macam-macam. Artikan saja bahwa TTS memang seru dan layak dapat apresiasi. Zaman dulu, ketika media sosial belum marak, memang kegiatan unjuk keseruan dan kebahagiaan tak jadi model. Saya punya momen singkat bersama teman kuliah saat mengisi TTS, tapi tak pernah terpikir itu bisa jadi ajang bahan pamer yang setara piknik, atau peristiwa-peristiwa seru bin unik lainnya yang bisa dibanggakan di hadapan khalayak.

Lama-kelamaan, seiring bertambahnya usia, TTS agak tersingkir dari kehidupan. Skala prioritas telah menempatkannya di urutan buncit. Tapi jika ingin dikata bahwa TTS tidak menghilang dari hidup sehari-hari, tentu bisa saja. Meski kini saya sudah hampir meninggalkannya, tapi ia sesungguhnya tak benar-benar pergi. Hanya medianya yang bukan lagi kertas; pertanyaannya bukan lagi dalam bentuk mendatar-menurun. TTS itu telah berubah menjadi wujud yang lebih besar: pertanyaan-pertanyaan hidup. Ketika buntu dengan satu pertanyaan di TTS, memecahkan pertanyaan lain bisa jadi jalan keluar. Mengerjakan yang satu akan membuka jawaban yang kotaknya berhubungan. Tapi kadang-kadang tak ada petunjuk sama sekali. Hidup kadang juga begitu, bukan?

TTS berdiri dalam barisan kesukaan saya bersama cerita detektif, matematika, dan puisi. Keempatnya menyediakan misteri. Hanya itu yang saya butuhkan. Saya tetap mencintai mereka meski saya tak terlalu pintar untuk selalu bisa paham dan memecahkannya. 


Yuni Ananindra, penggemar kata-kata, ikut dalam Kaum Senin 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s