Rumah dan Pabrik

Bandung Mawardi

BU Ririn rajin membuka Kompas edisi Jumat untuk mengetahui harga-harga terjangkau. Minyak goreng diharapkan berharga murah. Bu Ririn biasa menggoreng tempe. Lauk kegemaran suami. Minyak goreng tersedia dekat kompor memberi kelegaan. Dapur tanpa minyak goreng mungkin teranggap absurd. Orang-orang Indonesia telanjur ketagihan minyak goreng.

Sejak masa 1950-an, industri minyak goreng bertumbuh di Indonesia. Pelbagai merek muncul, beriklan di majalah-majalah. Kaum ibu dan pedagang memerlukan mintak goreng diharapkan setia sebagi pengguna atau pelanggan. Pada masa berbeda, orang-orang suka membeli minyak goreng di pasar atau warung tanpa merek. Minyak goreng tanpa kemasan: plastik dan botol. Minyak goreng murah meski mengandung dampak-dampak buruk untuk kesehatan.

Pada masa Orde Baru ada pengajaran minyak goreng. Cerita dalam buku berjudul Bahasa Indonesia: Bacaan Jilid 3 B (1980) mengajak murid-murid mengerti cara pembuatan dan penggunaan minyak untuk menggoreng pisang. Ima membeli minyak ke warung Pak Amat. Di rumah, ia berkata: “Bu, Bu! Warna minyaknya kuning dan baunya wangi sekali.” Pengalaman bocah dengan rupa dan bau minyak. Ibu menjelaskan bila minyak itu buatan Bu Amat. Ima agak bingung dan penasaran: “Minyak yang kita beli di pasar, warnanya putih dan baunya tidak sewangi ini.” Ibu memberi penjelasan: “Nah, yang warnanya putih itu minyak pabrik. Artinya, minyak itu dibuat di pabrik.” Ima mulai membedakan minyak buatan rumahan dan pabrik. Ibu belum mengenalkan merek-merek. 

Di dapur, ibu berperan menjadi teladan dan pengisah. Ibu mulai bercerita agar Ima mengerti kebiasaan orang-orang masa lalu membuat minyak, tak selalu harus membeli ke warung atau pasar. Ibu bercerita minyak tanpa sebutan-sebutan merek dan harga. 

Kita mengutip tata cara membuat minyak: “Kelapa yang sudah tua sekali diparut kemudian diperas santannya yang kental. Santan itu dimasak dalam penggorengan besar. Sesudah kira-kira satu setengah jam akan keluar minyaknya. Jangan tergesa-gesa diangkat. Tunggu sampai mengendap. Endapan itu dapat dimakan dan lezat sekali rasanya. Kalau endapan itu sudah berwarna kemerah-merahan, barulah diangkat. Kemudian disaring. Nah, sudah jadilah minyak itu. Endapannya dapat dimakan begitu saja atau dengan nasi untuk lauk pauk.” Ima mendapat cerita dari ibu. Tempat berpengetahuan di dapur. Ima belum memiliki pengalaman membuat minyak, cuma membantu ibu membeli minyak ke warung tetangga.

Kesibukan membuat mintak di rumah mulai jarang dilakukan. Pabrik-pabrik telah memberi kemudahan. Produksi minyak dari pabrik dijual di warung, toko, atau pasar. Ibu-ibu memilih membeli gara-gara murah atau mengurangi kerepotan di rumah. Di pabrik, tak ada adegan ribuan buruh memarut kelapa. Mesin-mesin digunakan dalam membuat minyak. Penjelasan ibu: “Padahal pabrik itu harus menghasilkan minyak sebanyak-banyaknya untuk dikirimkan ke tempat-tempat lain. Kita membuat minyak sendiri sekadar untuk keperluan setempat atau keperluan kita sendiri.” Masa demi masa, pabrik telah memudahkan urusan-urusan ibu di dapur. 

Ima mendengar dan berpikir. Keinginan membantu ibu di dapur malah mendapat pengetahuan. Di dapur, Ima sedang membentuk biografi sebagai perempuan mengerti beragam urusan memasak. Di akhir cerita, pembaca menemukan pembuktian peran Ima di dapur: “Sementara itu pisang sudah dikupas. Setelah minyaknya mendidih, Ima boleh membantu menggoreng pisang itu untuk minum teh sore hari itu.” 

Pada saat kita mengikuti percakapan ibu-anak, terlihat gambar-gambar sederhana: parut, baskom kecil, saringan, tungku, kompor, wajan, baskom, dan botol. Kita mengingat benda-benda di dapur itu milik masa lalu. Kini, dapur telah memiliki benda-benda baru. Ibu-ibu pun memilih membeli minyak goreng dengan sekian merek setelah terbujuk iklan atau pembuktian dari tetangga. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s